Tatkala Armada Dunia Berperang Perebutkan Lampung Demi Lada Hitam

Tatkala Armada Dunia Berperang Perebutkan Lampung Demi Lada Hitam
info gambar utama

Pada masanya, jauh berabad-abad silam, pesona lada hitam asal Lampung menyihir dunia. Armada perang dari Kesultanan Banten hingga negara penjajah macam Portugis, Inggris, dan Belanda silih berganti datang dan berperang di Lampung untuk menguasai lada.

Bukan tanpa alasan lada hitam yang hanya tumbuh di daerah tropis dan bertanah subur dipandang berharga. Sejak abad ke 17, orang Belanda menjuluki lada hitam sebagai peperduur yang berarti “luar biasa mahal”.

J Innes Miller dalam bukunya The Spice Trade of Roman Empire menyebut lada pada masa itu, bahkan jauh sejak zaman Romawi telah menjadi semacam mata uang yang dinilai setara koin-koin emas.

Kaya Akan Rempah Sejak Dulu, Indonesia Jadi Produsen Kayu Manis Terbesar di Dunia

Bukri dan kawan-kawan dalam Buku Sejarah Lampung (1998) menyatakan pada abad ke 17-19 digambarkan bahwa tuan-tuan tanah pemilik kebun lada yang merupakan warga pribumi Lampung hidup makmur berkecukupan.

“Lada-lada mereka menjadi dagangan utama yang dibeli Sultan Haji dari Kesultanan Banten,” tulisnya.

Disebut oleh Bukri, lada hitam ini lalu dijual kembali ke perusahaan Belanda, East India Company (VOC) dengan harga tinggi. Karena itu kesejahteraan di tanah Lampung saat itu pun tersiar ke luar.

Berdatangan ke Lampung

Geliat perdagangan rempah-rempah berupa lada hitam dan cengkeh mengundang banyak kaum Tionghoa keturunan datang ke Lampung. Mereka membuka toko rempah-rempah dan hasil bumi di wilayah Teluk Betung yang jadi cikal bakal Bandar Lampung.

Lada hitam banyak dikirim ke luar negeri melalui pelabuhan yang ada di wilayah ini. Karena seksinya komoditas ini, sampai-sampai, perompak dari wilayah tetangga, yaitu Johor dan Mandar sering datang merampas kekayaan Lampung ulun (pribumi).

Sejak 1500 hingga 1800 Masehi pengaruh Banteng terhadap Lampung, khususnya dalam perniagaan lada sangat kuat. Bahkan pada tahun 1596, Banten pernah menyerang Palembang karena rebutan pasar komoditas tersebut.

Jalur Rempah Indonesia di Daftar Warisan Budaya UNESCO

Demikian juga pada masa kejayaan pelayaran Portugis pun pernah berupaya menguasai Lampung yang menjadi kawasan penghasil lada hitam. Portugis pernah menyerang Menggala, ibu kota Kabupaten Tulang Bawang saat itu.

“Penyerangan dilakukan dalam usaha menguasai pasar utama lada hitam,” jelas B Josie Susilo Hardianto dalam Kejayaan Lada Hitam Lampung Telah Pudar terbitan Litbang Kompas.

Namun yang kemudian berhasil menguasai pasar dan produksi lada hitam asal Lampung adalah Belanda. Cengkraman Belanda lewat VOC dalam pasar lada hitam di Lampung makin kuat menyusul runtuhnya kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten.

Buat harum nama Lampung

Sejak abad 15 hasil lada Lampung diperdagangan di sepanjang Selat Sunda. Puncaknya pada abad 16, pemimpin lokal Lampung mendapat kejayaan dari penjualan lada, meski waktu itu Lampung ada di bawah Kesultanan Banten.

Melalui Kesultanan Banten yang memonopoli perdagangan lada Lampung, komoditas ini melanglang buana ke berbagai dunia. Menurut buku The People’s Chronology yang disusun James Trager, tahun 1797 Amerika Serikat memasuki dunia perdagangan lada.

Hal itu ditandai dengan kembalinya kapal laut Salem Mass yang dinahkodai Jonathan Carnes ke pelabuhan di AS, dengan peti lada pertama dari Sumatra. Pada tahun 1817, tercatat 15 kapal AS berlayar ke Sumatra untuk membeli lada.

4 Bumbu Dapur Khas Indonesia Ini Bisa Obati Kanker. Apa Saja?

Sejak itu, pedagang-pedagang Amerika berdatangan membeli lada. Namun tahun 1873, setelah 937 pelayaran pulang-pergi ke Sumatra, perdagangan lada Sumatra dengan AS berakhir karena aksi-aksi bajak-bajak laut.

Tercatat masih banyak jejak-jejak sejarah yang menunjukkan, lada hitam adalah komoditi yang membuat nama Lampung dikenal ke seantero dunia. Bahkan di saat nama Indonesia belum lahir, nama Lampung sudah dikenal melalui lada.

“Tetapi, apa yang terjadi sekarang? Di tataran dunia, nama Bali jauh lebih dikenal dibanding Lampung. Bersamaan dengan memudarnya popularitas Lamphong Black Paper, nama Lampung pun seolah hilang dari peta dunia,” papar Rakaryan Sukarjaputra dalam Sisa Kejayaan “Lamphong Black Papper”.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini