Hindari Minum Teh Setelah Makan, Begini Dampaknya

Hindari Minum Teh Setelah Makan, Begini Dampaknya
info gambar utama

Bagi sebagian besar orang, menyeruput secangkir teh setelah makan mungkin jadi hal biasa. Namun, kebiasaan tersebut perlu dihilangkan karena itu tidak sepenuhnya baik untuk tubuh. Sejumlah literatur ilmiah membenarkan bahwa kandungan teh tidak elok jika dikonsumsi setelah makan makanan berat.

Teh diyakini sebagai salah satu minuman yang berkhasiat. Teh bisa menciptakan rasa tenang atau rileks, serta dapat berperan dalam risiko penyakit kronis, seperti obesitas dan penyakit jantung. Tak ayal, teh menjadi minuman favorit kebanyakan orang.

Karena itu, teh kerap kali diminum di berbagai kesempatan, mulai pagi hari, sore hari sambil bersantai, hingga setiap kali usai makan satu porsi makanan berat. Di Indonesia, minum teh setelah makan sudah menjadi kebiasaan. Beberapa rumah makan tradisional bahkan menyediakan teh secara cuma-cuma untuk disandingkan dengan makanan berat.

Teh Kayu Aro, Teh Asal Indonesia Yang Mendunia

Siapa sangka, kebiasaan ini ternyata salah kaprah. Jika selama ini Kawan termasuk tim minum teh setelah makan, maka berhati-hatilah dan perlahan tinggalkan kebiasaan tersebut. Dirangkum berbagai sumber, berikut dampak menyeruput teh setelah makan.

Ilustrasi Teh | Foto: Pexels.com/Nikolay Osmachko
info gambar

Mengganggu Proses Pencernaan

Minum teh setelah makan bisa berdampak buruk karena dapat menghambat penyerapan nutrisi penting dalam sistem pencernaan. Kendati teh mengandung antioksidan dan polifenol yang bisa membantu proses pencernaan, mengonsumsi teh setelah makan justru membuat nutrisi tidak terserap dengan baik.

Hal itu terjadi karena adanya pengaruh dari tanin dan kafein yang juga terkandung dalam teh. Jika teh dikonsumsi setelah makan, tanin dan kafein akan bertindak sebagai penghambat pencernaan. Kondisi ini juga bisa mengencerkan cairan pencernaan, sehingga akan terjadi gangguan pencernaan.

Mengganggu Penyerapan Zat Besi

Teh diketahui mengandung senyawa fenolik. Senyawa ini bisa mengganggu penyerapan zat besi dengan membentuk kompleks besi di lapisan usus lambung. Oleh karenanya, minum teh setelah makan tidak dianjurkan karena berpotensi mengganggu penyerapan zat besi dalam makanan.

Teh Kampul Solo, Lemon Tea Tradisional Khas Nusantara

Jika Kawan masih ingin minum teh setelah makan, pastikan makanan yang dikonsumsi sangat kaya zat besi dan vitamin C. Dengan begitu, efek dari senyawa fenolik bisa diturunkan. Kendati begitu, minum teh setelah makan sangat tidak dianjurkan untuk pasien dengan defisiensi zat besi.

Sebagai informasi, penyerapan zat besi sangat penting untuk tubuh. Penelitian Zijp, dkkk. yang dimuat pada jurnal Critical Reviews in Food Science and Nutrition (2010) menyatakan bahwa sebagian besar masalah kekurangan gizi di dunia disebabkan oleh buruknya penyerapan zat besi dari makanan.

Memicu Produksi Asam Lambung Berlebihan

Daun teh bersifat asam. Apabila dikonsumsi setelah makan, teh akan menjadi pemicu (katalisator) produksi asam lambung secara berlebihan. Sebab itu, minum teh setelah makan tidak disarankan, terlebih bagi orang yang memiliki gangguan saluran cerna.

Dalam kondisi lain, minum teh juga disarankan ketika mual karena asam lambung naik. Hal ini karena kafein dalam teh dapat memperparah kondisi asam lambung seseorang. Namun begitu, teh masih bisa dikonsumsi sebagai penangkal asam lambung naik, selama teh yang diminum tidak mengandung kafein yang berlebihan, seperti teh chamomile dan licorice.

Mengenal Teh Talua, Minuman Tradisional Asal Minangkabau

Agar terhindar dari dampak minum teh setelah makan di atas, ada kiat tertentu yang bisa Kawan lakukan. Kassim Lupao, Spesialis Kesehatan dan Nutrisi dari PanAfricare, menyarankan bahwa teh baik dikonsumsi satu jam sebelum atau satu jam setelah makan.

“Untuk pencernaan dan asupan nutrisi makanan yang tepat, teh dapat diminum satu jam sebelum makan atau satu jam setelah makan," ujar Lupao dikutip dari PanAfricare.

Referensi:The Health Site | Healthline | Halodoc | PanAfricare

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

F
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini