Memahami Sejauh Mana Realisasi Pengoptimalan EBT di Indonesia

Memahami Sejauh Mana Realisasi Pengoptimalan EBT di Indonesia
info gambar utama

Seberapa besar sebenarnya urgensi pembangunan EBT di tanah air?

Sudah tidak bisa dihindari lagi, kondisi alam dengan jenis sumber daya terbatas yang selama ratusan tahun telah digunakan sebagai energi semisal batu bara sejatinya akan mendekati batas akhir.

Sehingga mau tidak mau, salah satu sumber penghasil energi yang bisa diandalkan adalah dengan mulai digencarkannya peralihan ke pembangkit listrik berbasis EBT, yang memanfaatkan sumber daya alam tak terbatas dan tidak akan habis, yakni pembangkit energi tenaga surya, angin, air, maupun biomassa.

Sudah diketahui, jika Indonesia sudah punya masing-masing PLT berbasis EBT baik dalam bentuk PLTS, PLTA, PLTB, dan PLTP. Lalu bagaimana pemanfaatannya?

Kolaborasi Perusahaan Teknologi di Indonesia Dorong Generasi Muda Paham Praktik EBT

Realisasi PLT berbasis EBT di Indonesia

PLTS di Belitung | Teddy Mardona/Shutterstock
info gambar

Tidak semudah membalikkan telapak tangan, semua EBT yang sudah dimiliki Indonesia untuk saat ini belum mampu menggantikan pasokan energi dari energi fosil berupa batu bara.

Hal tersebut setidaknya terungkap, saat Kementerian ESDM pada tahun lalu tetpatnya Kamis (21/10/2021) mengungkap, data bauran EBT di Indonesia masih belum mencapai target nasional di angka 14,5 persen untuk tahun tersebut.

Rida Mulyana, selaku Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM menjelaskan, 12,77 persen bauran EBT Indonesia masih terfokus pada pembangkit listrik, dengan porsi pembangkit panas bumi 5,64 persen, pembangkit hidro (air) 6,72 persen, biomassa 0,19 persen, dan EBT lainnya 0,22 persen.

Sementara jika ditambah dengan pemanfaatan BBN seperti biodiesel, maka bauran EBT mencapai angka 13,54 persen dari total bauran energi nasional.

Di sisi lain, saat ini tercatat jika kapasitas terpasang pembangkit listrik di Indonesia sudah mencapai 73,8 GW.

Dalam pemenuhannya, pembangkit listrik tersebut masih didominasi oleh PLTU sebesar 50 persen, PLTGU 17 persen, PLTG/MG 11 persen, PLT Diesel 7 persen, PLT Panas Bumi 3 persen, PLT Air/Makro/Mikrohidro 9 persen, dan PLT EBT lainnya (surya dan angin) 3 persen.

Melihat kondisi di atas, jelas terlihat jika Indonesia masih memiliki tugas besar tidak hanya dalam merealisasikan konversi EBT sesuai peta jalan hingga tahun 2025, yang bahkan ditargetkan mencapai 23 persen, melainkan juga perataan bauran EBT yang tidak hanya difokuskan pada kelistrikan, namun juga komoditas lain layaknya bahan bakar nabati.

Apa Itu REC, Instrumen EBT yang Buat Istana Kepresidenan Dipasok Energi Hijau

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini