Tentang DME, Benarkah Akan Menggantikan Posisi LPG di Indonesia?

Tentang DME, Benarkah Akan Menggantikan Posisi LPG di Indonesia?
info gambar utama

Bukan hanya minyak bumi, salah satu material alam lain yang kini juga sedang diupayakan bentuk energi alternatifnya adalah gas bumi. Dalam penggunaan sehari-hari, pemanfaatan gas bumi yang banyak dipakai adalah gas LPG/elpiji. Kini, salah satu alternatifnya yang sedang dikembangkan adalah DME.

Sekadar informasi, gas LPG selama ini diperoleh dari penyulingan minyak mentah atau dari kondensasi gas bumi dalam kilang pengolahan gas bumi. Pencairannya menjadi LPG bertujuan untuk memperoleh volume yang jauh lebih kecil agar dapat digunakan secara lebih praktis oleh konsumen rumah tangga.

Kembali mengingatkan, dulunya LPG hadir untuk memassalkan penggantian penggunaan kompor minyak tanah di kisaran tahun 2000-an. Kini, rencananya LPG sedang dalam masa penjajakan untuk diganti oleh DME atau Dimethyl Ether.

Ada beberapa alasan yang menyebabkan elpiji akan digantikan oleh DME, salah satunya adalah karena LPG yang saat ini terdistribusi sebagian besarnya masih mengandalkan kerana tau distribusi yang berasal dari aktivitas impor.

Di saat bersamaan, ditemukan fakta juga bahwa DME lebih efisien daripada LPG, dan memiliki lebih sedikit sisa-sisa fraksi karbon yang terbuang dalam proses penggunaannya.

Pertama di Dunia, Sawit Jadi Bensin dan LPG Melalui Co-prosessing

Mengenal DME

Gas DME | FB Anggoro/Antara
info gambar

Menurut penjelasan di laman resmi Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), DME atau Dimethyl Ether memiliki kemiripan dengan komponen LPG, yakni terdiri atas propan dan butana sehingga penggunaannya sesuai dengan LPG.

DME berasal dari berbagai sumber termasuk material yang dapat diperbaharui, misalnya biomassa dan limbah.

Pemanfaatan DME di Indonesia sebenarnya sudah dilakukan sejak tahun 2009. Setelah melalui berbagai tahap uji coba, salah satu wilayah di Indonesia yang sudah menjadi lokasi penggunaan DME berada di Kota Palembang dan Muara Enim.

Tahap uji coba telah dilakukan dalam rentang waktu Desember 2019 hingga Januari 2020. Detailnya, uji coba dilakukan pada 155 kepala keluarga dan secara umum dapat diterima oleh masyarakat.

Karena memiliki kemiripan karakteristik, jika benar-benar berhasil menggantikan LPG nantinya DME dapat menggunakan infrastruktur LPG yang sudah ada sekarang. Mulai dari tabung, storage dan handling eksisting.

Masih berupa campuran, nantinya kandungan yang dibuat dalam tabung akan terdiri campuran DME sebesar 20 persen dan LPG 80 persen.

Lebih dari itu, ada beberapa hal yang membuat DME lebih unggul dibanding LPG. Pertama, DME mudah terurai di udara sehingga tidak merusak ozon dan meminimalisir gas rumah kaca hingga 20 persen.

Mengutip penjelasan di laman resmi Kementerian ESDM, emisi yang dihasilkan DME juga diketahui lebih kecil dari LPG. Detailnya, LPG menghasilkan emisi sekitar 930 kilogram karbon per tahun, sedangkan DME hitungannya akan berkurang menjadi 745 kilogram karbon.

Dari segi penggunaan, nyala api yang dihasilkan gas DME disebut lebih biru dan stabil serta tidak menghasilkan polutan particulate matter (PM) dan nitrogen dioksida (NOX), tidak mengandung sulfur, dan pembakarannya lebih cepat dari LPG.

Siapa Sangka! Indonesia Menjadi Salah Satu Eksportir Gas Alam Terbesar di Dunia

Pembangunan pabrik DME

Penggunaan gas DME | Laily Rachev/BPMI Setpres
info gambar

Keseriusan untuk mengembangkan industri DME di dalam negeri dimulai dari pembangunan pabrik DME di Muara Enim, Sumatra Selatan. Proses pembangunan fasilitasnya membutuhkan dana sekitar 2,3 miliar dolar AS atau setara Rp33 triliun.

Nantinya, fasilitas pabrik ini diproyeksi dapat menghasilkan 1,4 juta ton DME per tahun saat beroperasi. Sudah digarap pada awal tahun 2022 lalu, pembangunan pabrik DME ini rencananya akan rampung dalam kurun waktu 30 bulan atau 2,5 tahun.

Jika pengembangan DME berjalan lancar, industrinya disebut akan mampu menekan subsidi APBN sebesar Rp7triliun, dan menyerap tenaga kerja sekitar 10.600 orang.

Lain itu adanya DME ini juga diyakini mampu menekan impor elpiji sebesar 1 juta ton per tahun. hal tersebut yang diharapkan dapat menghemat devisa impor LPG sebesar Rp9,1 triliun rupiah per tahun, serta diproyeksi akan menambah investasi sebesar 2,1 miliar dolar AS.

Pembangkit Listrik Tenaga Gas Buang di Tuban

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini