Menyoal Sampah Hutan, Ferdinand Hamin: Ini Memang Persoalan Mental

Menyoal Sampah Hutan, Ferdinand Hamin: Ini Memang Persoalan Mental
info gambar utama

''...itu biasanya sampah yang datang dari perkotaan, sampah plastik, bekas minuman, kulit kabel, dikemas dalam karung dan digeletakkan saja di pinggir jalan...''

---

Pegiat LSM Burung Indonesia, Ferdinand Hamin, menyoroti dan mengaku ironis melihat kesadaran akan kebersihan pada masyarakat. Apalagi melihat sampah yang malah menumpuk di gunung atau hutan.

Ferdy--sapaan akrabnya--tidak habis pikir masyarakat lebih memilih membuang sampah di sekitar hutan, ketimbang di tengah kota yang memiliki banyak fasilitas tempat sampah. Padahal banyaknya sampah yang menumpuk di sekitar hutan, akan memberikan kerugian pada masyarakat untuk jangka panjang.

"Pada akhirnya saat hujan, sampah ini akan mengalir ke sungai, lalu ke laut. Persoalannya nanti akan menjadi sampah pesisir, lalu akan ke kota lagi. Mencemari air di masyarakat," ucap Ferdy saat dihubungi GNFI, Sabtu (3/9/2021).

Dalam tuturannya pada penulis GNFI, Rizky Kusumo, Ferdy menceritakan kondisi sampah yang mulai mengancam alam dan hutan di Flores. Juga bagaimana masyarakat lokal berperan dalam pengelolaan sampah ini.

Berikut kutipan bincang-bincang Ferdy dengan GNFI.

Tanggapan Anda soal sampah hutan/gunung yang sedang ramai belakangan ini?

Tentang sampah sangat ironis ya. Kesadaran membuang sampah sangat rendah. Di semua tempat persinggahan yang menurut mereka teduh, bisa mengaso dari perjalanan panjang malah disana tumpukan sampah ada.

Faktanya memang tempat yang teduh yang memiliki banyak tumpukan sampah. Biasanya karena jauh dari pemukiman, tersembunyi dari pantauan warga sekitar.

Memangnya, dari mana sampah ini berasal?

Itu biasanya sampah yang datang dari perkotaan, sampah plastik, bekas minuman, kulit kabel. Itu dikemas dalam karung dan digeletakan saja di pinggir jalan.

Di tempat saya berada ini (saat telepon) saya liat ada satu dua kantong kresek diletakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Mengapa persoalan sampah ini tidak pernah selesai?

Persoalan pertama edukasi, edukasi kurang walau di medsos gencar disampaikan. Pemda (pemerintah daerah) sering melakukan kampanye pengolahan sampah tapi kurang efektif.

Hal ini karena persoalan masyarakat ini kan, mereka tidak memiliki tempat pembuangan sampah yang cukup besar untuk skala rumah tangga.

Umpamanya ada 1, 2, rumah tangga yang sedang melakukan renovasi. Mereka memiliki jumlah sampah yang banyak dan memiliki kendaraan angkut.

Jadi sembari jalan, sampah ini ditaruh di tempat yang tersembunyi dari jangkauan orang. Ini memang persoalan mental orangnya.

Bagaimana kondisi hutan-hutan di Flores, apakah masih terjaga dari sampah?

Kalau di dalam kawasan hutan yang jauh dari jalan raya itu masih bersih. Karena interaksi orang dengan hutan masih tradisional. Belum ada sampah yang masuk kawasan hutan.

Tapi beberapa jalan di Flores ini--Trans Flores--ada yang membelah kawasan hutan. Sehingga banyak orang yang juga membuang sampah disekitar hutan tersebut.

Sampah, Salah Satu Penyebab Peristiwa Karhutla di Kalimantan dan Upaya Mengatasinya

Kemarin ramai tumpukan sampah dari perusahaan kurir di sekitar hutan Flores, bagaimana kabar terakhirnya?

Iya kemarin saya angkat soal sampah itu ke media sosial. Karena jelas nama karungnya JNE sama Ninja Express.

Lalu kita hubungi perusahaan kurir tersebut, respon JNE cukup bagus. Mereka bertanggung jawab. Mereka tidak mempermasalahkan sampah ini punya siapa.

Bisa saja orang yang tidak bertanggung jawab menggunakan karung mereka untuk mengumpulkan sampah. Sementara Ninja Express bilang sudah bayar retribusi sampah ke Pemda.

isu sampah hutan
info gambar

Siapa saja pihak yang sering protes tentang urusan sampah ini?

Lebih banyak masyarakatnya yang komplain. Ada juga Kelompok Sadar Wisata. LSM juga. Ada beberapa yang ditanggapi ada juga yang tidak.

Apakah masyarakat dan pihak LSM sudah melakukan diskusi dengan pemda?

Belum menyampaikan secara resmi. Tapi secara lisan sudah kita sampaikan, kita tunjukan foto-foto. Kita minta untuk diperhatikan.

Memang pertanyaannya, setelah masyarakat sudah mengumpulkan sampah, bisa enggak dinas lingkungan hidup mengambil sampahnya.

Biasanya, dari Pemda belum ada insiatif untuk sampah ini. Kecuali kemarin ada dari Kesatuan Pengolaan Hutan (KPH). Mereka punya kendaraan untuk angkut sampah.

Tapi itu setelah masyarakat mengumpulkan dalam tong-tong. Itu juga kondisional, nunggu sampai viral dulu di media sosial.

Menyelamatkan Gunung Rinjani dari Persoalan Sampah

Apa sudah ada ancaman kerusakan hutan dari sampah ini?

Kalau sampah ada di kawasan hutan itu daya resapan air akan semakin rusak. Terganggu. Hal ini karena sampah--terutama plastik--tidak cepat terurai. Jadi saat air hujan turun tidak akan terserap maksimal ke dalam tanah.

Kemudian, sampah ini akan mengalir ke sungai, lalu ke laut. Persoalannya nanti akan menjadi sampah pesisir, lalu akan ke kota lagi. Mencemari air di masyarakat

Memang di salah satu desa, banyak yang membuang sampah di sumber mata air. Akhirnya mencemari air minum yang dikonsumsi masyarakat. Walau tentunya hal ini butuh penelitian.

Lantas, sudah adakah upaya literasi?

Sudah, tapi sosialisasi atau ngomong-ngomong ini kan tidak cukup. Coba--pemda--buat papan peringatan untuk tidak buang sampah. Di daerah yang berpotensi menjadi tempat pembuangan sampah.

Kalaupun ada orang yang tetap melanggar ini bebal berarti. Berarti tidak punya kepedulian lingkungan.

Canggihnya Teknologi Insinerasi Sampah di ITF Sunter

Lalu apa prioritas yang perlu dilakukan pemerintah?

Papan edukasi yang dipasang di tempat-tempat yang berpotensi sebagai pembuangan sampah. pemerintah harus membuat papan peringatan.

Di dalam kota diperbanyak tempat pembuangan sampah sementara. Sehingga siapa yang memiliki sampah dengan jumlah banyak bisa taruh di sana. Kemudian edukasi yang masih juga perlu dilakukan.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini