Asal Usul Talang Mamak, Suku Asli Pedalaman Riau Warisan Datuak Parpatiah Nan Sabatang

Asal Usul Talang Mamak, Suku Asli Pedalaman Riau Warisan Datuak Parpatiah Nan Sabatang
info gambar utama

Penduduk Riau tak hanya berasal dari Melayu. Ada juga suku asli yang mendiami provinsi ini. Setidaknya sebanyak 6 suku menghuni pedalaman Riau, salah satunya Talang Mamak.

SukuTalang Mamak menghuni empat kecamatan di Kabupaten Indragiri Hulu: Batang Gangsal, Cenaku, Kelayang, dan Rengat Barat. Di luar itu, satu kelompok berada di Dusun Semarantihan Desa Suo-Suo kecamatan sumai kabupaten tebo jambi. Berdasarkan statistik pada 2000 silam, populasi Talang Mamak diperkirakan ±1341 kepala keluarga atau ±6418 jiwa.

Hal paling menarik dari asal-usul suku Talang Mamak adalah hubungannya dengan Datuak Parpatiah Nan Sabatang (selanjutnya ditulis Datuk Patih), tokoh teramat penting dalam pembentukan adat istiadat di Minangkabau.

Mengutip karya tulis anggota masyarakat adat Talang Mamak bernama Gilung dalam situs Aliansi Masyarakat Adat Nusantara, Datuk Patih datang dari tanah Pagaruyung menyusuri sungai nan tiga laras, yaitu Sungai Tenang ( sekarang Sungai Batang Hari), Sungai Keruh (sekarang Sungai Kuantan/Indragiri) dan Sungai Deras (sekarang Sungai Kampar).

Kemudian, di kawasan ketiga sungai itu ia membuat pemukiman (talang). Di Sungai Batang Hari ada 3 kampung yang didirikannya, antara lain: Dusun Tua, Tanjung Bunga dan Pasir Mayang. Di Sungai Kuantan ada 3 kampung juga, yaitu Inuman Negeri Tua, Cerenti Tanah Kerajaan dan Pangian Tepian Raja. Di Sungai Kampar ia juga membuat 3 kampung yaitu Kuok, Bangkinang dan Air Tiris.

Dalam beberapa tambo tertulis, Datuk Patih bernama asli Jatang Sutan Balun, anak dari Puti Indojalito dan Hiyang Indojati--seorang Cendekiawan alim ilmu dengan gelar Datuk Cati Bilang Pandai atau Tuan Cati, dikutip dari Scholar.unand.ac.id.

Sementara itu, terdapat keterangan berbeda-beda tentang asal usul leluhur Talang Mamak. Versi pertama, berdasarkan penuturan keturunan Patih ke-28 dari anak Datuk Patih bernama Patih Bunga, leluhur Talang Mamak ternyata Talang Parit.

Di sana, Datuk Patih tinggal dan menghasilkan 3 orang anak, antara lain: Tuah Besi, Tuah Kelopak, dan Tuah Bunga. Kemudian, ketiga anak ini diberi amanah untuk membuka kampung (talang) dan memimpin sebagai patih. Tuah Besi melanjutkan kekuasaan ayahnya di Talang Parit, Tuah Kelopak mendirikan Talang Perigi, dan Tuah Bunga Durian Cacar, dilansir dari Dinsos.riau.go.id.

Sesudah generasi ke-3, pola kepemimpinan Talang mengalami perubahan. Kekuasaan tak lagi diwariskan kepada anak, melainkan keponakan. Maka, gelar tertinggi ikut berubah dari Patih menjadi Batin.

3 Suku Adat dengan Kepercayaan yang Berperan Besar Menjaga Hutan Indonesia

Kepercayan dan pekerjaan

Masyarakat Talang Mamak percaya terhadap Tuhan. Ada dua agama yang dianut mereka, sebagian Islam dan lainnya Kristen Khatolik. Soal keyakinan, suku Talang Mamak terpisah dari Melayu.

Mayoritas mereka menyebut diri sebagai "orang langkah lama" karena masih mewarisi tradisi leluhur seperti berambut panjang, pakai sorban/songkok dan gigi bergarang (hitam karena karena makan pinang). Umumnya, orang langkah lama itu beragama Khatolik. Sedangkan, penduduk yang menganut Islam akam disebut sebagai orang Melayu.

Dalam kehidupan sehari-hari, orang Suku Talang Mamak masih melakukan upacar adat, mulai dari melahirkan dengan dukun beranak, timbang bayi, sunat, upacara perkawinan (gawai), berobat, beranggul (tradisi menghibur orang yang kemalangan) dan upacara Batambak (menghormati roh yang meninggal dan memperbaiki kuburannya untuk peningkatan status sosial).

Mereka juga masih melestarikan tradisi mengilir atau menyembah raja/datok di Rengat pada bulan haji dan hari raya. Tradisi ini warisan dari sistem kerajaan indragiri. Mereka meyakini, jika tradisi itu dilanggar, akan dimakan sumpah yaitu "Ke atas ndak bepucuk, ke bawah ndak beurat, di tengah dilarik kumbang" yang artinya tidak berguna dan sia-sia.

Berbagai penyakit juga dapat disembuhkan dengan upacara-upacara tradisional yang kerap dikitkan dengan alam gaib melalui bantuan dukun.

Selain, itu, suku Talang Mamak memiliki kesenian yang biasa dipertunjukkan pada pesta dan upacara lainnya, seperti pencak silat diiringi gendang, gambus, tari balai terbang, tari bulian, dan ketebung.

Besale, Upacara Adat Suku Anak Dalam Memohon Kesembuhan

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Afdal Hasan lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Afdal Hasan.

AH
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini