Upaya Pelestarian Lingkungan Pesisir Pantai Lewat Sekolah Mangrove di Pulau Tawabi

Upaya Pelestarian Lingkungan Pesisir Pantai Lewat Sekolah Mangrove di Pulau Tawabi
info gambar utama

Indonesia sebagai negara kepulauan, tak perlu dipertanyakan lagi karakteristik sebagai bukti nyata pernyataan tersebut. Berkat status itu pula, tak mengherankan jika Indonesia memiliki berbagai wilayah pantai dan pesisir yang tak terhitung jumlahnya.

Lewat keberadaan ini, ada hal positif yang mengikuti sekaligus dampak negatif yang selalu mengintai bagi penduduk tanah air yang bermukim di kawasan pesisir atau tepi pantai.

Hal positifnya jelas tidak perlu dipertanyakan lagi, wilayah perairan atau laut yang mencapai 2/3 bagian dibanding daratan membuat Indonesia memiliki sumber daya yang melimpah dalam segala hal.

Namun sebaliknya, tak dimungkiri bahwa ada bahaya yang selalu mengintai dan bisa terjadi kapan saja, terutama jika berhubungan dengan kondisi alam yang tidak bisa diprediksi, salah satunya bencana alam seperti gelombang tinggi bahkan tsunami.

Jika sudah seperti itu, antisipasi yang bisa dilakukan adalah kembali lagi dengan memanfaatkan kekayaan alam demi menjaga keseimbangan lingkungan, khususnya di kawasan pantai, dan hutan mangrove atau yang umum dikenal juga sebagai hutan bakau adalah solusi terbaik yang bisa menjadi jawaban.

Abdul Mughni, Pahlawan Lingkungan Mangrove dari Gresik

Hutan mangrove penjaga ekosistem perairan antara laut, pantai dan darat

Ilustrai hutan mangrove
info gambar

Sekadar informasi, mangrove adalah jenis tanaman yang hidup di habitat air payau dan air laut, keberadaannya yang terdiri dari jumlah besar sehingga membentuk hutan dan banyak ditemukan pada kawasan muara dengan struktur tanah rawa dan/atau padat.

Menurut penjelasan yang dijabarkan oleh Badan Riset dan SDM Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), mangrove menjadi salah satu solusi yang sangat penting untuk mengatasi berbagai jenis masalah lingkungan, terutama untuk mengatasi kerusakan yang disebabkan oleh rusaknya habitat untuk hewan.

Bukan hanya itu, mangrove bahkan dianggap sebagai pelindung yang sangat besar, dan telah menjadi salah satu subjek utama bagi pengembangkan lingkungan di Indonesia. Tak heran, jika hingga saat ini banyak lembaga sosial yang bergerak dalam bidang lingkungan terus menyosialisasikan manfaat mangrove.

Kerap dipertanyakan faedah dari keberadaannya, apa saja sebenarnya manfaat detail yang bisa diberikan oleh hutan mangrove bagi lingkungan di kawasan pesisir pantai?

Pertama, hutan mangrove dapat memberikan nutrisi berupa kesuburan tanah yang ada di sekitarnya. Hal ini disebabkan karena letak dari tumbuhnya hutan mangrova berada sekaligus di antara daratan dan lautan.

Tanaman mangrove juga berperan sebagai produsen pada rantai makanan bagi ekosistem laut, yang disukai oleh ikan-ikan kecil dan juga kepiting untuk menggantungkan hidup dengan memakan daun tanaman mangrove.

Kedua, berperan dalam menjaga kebersihan dan keberlangsungan lingkungan. Hal ini terbukti karena faktanya, hutan mangrove yang ada disekitar tepian pantai akan membuat airnya menjadi jernih, lain halnya dengan wilayah tepian pantai yang tidak ditumbuhi dengan hutan mangrove.

Tidak hanya itu, hutan mangrove juga dapat melindungi pantai dari erosi dan hempasan ombak secara langsung.

Ketiga, menjaga iklim serta cuaca yang nyaman bagi penduduk di sekitar pantai, diyakini bahwa perubahan iklim dan cuaca bisa terjadi karena berbagai macam faktor, salah satunya adalah kerusakan sistem dalam alam.

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, hutan mangrove menjadi sumber daya alam yang sangat jelas untuk menjaga ekosistem perairan antara laut, pantai dan darat, dan solusi utama untuk mencegah kemungkinan terjadinya bencana alam di sekitar pesisir pantai.

Nyatanya, masih ada banyak berbagai manfaat yang dapat disuguhkan oleh hutan mangrove sebagai salah satu solusi untuk pelestarian lingkungan.

Karena itu, tak heran jika kampanye ataupun aksi melestarikan hutan mangrove jadi salah satu hal yang paling banyak diberitakan dalam lingkup lingkungan di Indonesia, salah satunya adalah gagasan sekolah mangrove yang belakangan sedang berjalan di wilayah Desa Tawabi.

Berkeliling Menikmati Ekowisata Mangrove Karangsong Indramayu

Menggagas sekolah mangrove sebagai sarana edukasi bagi anak-anak

Forum diskusi terfokus membahas menjaga kelestarian mangrove dan ekosistem laut.
info gambar

Keseriusan dalam memelihara kelestarian lingkungan lewat keberadaan hutan mangrove untungnya juga ditindak lanjuti dengan serius oleh masyarakat di Desa Tawabi, Kecamatan Kayoa, Halmahera Selatan, Maluku Utara.

Melansir Mongabay Indonesia, warga Desa Tawabi menjalin kerja sama dengan Seacology, sebuah organisasi nirlaba berbasis di Californias, AS, yang memiliki visi melestarikan ekosistem dan budaya pulau di seluruh dunia.

Lewat kerja sama tersebut, dijalankan proyek pelestarian ekosistem mangrove sebagai upaya untuk melakukan gerakan tidak hanya menjaga dan melindungi hutan mangrove, namun juga melestarikan terumbu karang lamun dan laut dari sampah serta ancaman kerusakan lainnya.

Dari program tersebut, Seacology diketahui memberikan penghargaan dengan dana hibah untuk pribadi atau kelompok masyarakat di Desa Tawabi, yang menyelamatkan atau menjaga lingkungan.

Hal utama yang tidak kalah penting, lewat kesempatan tersebut pula akan digagas sebuah program yang dinamai sekolah mangrove, dengan tujuan menjadi sumber pengetahuan bagi anak anak dan masyarakat Desa Tawabi, sekaligus menjadi contoh bagi desa lainnya di wilayah sekitar agar bersama-sama memahami perihal karakteristik dan manfaat mangrove.

Dalam pelaksanaannya, sekolah mangrove akan dilengkapi dengan berbagai kegiatan seperti pembibitan dan penanaman mangrove, dan rencana pembangunan taman menanam mangrove, yang mudah dijangkau dan terintegrasi.

Memang, Indonesia sejatinya memiliki banyak kawasan hutan mangrove yang berada di wilayah lainnya, seperti di Bangka Belitung, sejumlah pantai timur Sumatra, atau pantai barat dan selatan Kalimantan.

Namun, rupanya ada alasan di balik dipilihnya Desa Tawabi sebagai wilayah yang akan mendapatkan kesempatan program ini. Selain berkat beberapa kriteria Desa Tawabi yang dianggap layak terutama dalam hal jenis mangrove, Pulau tersebut pasalnya terdapat keberadaan posi-posi lokal Maluku Utara berjenis Sonneratia sp cukup padat.

Sonneratia sp atau yang dikenal juga dengan nama umum perepat atau pidada putih, adalah sejenis pohon penyusun hutan mangrove itu sendiri. Pohon berbatang besar ini sering terdapat di bagian hutan yang dasarnya berbatu karang atau berpasir, dan keberadaannya langsung berhadapan dengan laut terbuka.

Menilik riwayatnya, mangrove berjenis Sonneratia ini, nyatanya tumbuh mengelilingi Desa Tawabi. Namun karena dianggap mengganggu pemandangan kampung, akhirnya pohon tersebut ditebang sampai nyaris habis. Hal tersebut dilakukan karena ketidak pahaman masyarakat sekitar dari manfaat sesungguhnya yang dimiliki oleh pohon tersebut bagi lingkungan.

“Dulu, di depan kampung ini banyak posi-posi (Sonneratia), karena tidak diketahui manfaatnya mereka tebang. Begitu juga banyak karang yang rusak karena bom dan potassium. Semoga makin bertambah informasi dan pengetahuan warga kesadaran juga makin tinggi,” ungkap Ridwan H Nen, Kepala Desa Tawabi.

Karena itu, lewat program sekolah mangrove yang digagas, diharapkan dapat memberikan pengetahuan serta pemahaman kepada masyarakat sekitar untuk tidak lagi menebang mangrove sembarangan, dan keberadaan hutan mangrove dapat kembali pulih seperti sedia kala.

Refleksi Hari Pahlawan, Berbagai Komunitas Menanam Mangrove

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini