Bersama G20, Indonesia Segera Berantas Tuberkulosis

Bersama G20, Indonesia Segera Berantas Tuberkulosis
info gambar utama

Jumlah penderita Tuberkulosis (TBC) di Indonesia diduga hampir mencapai satu juta jiwa. Data WHO itu menunjukkan bahwa penanganan penyakit ini sudah selayaknya menjadi prioritas utama. Sudah 77 tahun umur Indonesia, tapi penyakit TB tak kunjung tertangani dengan baik, meski obat dan vaksinnya telah ditemukan dari puluhan tahun silam.

Menyadari kondisi darurat ini, Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin membahas isu tersebut dalam Pertemuan Tingkat Menteri Kesehatan Kedua G20 di Bali, Kamis (27/10/2022).

Budi menyampaikan, dalam misi pemberantasan TB di Indonesia, langkah pertama yang penting untuk segera dijalankan adalah pendeteksian (skrining) penderitanya. Dari total 842 ribu orang terkena TBC, tak lebih dari 600 ribu yang baru teridentifikasi.

“Untuk 200 ribu penderita TB lainnya, kita tidak dapat mengidentifikasi nama dan alamatnya,” ungkap Budi.

Melansir VOA Indonesia, ada 4 kerangka kerja yang menurut Budi akan segera dilaksanakan dalam misi penanganan TB, di antaranya: penyesuaian protokol kesehatan, penguatan jaringan laboratorium deteksi penyakit, pengintensifan pengawasan pasien TB, pengadaan vaksin dan pembentukan jejaring orang tua asuh bagi pasien.

“Kita harus pastikan bahwa lingkungan kita sehat dan bersih. Biasanya TB terjadi ketika kita punya rumah yang tidak bersih dan tidak memiliki ventilasi udara yang baik,” ungkap Budi.

Sepakat dengan Budi, Wakil Direktur Eksekutif Stop TB Partnership Sahu Suvanand menyampaikan bahwa skrining dan diagnosis penderita TB kini menjadi tantangan paling mendesak yang harus segera dituntaskan oleh seluruh dunia. Penanganannya harus mampu menjangkau semua orang yang membutuhkan diagnosis, pengobatan, serta pencegahan.

Sahu juga menyambut baik misi penanganan TB oleh Menkes RI sebab baru dalam kepemimpinan Indonesia, TB menjadi pembahasan prioritas dalam forum G20. Komitmen terhadap pengentasan penyakit ini diharapkan dapat diteruskan oleh tuan rumah forum G20 berikutnya.

3 Rumah Sakit Jiwa Tertua di Indonesia, Usianya Lebih dari 1 Abad

Pandemi menghambat dunia atasi TB

Data penderita TBC di Indonesia | tbindonesia.or.id
info gambar

Pandemi Covid-19 telah menghambat pendeteksian dan implementasi langkah-langkah lain dari penanganan TB. Tak hanya bagi Indonesia, tapi seluruh negara dengan angka TB tinggi. Pemulihan dari dampak Covid-19 mengambil alih fokus pemerintah untuk mengatasi permasalahan lain terlebih dahulu dan menunda pengentasan penyakit ini. Itulah penyebab kian banyaknya penderita TB yang tidak terdiagnosis, apalagi diobati.

Dalam kesempatan berbeda, Ketua Yayasan Stop TB Partnership Indonesia dr. Nurul Nadia menuturkan, Indonesia harus mempercepat upaya penanganan TB karena jika terlambat, pengobatannya akan makin lama dan sulit. Selain itu, semakin parah tingkat TB yang diderita, biaya pengobatan juga semakin mahal.

“Anda dapat membayangkan, bagaimana jika kita lamban bergerak, kasus TB akan terus meningkat. Itu sebabnya kita perlu bertindak cepat, dan bertindak sekarang,” ujar Nurul.

Mengutip Republika, butuh waktu 6 bulan untuk pasien TB reguler menjalani pengobatan dan dua tahun bagi penderita TB MDR. Sementara itu, biaya yang harus digelontorkan untuk satu pasien TB MDR saja lebih dari Rp100 juta.

Kemenkes RI menggratiskan biaya berobat pasien TB dan menyediakan anggaran sebesar Rp300 miliar per tahun. Semakin lama TB tak tertangani, biaya yang dikeluarkan tentu akan terus meningkat. Di samping itu, langkah pemberantasan TB harus segera terlaksana agar para penderita bisa sembuh dan kembali menikmati hidup mereka.

Kontroversi Gula, dari Angka Konsumsi hingga Aturan Kandungan Produk yang Berlaku

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Afdal Hasan lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Afdal Hasan.

AH
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini