Menjejak Yogyakarta: Bentangan Kota dengan Selimut Mitos yang Mengelilingi

Menjejak Yogyakarta: Bentangan Kota dengan Selimut Mitos yang Mengelilingi
info gambar utama

DI Yogyakarta sebagai kota pendidikan, masih juga merawat mitos untuk tetap hidup bersama mereka. Karena itu, tugu yang berdiri di tengah jalan tidak pernah kesepian meskipun pada dini hari.

“Mitos baru selalu lahir dari tugu. Paling terbaru adalah menyentuh aksara Jawa di Tugu untuk mempercepat kelulusan,” tulis Anton Wisnu Nugroho dalam Tanah Air: Merawat Paradoks, Merawat Indonesia yang diterbitkan Litbang Kompas.

Guru Besar Sejarah Universitas Gadjah Mada, Djoko Suryo menyebut tidak ada ketegangan untuk paradoks di Tugu yang merupakan bagian dari garis imajiner tegak lurus yang menghubungkan Laut Selatan, Keraton Yogyakarta, dan Gunung Merapi.

Menarik untuk Dicicipi, Inilah 5 Kue Tradisional Khas Jogja yang Dijamin Sedap

Laku hening bisa berjalan di tengah tawa cekikikan. Yogyakarta bisa menampung semua. Kemampuan mengelola paradoks itu memang dicita-citakan sejak Keraton Ngayogyakarta dibangun Pangeran Mangkubumi atau Raden Mas Sujana seusai Perjanjian Giyanti (1755).

Sejak Keraton Ngayogyakarta berdiri tahun 1756 dan gelar Hamengkubuwono dipilih, gelar itu dihayati dan diterjemahkan hingga sekarang. Ngayogyakarta berasal dari kata Ayodya (Sansekerta) dan Ngayodya (Jawa), ibu kota Kerajaan Rama dalam epik Ramayana.

Rama adalah inkarnasi Dewa Wisnu sebagai penyelamat dan pemelihara Bumi. Wisnu adalah tipe ideal setiap Sultan Yogyakarta. Wisnu sebagai ksatria termanifestasi dalam Krisna di epik Mahabarata.

“Gambaran ini klop dengan kepribadian HB I sebagai panglima perang yang gagah berani melawan kolonialisme Belanda,” jelas Anton.

Filosofi keraton

Agar cita-cita memelihara seperti Wisnu, secara fisik keraton berada di tengah-tengah antara Gunung Merapi di utara dan Laut Selatan. Keraton yang dibangun di Hutan Beringin juga terletak di Sungai Code di timur dan Sungai Winongo di barat.

Cikal bakal keraton hadir di Gedong Proboyekso (tempat pusaka). Tiang penyangga Gedong Proboyokso dari kayu jati Hutan Beringin itu dinamai Kyai Jegot. Sebelum menetapkan lokasi keraton, HB I bertapa di istana sementara di Ambarketawang.

“Ada wahyu yang saat itu dikejar dan wahyu itu berhenti di Hutan Beringin,” ujar Yudhaningrat, Kepala Bidang Sejarah dan Kepurbakalaan Dinas Kebudayaan DIY.

Calon Mahasiswa Perlu Tahu, Inilah 5 Universitas Terbaik di Jogja

Lokasi keraton kemudian menyerap konsep mandala dalam Hindu. Integrasi itu diwadahi dalam satu pusat (punjering jagad), yaitu Keraton Ngayogyakarta. Meskipun memeluk Islam, warisan Hindu tetap terpelihara.

Misalnya saat pintu untuk wisatawan Keraton dibuka, Kalamakara (penjaga waktu dalam tradisi Hindu) menjulurkan lidah menyambut. Ini dipercaya sebagai penolak bala dari kekuatan jahat yang akan masuk keraton.

Sepasang patung ukuran besar di sisi kiri dan kanannya yang disebut Dwarapala menyapa dengan gadha. Sisi kiri bernama Cingkarabala (penerima kebaikan) dan sisi kanan bernama Balaupata (penolak kejahatan).

Sesaji untuk paradoks

Anton merasakan bahwa meskipun banyak ruang terbuka di Keraton, keteduhan masih tetap terasa karena sebaran pohon sawo kecik. Keteduhan dan ketenangan itu bisa leluasa dinikmati para abdi dalem yang sukarela, tanpa pamrih menjaga keberadaan keraton.

Untuk menjadi abdi dalem, tidak mudah. Bukan para syarat yang nyaris tidak ada. Tetapi pada kesiapan batin di tengah tuntutan hidup serba kebendaan pada masa kini. Banyak yang hanya mencari ketentraman.

“Seminggu dua hari saya mengabdi di Patehan (tempat membuat teh untuk Sulthan). Saya mencari tenteram. Meskipun tidak mendapatkan uang, saya nggak sepaneng (pusing),” ujar Sugito, penjaga Gedong Patehan.

Seru tapi Bikin Merinding, Ini 5 Tempat Wisata Mistis di Jogja

Paradoks lain yang juga hadir di Keraton adalah Gedong Sarang Boyo (bar tempat minum bir) yang dibangun HB VIII untuk otoritas Belanda yang datang ke Keraton untuk berbagai kepentingan, termasuk menyaksikan tari-tarian.

Meski gedung ini kini telah menjadi gudang, sesaji tetap dipasang di bawah dua payung kayu. Sesaji adalah cara simbolis magis masyarakat Jawa menghilangkan hal-hal negatif dari sesuatu.

Karena itu, untuk pohon, gamelan, kereta, pusaka, dan benda apapun, nama selalu diberikan. Untuk dua pohon beringin di alun-alun utara, misalnya diberi nama Kyai Dewadaru (sebelah barat) dan Kyai Wijayadaru (sebelah timur).

Kemenyan dan kembang sekar rutin dibakar di bawah teduhnya. Soal sesaji itu, Yudhaningrat memaknainya sebagai upaya hidup selaras dengan alam, selain hidup selaras dengan sesama manusia dan hidup selaras dengan Allah SWT.

“Ketiga-tiganya harus dijalani dalam keselarasan dan menuju pada Allah.” pungkasnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini