Lantunan Kidung Syukur dari Masyarakat Lereng Gunung Slamet

Lantunan Kidung Syukur dari Masyarakat Lereng Gunung Slamet
info gambar utama

Lantunan sholawat Nabi Muhammad SAW berlanggam Jawa sayup terdengar mengantar arak-arakan petani berbaju adat Banyumasan menuju Tuk Sikopyah, air mata di lereng timur Gunung Slamet, Jawa Tengah.

Masyarakat Gunung Slamet memanjatkan syukur, mereka bergantian mengambil air dengan sebilah bumbung. Dari air itu, petani nunut urip yang ikut hidup dibalut dengan harmoni alam pegunungan.

Prosesi pengambilan air dari Tuk (mata air) Sikopyah merupakan bagian dari pergelaran Festival Gunung Slamet. Hajatan adat berpadu promosi wisata ini sebagai ungkapan rasa syukur pada Sang Pencipta yang melimpahi tanah dengan kesuburan.

Dimuat dari Kompas, sebelum prosesi pengambilan air dimulai 40 petani dengan pakaian adat Banyumasan berkumpul di halaman masjid Dusun Kaliurip, Serang. Kaum perempuan mengenakan kain warna hijau, sedangkan kaum pria memakai pakaian serba hitam.

Begini Pesan Konservasi dari Lereng Timur Gunung Slamet

Petani perempuan tampak membawa sesaji berisi berbagai hasil bumi. Sementara itu kaum pria membawa lodong, bumbung bambu sepanjang 2 meter dengan ujung dibuat agar runcing untuk wadah penampungan air.

Ketika tiba di depan masjid, pemimpin rombongan sejenak bersimpuh di depan sesepuh. Selanjutnya petani diantar sesepuh menyusur jalan setapak, melintasi perkebunan dan hutan, menuju mata air berjarak sekitar 2 kilometer dari masjid.

“Gema sholawat dan tetabuhan rebana masih menggema mengiringi,” papar Gregorius Magnus Fensso.

Harmoni ala

Prosesi pengambilan air diawali dan diakhiri doa, dipimpin oleh sesepuh. Setelah itu, rombongan kembali berjalan menuju Balai Desa Serang untuk menyemayamkan bilah-bilah bambu yang berisi air.

Air itu akan dibagikan kepada petani guna disiramkan ke lahan mereka. Ritual pengambilan air ini, jelas Samsuri, juru kunci Tuk Sikopyah selalu dilangsungkan tiap bulan Muharam atau Suro dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Mereka mensyukuri sumber air ini sebagai air penghidupan warga Purbalingga bagian utara, seperti Desa Serang, Kutabawa, dan Sirawak. Bahkan aliran air itu mengalir hingga wilayah kabupaten tetangga, yakni Pemalang.

Para Pendaki, Jalur Daki Gunung Slamet Akan Kembali Dibuka!

“Tiga desa ini (Serang, Kutabawa, dan Sirawak) penghasil sayur dan buah-buahan. Dari hasil bumi, kami hidup. Jadi, selain syukur, tradisi ini menjadi penyambung harmoni antara alam dan manusia,” kata Samsuri.

Bagi warga setempat, Gunung Slamet dianggap sebagai simbol keselarasan alam dan manusia. Selain memberi limpahan kesuburan, gunung yang menjulang gagah itu juga beberapa kali menunjukan ancaman vulkanik.

Tahun 2014, saat status gunung ini sempat mencapai Siaga (level tiga), hampir tiap hari puncak gunung bergemuruh keras. Petani ketakutan. Hal ini, kata Samsuri, menjadi penanda bahwa pada suatu batas tertentu, alam tidak bisa dilawan.

Sumber mata air

Kepala Desa Serang, Sugito menjelaskan bahwa mata air Sikopyah adalah salah satu dari tiga mata air terbesar di lereng Slamet. Dua yang lain merupakan sumber air panas, yakni mata air panas Guci (Tegal) dan mata air panas Baturaden (Banyumas).

“Hanya Tuk Sikopyah yang airnya dingin. Ini menyuburkan tanah sehingga hampir semua penduduk bercocok tanam,” jelasnya.

Disebutkan oleh Sugito, dari cerita turun-temurun, asal mula nama Sikopyah berasal dari legenda Haji Mustofa, salah satu penyebar agama Islam di wilayah itu beberapa ratus tahun silam dikabarkan suka bertapa di tempat tersebut.

Nama Sikopyah berasal dari kata Kopyah dalam bahasa Jawa berarti peci atau di tempat lain ada yang menyebutnya songkok atau kupluk. Suatu saat, kopyah Haji Mustofa tertinggal dan hilang di tempatnya bertapa.

Jenis Baru Kodok yang Buktikan Indonesia Kaya Ragam Hayati

“Dari kejadian itu, Mustofa menamakan tempat tersebut sebagai Tuk Sikopyah,” paparnya.

Walau ritual pengambilan air dari Tuk Sikopyah telah berlangsung turun-temurun, baru tahun 2015 dikemas menjadi agenda wisata budaya. Generasi muda di lereng timur Slamet melihat, tradisi ini berpotensi menjadi daya tarik bagi wisatawan.

“Selain melestarikan tradisi kunjungan wisata juga akan semakin mempromosikan desa-desa di Purbalingga di lereng Slamet sebagai kawasan agrowisata terpadu,” kata Sugito.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini