Jalan Panjang Andong: Transportasi Para Bangsawan yang Menolak Punah

Jalan Panjang Andong: Transportasi Para Bangsawan yang Menolak Punah
info gambar utama

Kusir andong dahulunya merupakan simbol status seorang priyayi Jawa yang terhormat dan kaya raya, khususnya di Yogyakarta. Mereka dahulu dikenal sebagai priyagung (orang besar karena kekayaannya), sekarang hidup sebagai rakyat biasa.

Andong yang masih menghiasi jalanan di Yogyakarta telah berubah fungsi. Selain sebagai alat transportasi turisme dan bakul pasar, andong juga menjadi sarana kegiatan kesenian, serta aksesori rumah dan hotel.

Manggala Yudha Keraton Yogyakarta Gusti Bendoro Pangeran Haryo Yudhaningrat yang menaruh perhatian terhadap perkembangan andong menyatakan, istilah andong sebenarnya hanya ada di Yogyakarta.

Menarik untuk Dicicipi, Inilah 5 Kue Tradisional Khas Jogja yang Dijamin Sedap

Dirinya menjelaskan bahwa andong awalnya bukan kereta kuda. Bentuk andong waktu itu lebih pendek, tetapi tetap beroda dua. Sebab,jelasnya, jalan di kota Yogyakarta saat itu sempit. Penumpangnya pun hanya satu orang.

“Namun, sekarang hampir semua bentuk andong berubah menjadi kereta meskipun sebutannya tetap andong,” ujar Yudhaningrat yang dimuat Kompas.

Di Yogyakarta sendiri keberadaan andong dimulai dari berdirinya Keraton Yogyakarta Hadiningrat. Kala itu para Raja Mataram Islam menggunakan andong sebagai kendaraan pribadinya.

Penanda status sosial

Pada awal abad ke 19 hingga abad 20, andong menjadi salah satu penanda sebagai status sosial priyayi keraton yang dimulai ketika keraton yang dipimpin oleh Sri Sultan Hamengkubuwono VII.

Ketika itu rakyat biasa tidak boleh menggunakan andong dan hanya bisa menggunakan gerobak sapi atau dokar. Kemudian pada masa kepemimpinan Sultan Hamengkubuwono VIII sudah bisa digunakan untuk masyarakat umum.

Tetapi ketika itu, penggunaan andong oleh masyarakat masih terbatas. Saat itu, andong hanya digunakan oleh raja hingga ke bawahnya di tingkat wedana untuk menuju desa. Namun sejak itu, pembuatan andong semakin marak.

Calon Mahasiswa Perlu Tahu, Inilah 5 Universitas Terbaik di Jogja

“Ada dua perusahaan pembuat andong asal Belanda yang ada di Indonesia, yaitu Barendsch di Semarang dan Yo Hap di Yogyakarta,” ujar Yudhaningrat.

Setelah munculnya dua perusahaan Belanda, pembuatan andong pelan-pelan dipelajari kaum pribumi. Namun, karena masih sulit, harganya menjadi mahal sehingga para pemodalnya menjadi priyai-priyai baru.

Di Yogyakarta. jelas Yudhaningrat, banyak bermunculan pengusaha andong yang pada waktu itu boleh disebut seperti pengusaha taxi. Beberapa dari mereka lantas menyewakan andong tersebut.

“Ada yang sampai memiliki 10 andong yang kemudian disewakan sebagai alat transportasi penumpang atau untuk mengangkut barang-barang dagangan. Dengan andong, status sosial mereka menjadi meningkat,” ujarnya.

Menolak tergusur

Tetapi dalam perkembangannya, andong semakin lama semakin terdesak oleh adanya angkutan modern seperti bus kota dan taksi. Usaha para priyayi pun tak bisa dipertahankan karena tak kuat membiayai perawatan yang waktu itu relatif mahal.

“Memberi makanan kuda dengan rumput saja biayanya sangat mahal. Para pengusaha andong pun semakin terpuruk dan akhirnya bangkrut,” paparnya.

Pada tahun 1990, jumlah andong yang tercatat di Yogyakarta mencapai sekitar 700 buah. Jumlah itu terus menurun karena banyak yang dijual keluar Yogyakarta. Misalnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membeli 50 andong.

Seru tapi Bikin Merinding, Ini 5 Tempat Wisata Mistis di Jogja

Tetapi ada juga yang masih mempertahankan andong miliknya. Bahkan ada yang usianya mencapai ratusan tahun. Paryono. kusir andong asal Desa Tanjung, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta menganggap andong sebagai wes aji (kemulian besi).

Hal ini karena kereta kudanya bisa bertahan selama hampir 200 tahun. Karena itu secara turun temurun, andong milik Paryono diwariskan mulai dari generasi kakek buyutnya hingga sekarang.

“Ini wesi aji. Saya tak berani mengubah apa pun kecuali memperbaikinya,” tuturnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini