Mengenal Ragam Musik Vokal Etnis Minahasa

Mengenal Ragam Musik Vokal Etnis Minahasa
info gambar utama

Orang Minahasa tak hanya terkenal dengan makanan ekstrem, tapi mereka juga diketahui sangat dekat dengan musik. Masyarakat suku Minahasa terbiasa mengekspresikan perasaan dengan bermusik, terutama bernyanyi. Hampir semua ritual adat dan kegamaan di Minahasa dilangsungkan dengan iringan musik atau nyanyian.

Kesukaan mereka dalam bernyanyi disalurkan dalam bentuk duet, berkelompok, paduan suara, atau solo. Nyanyian tersebut kerap mengiringi berbagai ritual ataupun tarian khas Minahasa. Saking dekatnya kehidupan orang Minahasa dengan musik, mereka pun memiliki seni musik vokal sendiri, walaupun keberadaannya di ambang kepunahan.

Nah, mari mengenal ragam musik vokal khas etnis Minahasa berikut ini.

1. Pupurengkeyen

Musik vokal khas suku Minahasa pertama disebut pupurengkeyen, syair yang mengisahkan tentang silsilah suku bangsa Minahasa, mulai dari Toar Lumimuut, dan seterusnya. Jumlah bait syair tergantung pengetahuan pemimpin lagu. Nyanyian ini biasa dikumandangkan untuk mengiringi tarian Mapurengkei.

Berikut lirik syair pupurenkeyen:

Si Apo' Lumimuut, si Lumimuut,

Apo'ta katare, ya Apo' katare, E royor

Datuk Lumimuut, si Lumimuut,

Datuk kita pertama, ya Datuk pertama,

hai bagus!

Surunamai si To'ar, suruna si To'ar

Apo'ta karua, ya Apo' karua, E royor

Anaknya ialah To'ar, anaknya To'ar

Datuk kita kedua, ya Datuk kedua,

hai bagus!

Kumiite si Mandei, kumiit si Mandei,

Apo'ta katelu, ya Apo'ta katelu, E royor

Berikutnya ialah Mandei, berikut Mandei

Datuk kita ketiga, ya ketiga, hai bagus

Romantika Cengkeh: Berikan Semerbak Aroma Kesejahteraan di Minahasa

2. Eyapen

Eyapen atau Eya merujuk kepada syair yang dilagukan pada waktu upacara kematian di daerah Minahasa. Jumlah baitnya tidak tentu, tergantung keperluan dari pihak penyelenggara atau tuan rumah yang berduka. Tapi, umunya, tiap bait terdiri dari 2 bari atau lebih. Hal unik dari eyapen yaitu penyanyi harus mengucapkan kata “Eya” yang artinya sayang atau kasihan, sebagai tanda bait dimulai atau diakhiri.

Eyapen dapat dilagukan sambil menari Mapurengkey dan Matambok atau duduk saja. Melodinya sama dengan syair Pupurengkein.

Syair pupurengkeyen sebetulnya sudah punah. Untungnya masih ada bukti yang tersisa. Berikut penggalan lirik Eyapen yang dikutip dari Repositori Kemdikbud.

Eya ma'an kita kumura .....

Oh sayang, betapapun jua

Dai'mo mawerenan

Tak dapat lagi dipertemukan

Nu winetengan ni Empung eya

Karena telah dipisahkan Tuhan. Oh, kasihan!

Eya Si wo'on rapita wiay

Oh, sayang, kelihatan seperti hidup di sini

Ta'an dai mo werenta eya

Tetapi tak dapat melihat lagi. Oh, kasihan

3. Wiwinsonen

Wiwinsonen didefinisikan sebagai nyanyian puji-pujian atau pemujaan terhadap alam yang telah memberikan kehidupan bagi leluhur. Nyanyian ini biasa mengiringi tarian adat populer di wilayah etnik Tountemboan, Minahasa.

4. Sasamboan

Musik vokal berikutnya ada sasamboan, nyanyian untuk memohon izin kepada yang Maha Kuasa serta para dewa (leluhur), sebelum memulai aktivitas sosial agar kegiatan tersebut direstui dan baik hasilnya. Seiring waktu, sasamboan dipengaruhi agama Kristen, sehingga nyanyian ini tak lagi disampaikan untuk dewa, tetapi beralih kepada Tuhan yang Maha Esa dalam bahasa Minahasa disebut Opo Empung.

5. Masiserapan

Yang kelima ada masiserapan, nyanyian untuk memuja bulan purnama dan dibawakan bersamaan dengan kegembiraan panen padi. Nyanyian ini biasa mengiringi tari Masiserap, yakni tari pemujaan terhadap bulan.

6. Dedengkuren

Selanjutnya ada dedengkuren, nyanyian yang berisi syair kritikan atau sindiran secara positif. Kiasan-kiasan dalam syair umumnya tidak membuat yang disindir merasa tersinggung atau marah. Fungsi nyanyian ini sebagai alat kontrol perilaku, norma, adat, dan sebagainya, dalam kehidupan masyarakat Minahasa.

7. Kakantaren

Kakantaren ialah sebuah nama yang merujuk kepada semua jenis lagu dari agama Kristen, mulai dari yang dinyanyikan di gereja ataupun pertemuan keagamaan. Tujuannya, untuk memuji keagungan Tuhan dalam kehidupan manusia.

Kata kakantaren berasal dari bahasa Portugis, yakni cantar yang berarti menyanyi. Penamaan tersebut telah dikenal secara umum di seluruh Minahasa. Pada awalnya, nyanyian kakanteran terdiri dari terjemahan lagu-lagu gereja seperti mazmur, dan tahlil dari bahasa Belanda ke bahasa lokal, dilansir dari isi-ska.ac.id.

Berkat Orang Spanyol, Tanaman Cabai Membakar Masakan Minahasa

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Afdal Hasan lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Afdal Hasan.

AH
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini