Menengok Pulau Miangas : Pulau Terluar Utara Indonesia yang Jadi Rebutan AS dan Belanda

Menengok Pulau Miangas : Pulau Terluar Utara Indonesia yang Jadi Rebutan AS dan Belanda
info gambar utama

Pernahkah kamu mendengar nama pulau Miangas? Pulau ini menjadi garda terdepan bagian utara Indonesia karena berbatasan langsung dengan negara Philipina.

Salah satu hal menarik di pulau ini adalah meski menjadi pulau terluar dan terisolir oleh lautan samudera, warga disini telah bisa terhubung oleh dunia luar melalui sambungan WiFi Nusantara.

Di pulau ini terdapat 2 bendera negara yang berkibar yakni bendera Philipina dan Indonesia sebagai tanda kesepakatan perjanjian Lintas Batas (Border Crossing Agreement) yang ditandatangani pada tahun 1956.

Selain itu, tentu masih banyak fakta menarik yang perlu kalian ketahui tentang pulau yang dijuluki Las Palmas ini. Penasaran? Yuk simak ulasan singkat berikut ini.

Pulau Miangas Sudah Terkenal oleh Dunia Sejak Abad 16

Pulau kecil ini sudah dikenal sejak pertengahan abad ke-16. Petunjuk itu dapat ditelusuri baik dalam catatan-catatan pelayaran maupun peta serta dokumen-dokumen kolonial.

Pulau ini tercantum dalam peta Asia Tenggara yang digambar oleh Gerard Mercator pada tahun 1569. Tercantum dalam peta itu sebuah pulau kecil yang dinamai y(slas) de Cocos berada di ujung tenggara Mindanao dan utara timur laut pulau-pulau Talao alijs Tarrao infule (wilayah Philipina).

Sebutan y(slas) de Cocos dengan letak dan koordinat yang sama juga ditemukan dalam peta Asia dari Abraham Ortelius, 1570.

Pulau Paling Utara Indonesia ini Jaraknya Lebih Dekat ke Philipina

Miangas adalah pulau terluar di Utara Indonesia yang terletak dekat perbatasan antara Indonesia dengan Filipina. Pulau ini termasuk kedalam desa Miangas, kecamatan khusus Miangas, Kabupaten Kepulauan Talaud, Provinsi Sulawesi Utara, Indonesia.

Untuk menjangkau Pulau Miangas, dapat ditempuh melalui pesawat kecil dari bandara Sam Ratulangi Manado yang memakan waktu sekitar 2 jam hingga tiba di bandara kecil pulau Miangas. Jadwal pesawat ini hanya sekali sepekan.

Adapun perjalanan melalui laut dapat ditempuh selama 4 hari dari pelabuhan Bitung menggunakan kapal perintis. Jadwal kapal ini hanya ada setiap 2 minggu sekali.

Sedangkan kalau menyebarang ke Philipina dengan kapal laut hanya sekitar 2-3 jam. Kalian dapat membayangkan betapa dekatnya jarak pulau kecil ini ke negara tetangga.

Miangas Pernah Jadi Rebutan 2 Negara Besar, AS dan Kerajaan Belanda

Melansir laman Kemdikbud bahwasanya Pulau Miangas pernah dipersengketakan antara dua negara besar yakni Amerika Serikat (yang kala itu masih menjajah Filipina) dengan Kerajaan Belanda (yang juga menjajah kepulauan Nusantara atau Hindia Belanda).

Tak kunjung mendapat kata mufakat, sengketa tentang status kepemilikan Pulau Miangas ini berakhir di Mahkamah Arbitrase Internasional.

Akhirnya pada tanggal 4 april 1928, Hakim Dr. Max Hubert, arbitrator tunggal Mahkamah Arbitrase Internasional, menyatakan bahwa Miangas adalah bagian dari wilayah Hindia Belanda.

Pengakuan ini diperjelas lebih lanjut di dalam perjanjian Lintas Batas (Border Crossing Agreement) antara Indonesia dan Filipina yang ditandatangani pada tahun 1956.

Keputusan Arbitrasi Internasional tersebut diperkuat kembali oleh hasil penelitian dari 2 orang pakar hukum internasional, yaitu Willem Johan Bernard Versfelt dan Daniel-Eramus Khan.

Orang Miangas adalah Keturunan Campuran Philipina dan Indonesia

Asal mula penduduk pulau Miangas sebagian besar berasal dari pulau-pulau Nanusa (Marapit dan Karatung), dan ada juga yang berasal dari daratan Mindanao dan kawin mawin dengan penduduk pulau Miangas.

Hal ini menunjukkan adanya pertalian kekerabatan yang erat antara warga yang mendiami pulau-pulau di perbatasan dengan etnis (asli) di Mindanao dengan etnis Sulawesi Utara.

Masyarakat Miangas Punya Tradisi Panen Ikan yang Unik yakni Manami

Orang Miangas memiliki tradisi menangkap ikan secara besar-besaran yang disebut Manami.

Sebelum hari H tiba, orang dilarang menangkap ikan pada lokasi tertentu lalu pada saat Eha (larangan) dibuka, masyarakat melakukan penangkapan ikan besar-besaran dan melakukan pesta syukuran desa dengan makan bersama.

Biasanya tradisi ini berlangsung pada bulan Januari sampai Maret. Maka periode ini seluruh warga dilarang masuk lokasi tangkap ikan.

Dua hari sebelum hari puncak acara dibuat tali yang panjang. Pada hari puncak semua laki-laki diturunkan ke pantai lokasi manami yakni dari tanjung Ondene dan Libuang untuk memanen ikan yang telah terperangkap.

Tengok juga fakta-fakta menarik dari penjuru Timur Indonesia di Pulau Liki, ujung selatan Indonesia di pulau Rote, dan ujung Barat Indonesia di Pulau Weh

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Achmad Faizal lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Achmad Faizal.

Terima kasih telah membaca sampai di sini