Sempat Mati sejak 2014, Mak Itam Kembali Beroperasi

Sempat Mati sejak 2014, Mak Itam Kembali Beroperasi
info gambar utama

Setelah mati total sejak 2014 karena rusak, kereta Lokomotif Uap Mak Itam kebanggaan kota Sawahlunto akhirnya kembali beroperasi. Penghidupan kembali kereta E 1060 ini dapat terwujud atas dukungan anggaran senilai Rp20 miliar dari empat perusahaan BUMN, di antaranya: PT Kereta Api Indonesia (KAI), Biofarma, Pupuk Indonesia, dan Semen Padang.

Peresmian Mak Itam sebagai kereta wisata digelar di Stasiun Sawahlunto, Kelurahan Pasar, Kecamatan Lembah Segar, Kota Sawahlunto, Sumatra Barat, Selasa (20/12/2022). Acara diawali dengan siram dan pecah kendi oleh Walikota Sawahlunto Deri Asta.

Pengoperasian KA Mak Itam bertujuan untuk meningkatkan nilai pariwisata Sumatra Barat, khususnya Sawahlunto. Masyarakat dan para turis kini bisa berwisata dengan kereta api di kawasan Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto, sebuah kawasan Warisan Dunia Baru UNESCO.

Pemerintah Sawahlunto dan PT KAI tengah menyusun jadwal keberangkatan dan harga tiket kereta Mak Itam yang sekarang beralih fungsi menjadi kereta wisata. Ratusan warga yang hadir menyambut antusias pengaktifan kembali lokomotif uap E 1060 ini. Banyak orang yang menantikan Mak Itam hidup lagi karena nilai sejarahnya sangat kental.

Menjelajah Sawahlunto dan Cerita Kelam Manusia Rantai dari Lubang Tambang

Mengutip Kompas.id, dalam perjalanan perdananya saat peresmian, Mak Itam dengan kecepatan 12 km per jam, menempuh jarak sekitar 7 kilmeter dari Stasiun Sawah Lunto menuju Stasiun Muaro Kalaban di Kecamatan Silungkang. Satu gerbongnya dapat mengangkut 25 orang (dulu 30 orang).

Wakil Walikota Sawahlunto Zohirin Sayuti menuturkan, pemkot bersama PT KAI Divisi Regional Sumbar akan menetapkan jadwal operasi Mak Itam beserta tiketnya. Kereta direncanakan akan beroperasi dua kali dalam sepekan. Jika peminatnya banyak, jadwalnya akan ditambah.

Zohirin menambahkan, pemkot melalui Dinas Kebudayaan menyediakan anggaran pendukung biaya operasional Mak Itam yang mahal, bahkan mencapai Rp5 juta untuk sekali jalan. Untuk satu kali pulang balik, kereta uap ini membutuhkan paling sedikit 2 ton batu bara dengan harga Rp2 juta per ton.

Memimpin peresmian pengoperasian Mak Itam, Menteri Erick Tohir mengatakan, dengan aktifnya Mak Itam menjadi kebangkitan pariwisata Sawahlunto dan Sumatra Barat. “Saya mengajak kepala daerah di Sumatra Barat membangun ekosistem yang kuncinya gotong royong. Dalam membangun ekosistem, ego sektoral harus dijauhkan,” tuturnya.

Di samping itu, Direktur Utama PT KAI Didiek Hartantyo menyebut pengoperasian kembali Mak Itam menempuh jalur Sawahlunto-Muarokalaban, membantu memulihkan perekonomian masyarakat, khususnya wisata transportasi.

Sementara Walikota Deri Asta berharap, tahun depan Mak Itam dapat beroperasi hingga ke daerah Silungkang. “Wisatawan transportasi Mak Itam bisa melihat langsung penenunan di Silungkang. Kalau ini terealisasikan, akan lebih meningkatkan ekonomi Sawahlunto dan Sumbar,” kata Deri. Selain proses penenunan, para penumpang Mak Itam juga dapat melihat pembuatan kopi tradisional menggunakan kincir air.

Warisan Budaya Dunia: Tambang Batu Bara Ombilin di Sawahlunto

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Afdal Hasan lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Afdal Hasan.

AH
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini