Legenda Pelarian Raja Gonzales, Kisah Asal Mula Suku Melayu Portugis di Flores

Legenda Pelarian Raja Gonzales, Kisah Asal Mula Suku Melayu Portugis di Flores
info gambar utama

Bangsa Portugis tidak hanya meninggalkan agama Katolik, gereja dan reruntuhan benteng pertahanan, tetapi juga meninggalkan jejak genetik di Flores. Bisa jadi bila bertemu keluarga Da Costa, Fernandez, atau De Costa masih ada sisa darah Portugis di dalam tubuhnya.

Hal ini terlihat dari masyarakat di Kecamatan Adonara Barat, di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur yang mengaku tidak bisa memakai bahasa Adonara karena sejak lama menggunakan bahasa Melayu.

“Kami juga tidak bicara bahasa Adonara. Sejak dulu kami hanya omong Melayu. Nenek moyang kami orang Portugis asal Malaka yang sudah menetap di sini sejak abad ke-17,” kata Anton Fernandez yang dimuat Kompas.

Mengingat Kehangatan Keluarga Bersama Jagung Titi Kuliner Khas Flores

Karena itulah, kebudayaan dan adat istiadat orang Wure atau Nagi Wure juga berbeda dengan suku Adonara maupun orang Flores pada umumnya. Disebutkannya, dia tidak mengenal adat perkawinan dengan belis atau mas kawin berupa gading.

“Adat perkawinan kami di sini lebih sederhana, lebih mirip tata cara pernikahan orang Barat,” kata Yosef Fernandez, Kepala Desa Wure.

Raja Gonzales datang ke Flores

Dikatakan oleh Antonius, pemangku adat Desa Wure, pada awal abad-17 aja Portugis di Malaka, Gonzales melarikan diri dari kota pelabuhan di Semenanjung Melayu itu untuk menghindari kejaran Belanda.

Sang Raja disertai sekitar 1.000 orang pengikut dari berbagai golongan, seperti tentara, rohaniawan, pedagang, dan warga biasa. Mereka menggunakan 10 kapal dan 5 kora-kora atau perahu kayu panjang.

Rombongan ini mula-mula ke Singapura, tetapi karena terus diburu Belanda, mereka lari ke Makassar, Ambon, dan akhirnya ke Flores yang juga koloni Portugal. Akhirnya mereka ke Pulau Adonara dan bermukim di Wure, di pantai barat Adonara pada 1603.

Menyoal Sampah Hutan, Ferdinand Hamin: Ini Memang Persoalan Mental

Setelahnya, Raja Gonzales dan rakyatnya pun menemukan tempat yang aman di Wure. Mereka mulai menata lagi kehidupan, membangun permukiman lengkap dengan gereja. Setelah beberapa generasi hidup, kini mereka dikenal sebagai orang atau suku Wure.

Mereka pun beradaptasi dengan alam dan masyarakat asli Adonara, dengan hidup sebagai nelayan dan petani. Hingga kini, orang Wure umumnya bekerja sebagai nelayan dan petani yang antara lain menghasilkan kopra, kopi, dan mete.

Jejaknya kini

Mulyawan Karim dalam Legenda Raja Gonzales di Flores meyakini cerita rakyat Wure ini lebih merupakan legenda daripada cerita sejarah. Hal ini lantaran tidak masuk akal bila pelarian itu terjadi pada awal abad ke 17, karena Malaka saat itu masih dikuasai Portugis.

“Waktu itu Belanda dan VOC berkedudukan di Batavia. Malaka baru direbut Belanda dari tangan Portugis menjelang pertengahan abad ke 17, persisnya pada 1640,” paparnya.

Tetapi dalam tulisan sejarah, sejak awal abad ke 16, kaum pria Portugis yang berlayar ke belahan dunia timur untuk mencari rempah-rempah biasa mengawini perempuan-perempuan pribumi di negeri-negeri koloni mereka.

Kisah Iin Herlina dalam Upaya Meningkatkan Literasi di Wilayah Pelosok Flores

“Hal ini karena untuk memperkuat pengaruh politik dan mempercepat penyebaran agama Katolik yang mereka bawa,” jelasnya.

Disebutkan oleh Karim, sekilas penampakan orang Wure yang keturunan Portugis tak beda dengan saudara-saudara mereka yang mengaku asli Flores. Berkulit agak gelap dan berambut hitam lurus atau ikal.

Hal ini diduga karena hidup di Malaka, nenek moyang mereka adalah Portugis berdarah campuran Afrika, India atau Melayu yang oleh orang Belanda masa itu disebut Zwart Portugezen alias orang Portugis Hitam.

Kini yang tersisa dari nenek moyang mereka hanya nama Portugis, tempat ibadah, dan upacara. Di luar itu, semua nyaris tak ada lagi aspek-aspek budaya Portugis yang diwarisi generasi muda Wure.

Dikatakan Fernandez, sejak abad ke 19, banyak adat istiadat dan kebiasaan khas Portugis yang hilang dari Wure. Alam Adonara yang keras dan minimnya fasilitas kesehatan juga mengancam eksistensi warganya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini