Besale, Upacara Adat Suku Anak Dalam Memohon Kesembuhan

Besale, Upacara Adat Suku Anak Dalam Memohon Kesembuhan
info gambar utama

Di tengah kehidupan yang serba modern, masyarakat Indonesia tentu tahu betul jika masih ada komunitas yang hidup dalam keterasingan. Salah satunya adalah Orang Rimba, mereka tinggal di dalam hutan di Provinsi Jambi dan memiliki kebiasaan nomaden atau berpindah-pindah tempat demi sumber penghidupan dari hutan.

Sementara masyarakat Melayu menyebut mereka Suku Kubu yang bermakna negatif, pemerintah Provinsi Jambi menamakan kelompok masyarakat tersebut sebagai Suku Anak Dalam (SAD).

Penyebutan SAD sendiri tak hanya untuk Orang Rimba, tetapi juga kepada suku lain di Jambi seperti Batin Sembilan dan Talang Mamak yang pola hidupnya memiliki kemiripan. Selain memiliki kehidupan yang jauh berbeda dari masyarakat perkotaan, komunitas ini juga memiliki ritual tersendiri dalam hal pengobatan.

Ketika ada anggota keluarga yang sakit, suku tersebut meyakini bahwa penyakit datang karena dewa telah menurunkan malapetaka. Sebagai upaya penyembuhan, mereka akan melaksanakan ritual besale. Seperti apa ritual penyembuhan yang dilakukan masyarakat Suku Anak Dalam?

Tradisi Bebantai, Ritual Potong Kerbau untuk Sambut Ramadan di Jambi

Makna di balik penyelenggaraan upacara besale

Besale merupakan upacara penyembuhan yang dilakukan oleh Suku Anak Dalam Batin 9 di Desa Nyogan Segandi, Kabupaten Muaro Jambi dan Desa Sengkawang, Kabupaten Batanghari. Upacara tersebut dilaksanakan untuk menyembuhkan seseorang dari penyakit akibat roh jahat yang bersemayam dalam diri orang tersebut.

Masyarakat SAD memang dikenal memiliki berbagai ritual untuk menghormati arwah nenek moyang, mengharap keberkahan, dan memohon agar dijauhkan dari malapetaka. Salah satunya adalah besale.

Supaya dewa menjauhkan malapetaka, masyarakat kemudian menggelar besale untuk memohon ampunan, sekaligus menjaga hubungan dan keseimbangan antara yang hidup dengan alam gaib. Ketika semua seimbang maka malapetaka seperti penyakit yang datang pun tidak lagi ada.

Besale juga merupakan upacara yang sakral. Ketika ritual berlangsung, orang dari luar kelompok tidak boleh ikut menyaksikan. Ritual ini juga dimaknai sebagai bentuk pengakuan penyesalan karena telah melanggar pantangan dan membuat dewa murka.

Ritual besale memiliki beberapa jenis dan akan diselenggarakan sesuai kondisi penyakit, apakah itu ringan atau berat. Berikut keterangannya:

  1. Basale besar untuk menyembuhkan penyakit berat.
  2. Basale kecil bermalim beringin tiga pangkat untuk menyembuhkan sakit ringan.
  3. Basale bermalim sale untuk menyembuhkan sakit ringan.
  4. Basale bermalim suraian untuk menyembuhkan sakit "gila", lupa ingatan, dan dungu.
  5. Basale bermalim gelemat, untuk menyembuhkan sakit bagi perempuan hamil dan ingin keturunan.
  6. Basale bermalim katu aro untuk menyembuhkan sakit melahirkan.
  7. Basale bermalim bujuk untuk mencari jodoh dan bernazar.
  8. Basale bermalim puncak meligai untuk upacara selamatan besar.
  9. Basale bermalim timbang dundangan, untuk upacara perkawinan.
  10. Basale bermalim jadi (bermalim datuk) untuk wabah penyakit.
Menilik Asal-Usul Tradisi Suro’ Baca yang Hidup di Tengah Masyarakat Makassar

Prosesi besale

Sebelum masuk ke prosesi besale pada malam hari, siangnya akan diadakan beterkas atau mempersiapkan kebutuhan sebelum besale dan akan ditentukan oleh dukung.

Adapun perlengkapan yang harus disiapkan adalah lonceng dari kuningan dengan suara nyaring, dua mangkuk kecil untuk jampi-jampi, kain putih, rumah-rumahan kecil dari kayu dan anyaman, 19 burung-burungan dari daun kelapa, dan sesajen berisi caco, juwadah, bubur merah, tepung gandum, ayam panggang, telur, dan gelamai.

Selain itu juga ada kemenyan, barte atau bunga yang dibuat dari beras kering ditumbuk, dan balai atau miniatur rumah berukuran satu meter.

Dinding pada balai terbuat dari bambu yang diraut seperti lidi dan tiangnya dari batang kelumbi. Di dalam balai akan disimpan berbagai jenis cace atau kue dan dindingnya akan dipasang hiasan.

Setelah persiapan selesai, prosesi upacara adat akan dipimpin oleh dukun yang memang sudah turun-temurun mewarisi ilmu. Dukun akan menyanyikan mantra-mantra sambil menari untuk orang yang sedang sakit.

Betinjak dibungin baru sebiji

Dijanjam baru setitik

Angin baru berembus

Beteduh di langit selembar payung

Dukun pun akan dalam kondisi setengah sadar karena tubuhnya dirasuki arwah nenek moyang dan di momen ini lah pengobatan dimulai. Sesajen yang sudah disiapkan akan dipersembahkan kepada dewa-dewa agar memberikan kebaikan dan menjauhkan masyarakat SAD dari malapetaka.

Umumnya, ritual ini akan memerlukan biaya antara Rp1,5-2,5 juta. Karena tergolong cukup mahal dalam penyelenggaraannya, kemudian banyak masyarakat yang mulai pergi berobat ke Puskesmas ketika ada yang sakit. Selain karena biaya, nyatanya memang banyak orang yang tidak benar-benar sembuh setelah melakukan ritual.

Ritual Manten Kucing, Tradisi Masyarakat Meminta Hujan di Tulungagung



Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini