Teror bagi Satu Generasi yang Diberikan Film Pengkhianatan G30S/PKI

Teror bagi Satu Generasi yang Diberikan Film Pengkhianatan G30S/PKI
info gambar utama

Peristiwa Gerakan 30 September atau G30S menjadi sejarah kelam Bangsa Indonesia. Bahkan kejadian yang terjadi pada tahun 1965 ini diangkat dalam sebuah film berjudul Pengkhianatan G30S/PKI garapan Arifin C Noer.

Film ini diproduksi pada 1984, atau sekitar 19 tahun setelah kejadian yang menewaskan tujuh jenderal Angkatan Darat. Skenario film ini didasarkan tulisan sejarawan militer Nugroho Notosusanto berjudul Tragedi Nasional Percobaan Kup G30S/PKI di Indonesia.

Dimuat dari Solopos, sinopsis film ini berkisah tentang kudeta seputar 30 September 1965 yang dilakukan oleh Kolonel Batalyon Cakrabirawa. Diceritakan sekelompok tentara mengepung sebuah rumah di Jalan Hasanuddin 53, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Wajah-wajahnya terlihat garang dengan senjata laras panjang di tangan. Dari dalam rumah, seorang perwira TNI AD, Brigadir Jenderal Donald Isaac Panjaitan tidak panik. Beberapa kali dirinya merapikan pakaian agar tak terlihat kusut.

Film Janur Kuning, Pencitraan Soeharto dalam Serangan Umum 1 Maret 1949

Tentara yang sudah masuk dan menguasai lantai 1 rumah semakin galak, tembakan dilepaskan. Namun Panjaitan tetap tenang. Para tentara tersebut meminta segera bergegas naik ke truk menemui presiden.

Bagi Panjaitan, seorang jenderal diundang ke Istana oleh gerombolan tentara tentunya tidak lazim. Tetapi dalam todongan senjata, dirinya menyempatkan berdoa yang menyebabkan para tentara itu semakin marah.

Seorang tentara kemudian memukulkan popor senjata, tetapi Panjaitan menepis sebelum benda keras itu menghantam wajahnya. Tentara yang lain marah kemudian menembak Panjaitan sehingga tewas.

Jenazah Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat itu lantas segera dimasukkan ke dalam truk dan dibawa pergi. Putri sulung Panjaitan, Catherine yang menyaksikan kejadian tersebut sangat shock.

Setelah gerombolan tentara itu pergi, didatanginya tempat ayahnya ditembak. Darah yang masih berlumuran di teras itu pun dipegangnya penuh tangis. Kemudian, tangan yang penuh darah itu diusapnya ke wajah.

Teror bagi satu generasi

Cerita di atas menjadi salah satu adegan dalam film Pengkhianatan G30S/PKI. Bagi anak-anak yang besar pada periode 1990-an, tentu tidak asing dengan film yang menggambarkan kekejaman Partai Komunis Indonesia (PKI) ini.

Pada tahun itu pemerintah Orde Baru (Orba) memang mewajibkan anak-anak sekolah untuk menonton film tersebut di TVRI. Hingga akhirnya secara tidak langsung film tersebut telah meneror satu generasi di Indonesia.

Misalnya saja adegan putri Panjaitan yang membasuh wajahnya dengan darah, merupakan salah satu adegan yang sulit dilupakan. Beberapa kutipan dari film tersebut pun masih terngiang hingga sekarang.

Seperti, “Darah itu merah jenderal”, yang muncul ketika adegan penyiksaan terhadap tujuh jenderal Pahlawan Revolusi di Lubang Buaya Jakarta Timur. Ada juga kalimat yang terbayang saat rapat-rapat PKI, "Jawa adalah kunci" dalam ruangan penuh asap rokok.

5 Film Ini Angkat Kisah Perjuangan Para Perempuan Tangguh di Indonesia

Begitu berkesannya film besutan Arifin ini menunjukan bahwa konten yang ditawarkan seperti sinematografi dan seni peran sangat paripurna. Ditambah, efek warna yang mencekam membuat penontonnya terbawa dengan suasana.

Sinematografi Bayu Prihantoro Filemon menyebut sejumlah adegan kekerasan dengan latar suara yang mencekam membuat film itu menyerupai film horor. Dirinya pun tidak menampik ada satu generasi yang menjadi trauma.

“Karena film ini, dengan segala keterbatasannya, berhasil menebar teror sekaligus menjadi trauma generasi,” kata sutradara film The Origin of Fear (2016) yang diwartakan Kompas.

Dua sisi masyarakat

Hingga kini film Pengkhianatan G30S/PKI masih menuai pro dan kontra di tengah masyarakat. Setelah masa Reformasi, pemerintah memang telah mencabut perintah kewajiban menonton film tersebut.

Walau begitu masih ada upaya untuk menyebarkan film tersebut agar kembali diputar pada generasi muda. Tetapi ada juga yang kontra karena mengaburkan sejarah dan menimbulkan trauma karena banyak adegan kekerasan.

Namun, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD mengaku selalu menonton film G30S/PKI. Alasan Mahfud gemar menyaksikannya karena dramatisasi yang muncul dalam film tersebut dianggapnya bagus.

Serial Horor Indonesia Teluh Darah Hadir di Busan International Film Festival

“Saya selalu nonton karena ia adalah karya film yang bagus artistik dan dramatisasinya. Kalau sejarah PKI sih saya sudah tahu tahun 1965, saya sudah 8 tahun,” ucapnya melalui akun Twitternya @mohmahfudmd pada Kamis (24/9/2020).

Berbeda dengan Mahfud, sutradara tenar Joko Anwar menyebut banyaknya adegan kekerasan dalam film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI memberikan efek negatif bagi murid-murid di sekolahnya.

“Kayaknya banyak yang somplak gara-gara nonton itu waktu kecil,” ujar sutradara film Pengabdi Setan tersebut dimuat dari Tabloid Bintang.

Walau begitu setelah beranjak dewasa, Joko mengakui beberapa kali menonton film tersebut. Dirinya mengakui atmosfer film tersebut sangat kuat, dari pengadegan dan musik, walau perlu ditelaah lagi soal sejarahnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini