Legenda ‘Tambal dan Hilang’: Asal-usul Tembalang, Wilayah Mahasiswa di Kota Semarang

Legenda ‘Tambal dan Hilang’: Asal-usul Tembalang, Wilayah Mahasiswa di Kota Semarang
info gambar utama

Setiap daerah setidaknya memiliki asal-usul yang membuatnya dinamakan dengan nama tertentu, entah itu berdasarkan legenda atau cerita rakyat maupun oleh faktor tertentu yang memang sudah terbukti sejarahnya.

Oleh masyarakat yang ada di wilayah Semarang dan sekitarnya, nama Tembalang tentunya sudah sangat dikenal. Daerah ini terkenal sebagai pusat berkumpulnya mahasiswa, serupa dengan Jatinangor di Sumedang atau Pondok Cina di Depok.

Wilayah ini populer karena menjadi salah satu lokasi dari Universitas Diponegoro (Undip), yang lokasinya ada di Kelurahan Tembalang, Kecamatan Tembalang. Yang mana, mahasiswanya termasuk cukup banyak dan berasal dari berbagai kota di Indonesia.

Sebenarnya, masih ada kampus lain yang berada di sekitar Undip, antara lain Politeknik Negeri Semarang (Polines), Universitas Pandanaran (Unpand), Politeknik Kesehatan Kemenkes (Poltekkes) Semarang, serta Politeknik Pekerjaan Umum Semarang.

Dengan banyaknya para perantau yang mencari ilmu tersebut, perlahan wilayah ini berkembang menjadi daerah mahasiswa seiring dengan bertambahnya indekos. Begitu pula dengan tempat usaha yang semakin berkbmang, bahkan hingga ke wilayah sekitar Tembalang.

Sehingga, wilayah ini seakan menjadi ‘pusat peradaban’ baru di wilayah Semarang atas.

Sebagai informasi, ada pembagian wilayah tak tertulis yang membagi Semarang sesuai dengan topografinya, yaitu ‘Semarang bawah’ yang menjadi wilayah yang punya anggapan sebagai pusat perkotaan sesungguhnya dan ‘Semarang atas’ yang dianggap sebagai daerah pinggiran kota.

Kampung Kauman, Embrio Perkembangan Kota Semarang yang Perlu Dilestarikan

Berawal dari Perjalanan Ki Ageng Pandan Arang dan Pengikutnya

Ki Ageng Pandan Arang | J Hasanto (Facebook)
info gambar

Kembali ke pembahasan utama, mengapa wilayah ini dinamakan sebagai Tembalang?

Ada satu legenda yang dianggap sebagai asal mula mengapa daerah ini disebut sebagai Tembalang. Ini ada kaitannya dengan cerita Ki Ageng Pandan Arang, seorang bupati pertama Semarang ketika masih menjadi bagian dari Kesultanan Demak sekitar abad ke-16.

Tidak sedikit dari mahasiswa di kampus Tembalang yang belum mengetahui legenda ini, apalagi mereka yang perantau.

Meskipun masih dianggap sebagai cerita saja, namun legenda ini sudah diceritakan secara turun temurun, khususnya untuk masyarakat yang memang bertempat tinggal di Tembalang.

Pada suatu ketika, bupati yang juga dikenal sebagai Pandanaran I ini pergi bersama dengan santri dan abdi dalemnya untuk melakukan penjelajahan ke arah selatan. Ide perjalanan ini muncul atas dasar para pengikutnya tersebut. Setelah sepakat, mereka berangkat dengan penuh semangat.

Wilayah demi wilayah pun mereka lalui secara berkelanjutan. Di tengah perjalanan, mereka melewati medan yang tergolong berat, sebab topografi wilayahnya yang berbukit-bukit dan penuh dengan tanaman. Kendati demikian, perjalanan tersebut mereka lakukan dengan senang hati.

Sampai suatu ketika, mereka tiba pada sebuah wilayah bukit di mana terlihat jelas panorama Semarang dari ketinggian. Di kejauhan, mereka bisa memandang lepas bentangan luas Laut Jawa yang terlihat amat indah. Mereka pun merasa senang dan bersyukur akan indahnya pemandangan tersebut.

Mengacu dari apa pemandangan yang Ki Ageng Pandanaran dan pengikutnya lihat, artinya sudah mencapai wilayah yang kini dianggap sebagai Semarang atas.

Pada saat yang bersamaan, Ki Ageng Pandanaran pun memberikan pesan ekologis kepada para pengikutnya tersebut untuk tetap menjaga lingkungan dan tidak mencemari laut agar keindahannya tetap lestari.

Lumpia Gang Lombok, Kuliner Asal Semarang Sejak Ratusan Tahun Lalu

Adanya Sumber Mata Air yang Tak Berhenti Mengalir

Ilustrasi sumber mata air | Amretadje Arkava (Pinterest)
info gambar

Setelah puas melihat keindahan wilayah mereka, perjalanan pun dilanjutkan hingga tiba pada sebuah pemukiman di atas bukit dengan ladang pertanian yang subur.

Kemungkinan, daerah inilah yang menjadi cikal bakal dari kawasan Tembalang dan sekitarnya yang kini semakin ramai.

Kedatangan Ki Ageng Pandanaran pun disambut hangat oleh warga. Tersentuh dengan keramahan masyarakat pemukiman tersebut, Ki Ageng Pandanaran berjanji untuk menyelesaikan segala permasalahan yang ada di lingkungan mereka.

Satu permasalahan yang ada pada wilayah tersebut adalah adanya sembilan mata air bernama ‘tuk songo’ yang tak berhenti mengalir. Sebelumnya, keberadaan mata air ini sangat berguna untuk menunjang kehidupan masyarakat.

Namun, ada saat di mana air ini tidak berhenti meluap dan membuat warga khawatir. Sebab, genangannya sudah meluas seperti danau.

Berbagai upaya juga sudah dilakukan untuk menambal mata air tersebut, namun usaha tersebut selalu gagal.

Ki Ageng Pandan Arang pun datang ke lokasi mata air tersebut untuk melakukan salat dan berdoa cukup lama. Tak lama kemudian, ia memberikan 2 pesan kepada warga.

Kurang lebih, seperti inilah kalimat yang beliau ucapkan sebagaimana bersumber dari cerita tutur pada situs semarangkota.id.

“Saudara-saudara, sepeninggal kami dari desa ini, insya Allah mata air-mata air itu akan segera tidak mengeluarkan air lagi. Cuma satu yang tersisa. Itu masih saudara-saudara perlukan untuk kehidupan sehari-hari. Pesan saya, jagalah kebersihan mata air tersebut, kedua, berilah nama desa ini Tambalang”.

Setelah rombongan Ki Ageng Pandanaran pergi, tak lama keajaiban pun datang. Aliran pada sumber-sumber mata air tersebut perlahan menghilang, persis seperti apa yang dikatakan oleh sang bupati.

Lalu, untuk nama ‘Tambalang’ berasal dari kata ‘tambal’ dan ‘hilang’. Ini merujuk pada sumber mata air yang kerap ditambal oleh warga, namun tambalan tersebut selalu hilang.

Waktu demi waktu berlalu, pemukiman ini semakin berkembang seiring dengan kondisi warga yang bahagia karena masalahnya telah teratasi. Hingga akhirnya, penyebutan Tambalang sendiri perlahan berubah menjadi Tembalang sampai sekarang.

Satu cerita yang tak kalah menarik dari berbagai sumber tutur, sisa dari mata air tuk songo konon masih ada hingga sekarang dengan lokasi di sebuah perumahan elit di Jl. Tirto Agung, Pedalangan.

Memang, kebenaran cerita ini juga masih dipertanyakan. Sejarah yang benar-benar nyata juga masih belum diketahui dengan pasti. Apalagi cerita legenda tak bisa lepas dari distorsi informasi. Namun, setidaknya kita bisa membayangkan bagaimana kondisi wilayah Tembalang pada zaman dahulu.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MM
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini