Dugong: Mamalia Laut yang Berstatus Rentan Punah

Dugong: Mamalia Laut yang Berstatus Rentan Punah
info gambar utama

Dugong adalah salah satu mamalia laut di Indonesia yang berstatus rentan punah. Dugong punya peranan penting dalam kehidupan laut, khususnya bagi eksistensi lamun. Adanya dugong membuat lamun yang merupakan habitat bagi berbagai biota laut tetap ada.

Sayangnya, populasi dugong kian berkurang dan bisa saja mengalami kepunahan. Ada beberapa faktor penyebabnya, mulai dari tingkat reproduksi yang lambat, perburuan ilegal, sampai penurunan luas area lamun yang terjadi akibat penurunan kualitas air laut atau pembangunan di wilayah pesisir. Supaya tidak punah, dugong di Indonesia wajib mendapatkan perlindungan dan pelestarian.

Apa Itu Dugong?

Dugong (Dugong dugun) adalah salah satu di antara 35 jenis mamalia laut di Indonesia, serta satu-satunya satwa dari ordo Sirenia yang tempat tinggalnya tidak hanya sebatas pesisir laut saja. Dugong termasuk satwa nokturnal alias hanya akan makan dan beraktivitas di malam hari saja.

Dalam sehari, dugong harus menyantap minimal 50 kg rumput laut. Dugong bisa berenang dengan kecepatan 10 km/jam, serta menyelam selama 6 menit. Setelah menyelam, dugong akan muncul ke permukaan untuk bernapas. Saat bernapas, dugong terkadang akan membentuk posisi seperti berdiri dengan kepala berada di atas air. Gerakan dugong saat berenang cukup lambat, sehingga ia rentan dimangsa oleh predator alami satwa ini, seperti hiu besar, paus pembunuh, dan buaya air asin.

Nama dugong diambil dari bahasa Tagalog “dugong” yang juga merupakan kata serapan dari bahasa Melayu, “duyong” yang berarti “perempuan laut”. Dugong tidak hanya sekadar satwa laut, tetapi juga sebagai makhluk mitologi yang dikenal dengan sebutan “putri duyung”.

Banyak kisah yang menceritakan putri duyung di Indonesia. Sebagian kisah tersebut sudah ditelusuri oleh beberapa peneliti, salah satunya Francois-Robert Zacot lewat bukunya, “Orang Bajo: Suku Pengembara Laut - Pengalaman Seorang Antropolog (2008).

Ciri-Ciri Dugong

Dugong memiliki tampilan fisik yang mirip dengan manatee alias lembu laut. Kemiripan ini bisa dilihat pada badan dugong yang gemuk dan berkulit alot keabuan yang terlihat keriput namun berotot dan hidrodinamis. Dugong juga berenang dengan ekor seperti halnya manatee. Bedanya, ekor dugong memiliki bentuk yang mirip dengan ekor paus atau lumba-lumba.

Dugong juga punya beberapa ciri fisik yang membedakannya dengan hewan laut lainnya, yaitu:

  • Memiliki kepala yang besar dan papak. Bentuk kepala itu membuat dugong lebih mudah mengambil napas dari permukaan laut.
  • Memiliki rambut kasar di sekitar mulut yang berfungsi sebagai sensor saat dugong akan mencari lamun atau rumput laut yang sekiranya bisa dimakan.
  • Beberapa bagian tubuh dugong lainnya juga memiliki rambut, hanya saja ukurannya lebih pendek. Rambut tersebut bisa ditemukan pada kulit dugong yang tebal, keras, dan memiliki permukaan yang lembut.
  • Memiliki mata yang kecil dan bisa memproduksi air mata.
  • Mempunyai sirip sepanjang 35-45 cm pada bagian dada.
  • Pada dugong muda, sirip berfungsi sebagai pendorong, sedangkan sirip pada dugong dewasa berfungsi sebagai kemudi.
  • Mempunyai suara yang terdengar aneh bahkan menyeramkan. Suara tersebut biasanya dikeluarkan saat dugong berada dalam bahaya.

Dugong jantan dan betina memiliki bentuk luar yang sama. Perbedaannya hanya ada pada posisi celah kelamin keduanya, dimana celah kelamin dugong betina lebih dekat ke anus ketimbang dugong jantan.

Cara Dugong Berkembang Biak

Seperti halnya paus, dugong juga akan berkembang biak dengan cara melahirkan (vivipar). Dugong siap bereproduksi saat memasuki usia 9-10 tahun dengan usia kandungan 12-14 bulan. Dugong betina umumnya hanya akan melahirkan seekor anak dugong saja. Jarak kehamilannya pun cukup lama, yaitu 2,5 - 7 tahun.

Supaya anak yang dilahirkan tidak dimangsa, dugong betina akan melahirkan anaknya di perairan yang dangkal dengan kedalaman sekitar 2-2,5 meter. Setelah lahir, dugong betina akan menyusui anaknya selama 1-2 tahun.

Habitat Dugong di Indonesia

Di Indonesia, dugong masih ada dan umumnya berhabitat di wilayah perairan Indonesia Timur, seperti Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat. Wilayah tersebut memiliki populasi padang lamun cukup tinggi, sehingga dugong pun banyak ditemukan di sana. Sebab, keberadaan dugong sangat berasosiasi dengan populasi padang lamun pada suatu wilayah.

Ada sekitar 15 spesies dugong di Indonesia yang terdiri dari 2 suku dan 7 marga. 12 diantaranya bisa dijumpai pada wilayah perairan Indonesia Timur, sedangkan 3 lainnya baru ditemukan pada 2007 oleh Kuo.

Salah satu contoh daerah tempat dugong berada adalah Kampung Sawatut, Distrik Makbon, Sorong, Papua Barat. Warga di sana mengaku sering melihat dugong berenang menghampiri pantai untuk memakan lamun.

Status Perlindungan Dugong di Indonesia

Di Indonesia, dugong mendapatkan status perlindungan lewat beberapa undang-undang, salah satunya Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Permen LHK) no. P20/MENLHK/SETJEN/KUM 1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Pada undang-undang tersebut, dugong terdaftar sebagai spesies mamalia laut yang harus dilindungi, selain lumba-lumba dan paus.

Walaupun sudah mendapat status perlindungan, populasi dugong justru semakin berkurang dan rentan mengalami kepunahan. Selain karena tingkat reproduksi dugong itu sendiri yang tergolong lambat, ada faktor lainnya yang membuat populasi dugong begitu rentan. Salah satu faktor penyebab yang paling besar adalah perburuan ilegal terhadap dugong.

Para pemburu ilegal mengincar dugong untuk diambil bagian daging dan lemaknya untuk dikonsumsi. Ada juga yang memburu dugong untuk diambil air matanya. Hal ini berdasarkan mitos di sejumlah tempat yang meyakini jika air mata dugong kaya khasiat, entah itu sebagai alat pemikat cinta sampai jimat pengusir roh jahat.

Selain tingkat reproduksi dan perburuan, masih ada beberapa faktor lainnya yang bisa membuat dugong semakin rentan punah, yaitu:

  • Populasi lamun yang berkurang akibat penurunan kualitas air laut atau pembangunan di wilayah pesisir.
  • Ancaman dari predator alami dugong, seperti buaya air asin dan paus pembunuh.
  • Pencemaran laut.
  • Tertabrak perahu.
  • Pencemaran air laut.
  • Faktor alam seperti cuaca ekstrem, badai, dan angin topan.

Saat ini, belum diketahui pasti berapa jumlah populasi dugong di Indonesia. Hal ini tidak lepas dari minimnya survei ekologis terhadap populasi dugong. Kalau pun diadakan survei ekologis, peneliti akan membutuhkan banyak waktu, sumber daya, dan biaya sehingga sulit untuk melakukannya.

Seperti yang disinggung di awal artikel, keberadaan dugong sangatlah penting bagi eksistensi lamun. Menurut Sekar Mira selaku Peneliti Mamalia di Pusat Riset Oseanografi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), lamun yang dikonsumsi dugong memiliki kemampuan tumbuh dan subur yang cepat.

Jika lamun terus dikonsumsi dugong dan kelestariannya tetap terjaga, lamun akan menjadi tempat yang nyaman bagi para spesies ikan lainnya, baik sebagai tempat berlindung, berkembang biak, maupun mencari makan. Kelestarian lamun juga akan berdampak positif terhadap penyerapan karbon, dimana lamun diperkirakan memiliki kemampuan menyerap 3-5 lebih besar dari vegetasi daratan.

Upaya Pelestarian Dugong di Indonesia

Keberadaan dugong perlu dilestarikan supaya populasinya tidak semakin berkurang bahkan terancam punah. Di Indonesia, upaya pelestarian dugong dilakukan lewat program Dugong and Seagrass Conservation Project (DSPC). Sesuai namanya, program tersebut berfokus pada penyelamatan populasi dugong dan lamun dari ancaman kepunahan.

Masyarakat turut dilibatkan pada program ini, dimana mereka akan diajarkan bagaimana cara melakukan konservasi terhadap dugong dan lamun yang ada di wilayah mereka.

Masyarakat Indonesia juga bisa berkontribusi pada program DSPC lewat cara-cara lainnya, yaitu:

  • Mempelajari dan menyebarkan informasi tentang dugong dan lamun kepada orang-orang sekitar untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap dugong dan lamun.
  • Melaporkan kasus pencemaran di sekitar wilayah lamun dan kasus kematian dugong kepada aparat terdekat.
  • Tidak membuang sampah ke laut.
  • Tidak membeli makanan atau barang yang dibuat dari tubuh dugong.

Referensi:

https://kkp.go.id/djprl/bpsplmakassar/page/1860-dugong#:~:text=Dugong%20memiliki%20peranan%20yang%20sangat,tidak%20berlebih%20tidak%20juga%20hilang.

https://kkp.go.id/djprl/lpsplsorong/artikel/34537-habitat-dugong-di-perairan-wilayah-indonesia-timur-maluku-maluku-utara-papua-dan-papua-barat

https://kkp.go.id/djprl/lpsplsorong/page/1912-dugong

https://www.ekuatorial.com/2022/10/menyelamatkan-dugong-di-laut-indonesia/

https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5588504/mengenal-dugong-mamalia-yang-sering-disebut-duyung-dan-hampir-punah

chrome-extension://efaidnbmnnnibpcajpcglclefindmkaj/https://www.mongabay.co.id/wp-content/uploads/2019/03/Permen-Jenis-Satwa-dan-Tumbuhan-Dilindungi.pdf

https://www.wwf.id/spesies/dugong

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Anggie Warsito lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Anggie Warsito.

Terima kasih telah membaca sampai di sini