Ragam Kuliner Khas Flores NTT yang Unik dan Autentik

Ragam Kuliner Khas Flores NTT yang Unik dan Autentik
info gambar utama

Alam Kota Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) begitu indah dipandang mata. Seakan waktu tak pernah cukup untuk menjelajahi gugusan pulau nan cantik dan gunung-gunung tinggi menjulang.

Selain menyambangi lokasi wisata terbaik, berlibur ke Flores tentu wajib mencicipi beragam kuliner dari masyarakat di sana. Aneka ragam makanan dan minuman masih dibuat secara tradisional. Tapi, terkadang, nilai jualnya justru lebih tinggi.

Nah, jika Anda berniat tamasya ke Flores, sempatkanlah untuk mencicipi 5 kuliner berikut ini.

1. Kukih surabe

Nenek moyang NTT mewariskan kuliner lokal bernama kukih serabe, kue bulat yang terbuat dari beras, ubi kayu, atau keladi. Camilan ini bisa dijumpai di kampung-kampung Manggarai Barat, Flores. Ia terbilang makanan khas kaum wanita NTT.

Para perempuan di sana mengolah kukih surabe secara mandiri dengan belajar dari orang tua mereka. Kue itu biasa disajikan sebagai menu utama pada pesta adat, pernikahan, syukuran, ritual penti, kunjungan pejabat, bahkan peresmian gereja katolik. Berkunjung ke Flores tak lengkap kalau belum mencicipi penganan ini.

2. Kopi Flores

Kopi Flores sangat ternama di kalangan industri kopi. Jenis kopi ini ada dua, yakni manggarai dan bajawa. Nah, popularitas kopi bajawa itu sudah mendunia.

Perkebunan kopi bajawa ada di dataran tinggi Ngada yang terletak 1.000 hingga 1.550 mdpl. Tanah perkebunan ini sungguh subur, sehingga kopi Flores tumbuh dengan baik. Semakin tinggi kawasannya, semakin baik kualitas kopinya.

Kopi arabika Flores Bajawa menjadi komoditas ekspor terbesar dari Indonesia. Satu pohon bisa memproduksi 4-5 kilogram kopi. Harga yang ditawarkan sangat mahal dibandingkan kopi dari daerah lain. Amerika dan Eropa hanyalah beberapa dari banyak negara yang langganan kopi ini. Mungkin cita rasa dan aroma kuat dari kopi Flores Bajawa menjadi yang paling memikat. Rasanya yang ringan, bisa dikonsumsi oleh siapapun.

Legenda Pelarian Raja Gonzales, Kisah Asal Mula Suku Melayu Portugis di Flores

3. Sopi

Sebagian masyarakat Flores sangat akrab dengan sopi atau moke, minuman arak dari fermentasi enau yang diproses secara tradisional. Seakan menjadi tradisi, pesta rasanya tak meriah tanpa menenggak sebotol sopi. Umumnya, tuan pesta bakal menyediakan banyak botol sopi untuk para tamunya.

Dalam beberapa ritual adat di Flores dan sekitarnya, sopi hampir selalu disajikan. Itulah yang menunjukkan bahwa minuman ini telah menyatu dengan warga Flores.

Cara membuat sopi sangat sederhana. Getah dari air hasil sadapan mayang enau ditampung dalam wadah bambu. Waktunya penyadapan itu bisa dari pagi hingga petang, kalau cuaca buruk bisa dua minggu.

Setelah cukup, getah-getah tersebut dimasak dalam periuk tanah. Uapan yang muncul disalurkan melalui sebuah alat dari bambu. Hasil uap itulah yang akan menjadi air dan menghasilkan sopi. Satu botol sopi dibanderol Rp10.000 sampai Rp50.000 tergantung kualitasnya.

4. Catemak jagung

Catemak jagung biasa dihidangkan sebagai makanan penutup dan bentuknya seperti bubur. Bahan dasar pembuatannya terdiri dari biji jagung, kacang tanah, kacang hijau, dan aneka sayur, sehingga menghasilkan cita rasa yang kaya. Warna kuah catemak jagung cenderung cokelat, agak mirip kolak.

Cara membuatnya tak begitu sulit. Langkah pertama, kacang tanah dan hijau direbus hingga teksturnya empuk. Kalau sudah, taburi garam dan penyedap rasa. Masukkan sayur mayur, lalu aduk. Setelah kuahnya kental dan semua bahan kiranya sudah matang, catemak jagung siap disajikan. Oh iya, warga Ruteng dan sekitarnya biasa menambahkan labu lilin dalam olahan catemak jagung.

Bubur ini tergolong sehat karena banyak vitamin di dalamnya. Misalnya, vitamin b kompleks yang bermanfaat menjaga kesehatan saraf, memperkuat tulang, membuat awet muda, mengurangi gejala kurang darah, serta melancarkan pencernaan.

5. Kompiang

Berikutnya ada kompiang, roti berbentuk bulat sebesar bola tenis berwarna cokelat. Secara bentuk, dia agak mirip dengan onde-onde karena di bagian atasnya juga ditaburi biji wijen.

Kudapan ini pertama kali muncul di Ruteng pada 1983, dibawa oleh penduduk Tionghoa. Kemudian, masyarakat setempat pun mengadaptasinya menjadi kompiang yang sekarang.

Mulanya, kompiang hanya tersaji pada acara keluarga, tapi seiring waktu keberadaannya pun kian populer. Kini kompiang telah menjadi oleh-oleh khas Manggarai, Flores, dan Ruten favorit wisatawan domestik dan mancanegara.

Kenikmatan Hasil Bumi Flores dalam Secangkir Minuman Hangat

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Afdal Hasan lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Afdal Hasan.

AH
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini