Tradisi Sisingaan: Cara Masyarakat Subang Mengejek Pemerintah Kolonial

Tradisi Sisingaan: Cara Masyarakat Subang Mengejek Pemerintah Kolonial
info gambar utama

Boneka berwujud singa itu dinaiki oleh seorang bocah yang terlihat lugu. Empat orang laki-laki menggotong boneka singa tersebut dengan palang bambu di punggung mereka. Irama kendang, kempul. gong, dan terompet bersahut-sahutan.

Pengusung kerandang berbentuk singa atau Sisingaan itu biasanya lebih dari satu kelompok. Mereka menari dan beraksi mempertontonkan gerak-gerakan yang rampak bahkan kadang akrobatik.

Sisingaan atau Singa Depok menurut T Dibyo Hartono dalam buku Bunga Rampai Sejarah dan Kebudayaan (Jawa Barat) 2010 mengatakan kesenian khas Kabupaten Subang yang ditandai dengan adanya bentuk keranda atau boneka yang menyerupai singa.

Iwa Koesoemasoemantri: Gagasan Nasional Progresif yang Membawanya ke Penjara

Kesenian ini diperkirakan sudah muncul pada masa penjajahan Belanda/Inggris di Indonesia pada abad 19. Saat itu masyarakat Subang mendapat tekanan secara politik, ekonomi, sosial, dan budaya dari pihak kolonial.

Ketika itu pasca diberlakukannya UU Agraria tahun 1870, pemerintah kolonial Belanda membuka lebar peluang ekspansi bisnis kaum pemodal dari Eropa untuk mencari sebanyak-banyaknya hasil bumi dari Nusantara.

“Kota Subang yang sebagian wilayahnya memiliki topografi dataran tinggi dan cocok untuk areal perkebunan menjadi incaran kalangan investor asing,” dimuat dalam laman Berdikarionline.

Simbol perlawanan

Pada masa itu, masyarakat Subang dikenalkan dengan dua lambang penguasa. Pertama adalah mahkota yang menjadi lambang Belanda. Kedua adalah tiga singa yang merupakan lambang Inggris.

Ketika di bawah kekuasaan Inggris inilah, masyarakat Subang mendapat tekanan ekonomi yang kuat. Segala macam cara dikerahkan Inggris untuk mengerahkan tenaga kerja yang sangat dibutuhkan bagi pembukaan pabrik gula baru.

Pada titik inilah masyarakat Subang tidak bisa melawan secara fisik. Karena itulah mereka melawan melalui kebudayaan, wujudnya adalah kesenian Sisingaan. Bayangan kekuasaan industri kolonial Inggris dilambangkan dengan singa.

Berkunjung ke Gunung Tangkuban Perahu, Layaknya Bertamu ke Rumah Dewa

“Dalam imajinasi orang Subang, Inggris bisa ditaklukkan oleh seorang bocah yang bisa menungganginya,” tulis dalam Sisingan, Sindiran Ala Orang Sunda.

Masyarakat Subang atau pelaku seni budaya di Subang mengekspresikan pandangan mereka melalui sindiran. Pemaksaan kolonialisme Inggris yang membuat mereka menderita mereka sindir dengan Sisingaan.

Kesenian ini adalah cara berontak orang Subang terhadap penjajah yang diwujudkan sebagai singa. Hewan ini menjajah karena dia menginjak, atau diusung di atas penderitaan orang Subang yang dianggap bodoh dan miskin.

“Orang Subang berharap suatu saat nanti generasi muda yang dilambangkan dengan anak kecil penunggang. Sisingan ini akan bisa bangkit mengusir penjajah,” paparnya.

Hiburan rakyat

Pada masa kini, seni pertunjukan Sisingan lebih diartikan sebagai bagian dari hiburan rakyat. Seni Sisingaan umumnya dipentaskan dengan berkeliling kampung pada acara seperti acara khitanan, pelantikan pejabat, desa, pernikahan dan lain sebagainya.

Pertunjukan diawali dengan pemberian kata sambutan oleh pimpinan kelompok Sisingan. Setelah acara pemberian kata sambutan, barulah sang anak yang akan dikhitan, pengantin atau tokoh masyarakat yang akan diarak menaiki boneka singa.

Kemudian dengan diiringi oleh irama lagu-lagu dari kesenian Ketuk Tilu dan Doger, 8 orang pemain dari kelompok Sisingan akan mulai menggotong dua buah boneka singa yang telah dinaiki manusia tersebut.

Taman Junghuhn: Terbengkalainya Saksi Sejarah Penanaman Kina di Hindia Belanda

Kesenian Sisingaan pun dimulai dengan mengelilingi kampung atau desa, hingga akhirnya kembali lagi ke tempat semula. Pertunjukan berakhir dengan sampainya rombongan Sisingaan di tempat ketika awal pertunjukan dimulai.

Selain sebagai hiburan, kini Sisingaan juga telah telah menjadi kesenian khas Kabupaten Subang yang memiliki daya tarik wisata bagi turis domestik maupun mancanegara. Acara ini pun diadakan untuk memperingati hari jadi Kabupaten Subang.

“Kesenian tersebut juga telah menjadi simbol dari Kabupaten Subang itu sendiri,” pungkasnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini