Menyelamatkan Gunung Rinjani dari Persoalan Sampah

Menyelamatkan Gunung Rinjani dari Persoalan Sampah
info gambar utama

Gunung Rinjani di Lombok, Nusa Tenggara Barat, menjadi salah satu gunung favorit para pendaki di Indonesia karena dikenal dengan pemandangannya yang menakjubkan. Gunung Rinjani pun merupakan gunung berapi kedua tertinggi di Indonesia dengan ketinggian 3.726 mdpl dan menjadi bagian dari Taman Nasional Gunung Rinjani.

Selain mendaki sampai ke puncaknya, Gunung Rinjani juga memiliki beberapa spot yang menarik untuk dikunjungi. Salah satu yang paling tersohor ialah Danau Segara anak dengan kedalaman 230 meter dan memiliki air sebiru lautan.

Kawasan sekitaran danau biasanya juga jadi spot populer untuk berkemah karena areanya luas dan datar. Ditambah lagi, di danau terdapat banyak ikan mas dan mujair sehingga para pendaki biasa memancing di sana.

Di sekitar Danau Segara Anak pun masih banyak objek wisata lain yang bisa didatangi, misalnya Hulu Sungai Koko Puteq, Goa Susu, Goa Manik, dan Goa Payung. Sementara itu, di bagian bawah danau terdapat sumber air panas Aik Kalak Pengkereman Jembangan yang biasa dijadikan tempat untuk memandikan benda-benda bertuah seperti pedang dan keris.

Gunung Rinjani, keindahan alam yang terancam

Pesona Gunung Rinjani memang tak terelakkan. Banyak pendaki datang untuk menyaksikan keindahannya secara langsung, tetapi nasib gunung ini malah terancam rusak akibat tumpukan sampah yang dibawa pendaki.

Memang sudah bukan hal yang asing bila para pendaki membawa makanan dan minuman dalam kemasan plastik demi alasan kepraktisan. Sebenarnya, memang tak ada larangan untuk membawa plastik ke gunung, akan tetapi yang jadi masalah adalah saat sampah-sampah yang dibawa tersebut dibuang sembarangan.

Masalahnya lagi, jika semakin banyak orang yang membuang sampah sembarangan ketika mendaki gunung, berarti jumlah sampah semakin menumpuk dan bertebaran di mana-mana.

Keberadaan sampah di gunung tentunya tak hanya sebatas mengganggu pemandangan dan membuat alam tampak kotor. Lebih dari itu, pada akhirnya sampah yang ditinggalkan begitu saja di gunung akan mengganggu ekosistem gunung dan hutan.

Apalagi kita semua tahu bahwa plastik merupakan sampah yang sulit terurai. Sampah-sampah tersebut akan terbawa ke sungai atau sumber air terdekat, kemudian membuat air tercemar, membahayakan hewan, dan mengganggu kestabilan alam.

Upaya Pelestarian Lingkungan Pesisir Pantai Lewat Sekolah Mangrove di Pulau Tawabi

Sampah di Gunung Rinjani

Benjamin Ortega, pria asal Prancis yang bersih-bersih sampah di Gunung Rinjani | Instagram @benjaminortega
info gambar

Baru-baru ini, viral berita tentang pria asal Prancis bernama Benjamin Ortega melakukan bersih-bersih di Gunung Rinjani. Ia bersama agen tour and travel Green Rinjani dan 50 orang porter melakukan kegiatan pembersihan sampah pada 7-9 Juli 2021. Selama 72 jam mereka bekerja keras mengumpulkan sampah hingga 1,6 ton dan didominasi oleh plastik.

“Saya masih tidak percaya apa yang baru saja kami lakukan, dan seberapa cepat kami melakukannya! Sejujurnya tidak ada kata-kata yang dapat menggambarkan betapa senangnya melihat misi ini diselesaikan dengan sukses seperti itu,” tulis Benjamin Ortega di akun Instagram pribadinya.

“Dari ide kecil tentang gunung berapi yang lebih bersih, hingga bertemu Green Rinjani yang luar biasa, merencanakan bersama pembersihan terbesar yang pernah dilakukan di sana, sambil mengumpulkan uang dengan menjual baguette virtual itu kepada kalian untuk membayar 50 porter untuk membantu kami.”

Terakhir, ini adalah sedikit pengingat bagi siapa pun di luar sini bahwa tidak ada mimpi yang terlalu besar untuk diwujudkan! Jadi jangan ragu untuk bermimpi besar dan dorong diri Anda untuk mewujudkan mimpi itu! Dan juga jangan lupa untuk berbuat lebih baik.”

Ari selaku pemilik Green Rinjani mengatakan bahwa kebanyakan sampah yang mereka temukan selama misi bersih-bersih tersebut adalah plastik. Mulai dari botol minuman, plastik bekas, kaleng, gas, tisu basah, hingga bungkus mi instan.

Meski menyayangkan tindakan para pendaki tersebut, ia tetap berharap dengan kegiatan bersih-bersih yang mereka lakukan bisa menginspirasi pendaki lain agar menjaga Gunung Rinjani karena memang bukan tempat pembuangan sampah.

Dedy Asriady, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), menyampaikan apresiasinya kepada Benjamin atas inisiatifnya melakukan pembersihan di Gunung Rinjani. Dedy pun mengatakan bahwa dari data tahunan, sebanyak 70 persen pendaki membawa pulang sampahnya kembali. Namun, masih ada 30 persen yang meninggalkan sampahnya di atas gunung.

Ia berharap komunitas-komunitas atau pendaki seperti Benjamin semakin menjamur sehingga semakin banyak orang yang sadar lingkungan dan melestarikan alam.

Hari Hiu Paus Internasional dan Upaya Pelestariannya di Indonesia

Upaya mengatasi persoalan sampah di Gunung Rinjani

Tak semua area di Gunung Rinjani menampilkan keindahan alam dan memiliki pemandangan yang menyegarkan mata. Cobalah tengok Sungai Selong, sungai sampah yang berada di dekat Bukit Selong, Kecamatan Sembalun.

Pemandangan dari atas jembatan menuju sungai yang mengarah ke rumah adat tersebut sungguh jauh dari kata indah karena hanya ada tumpukan sampah.

M Zaidar Rahman selaku Camat Sembalun sebelumnya pernah mengatakan bahwa warga desa memang masih memanfaatkan sungai sebagai tempat pembuangan sampah. Alasannya karena belum ada sarana dan prasarana yang memadai untuk membuang sampah, baik pembuangan sementara maupun akhir.

Kepala Desa Sembalun Bumbung, Sunardi, pun mengakui jika ada enam desa di Sembalun menghadapi persoalan sampah. Ia menyebutkan ada sekitar lima ribu kilogram sampah per hari yang dihasilkan warga Desa Sembalun Bumbung dan dibuang sembarangan di sungai atau pinggiran hutan.

Baiq Sri Mulya, pendiri Komunitas Perempuan Sembalun Belajar, mengatakan bahwa Kecamatan Sembalun sebagai pintu masuk pendakian Gunung Rinjani memang sudah masuk kategori darurat sampah.

Tak dapat dimungkiri bila perhatian terhadap infrastruktur dasar seperti manajemen sampah masih sangat kurang sehingga sungai, hutan, pinggir jalan, selokan, jembatan, hingga tanah lapang jadi tempat pembuangan sampah.

Sebagai salah satu upaya dalam mengatasi persoalan sampah di Gunung Rinjani ialah melibatkan kaum perempuan di Sembalun untuk mengikuti program pelatihan mengolah sampah menjadi pelet bahan bakar PLTU.

Sebelumnya, pihak Balai Taman Nasional Gunung Rinjani pun pernah membagi-bagikan plastik untuk para pendaki membuang sampah dan membawanya kembali ketika turun. Selain itu, mereka pun menyediakan tong sampah di berbagai titik agar pendaki bisa membuang sampah saat naik atau turun gunung.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

DA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini