Menjelajah Sawahlunto dan Cerita Kelam Manusia Rantai dari Lubang Tambang

Menjelajah Sawahlunto dan Cerita Kelam Manusia Rantai dari Lubang Tambang
info gambar utama

Provinsi Sumatra Barat (Sumbar) tidak hanya menyimpan keindahan alam yang memukau, tetapi juga peninggalan sejarah yang tidak ternilai. Salah satu destinasi wisata ini terdapat di Sawahlunto.

Nama Kota Sawahlunto sudah melesat terdengar hingga mancanegara. Bagaimana tidak, kota ini yang pernah disebut kota mati telah bermetamorfosis menjadi salah satu daftar wisata sejarah.

Apalagi, Pertambangan Batubara Ombilin Sawahlunto atau ‘Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto’ menjadi Warisan Dunia kategori budaya yang ditetapkan UNESCO di Azerbaijan pada 9 Juli 2019 lalu.

Sawahlunto awalnya hanya merupakan lembah subur yang dijadikan sawah oleh warga setempat yang berbudaya Minang. Lembah itu dibelah aliran Sungai Lunto.

Nama Sawahlunto sendiri diambil dari kata "sawah" dan Sungai "Lunto". Lembah Sungai Lunto yang subur itu kemudian beralih fungsi menjadi daerah pertambangan batu bara pada zaman kolonial Belanda.

Di muat oleh Tempo dalam buku Kereta Api: Jaringan Kereta Sumatera Barat, Salah Satu Jalur Tertua, kota ini berkembang saat ditemukan oleh William Hendrik van Greve, insinyur pertambangan asal Belanda.

Surau sebagai Basis Pergerakan Melawan Kolonial

Pada 1 Desember 1888 Pemerintah Kolonial Belanda mulai menaman investasi sebesar 5,5 juta gulden untuk membangun infrastruktur dan fasilitas penunjang bisnis pertambangan itu. Mulailah dibangun, baik pemukiman, dapur umum sampai jalur kereta api.

"Kota ini lalu berkembang menjadi kota pertambangan batu bara, pekerjanya kebanyakan narapidana yang didatangkan termasuk Singapura dan Malaysia yang dikenal sebagai orang rantai," tulis buku tersebut.

Pada 1930, produksi batu bara memberi keuntungan 4,6 juta gulden per tahun. Walaupun saat itu luas kota hanya mencapai 778 hektare, penduduknya bisa mencapai 43.576 jiwa dengan lebih dari 700 orang Belanda.

Tambang ini lalu di nasionalisasi, setelah Indonesia merdeka. Wilayahnya bahkan diperluas menjadi 27 ribu hektare lebih. Namun eksploitasi yang berlebih menjadikan tambang tidak lagi bisa berproduksi massal sejak tahun 2000.

Tambang negara ini lalu dilikuidasi PT Bukit Asam, Sumatra Selatan (Sumsel). Para pekerja lalu meninggalkan Sawahlunto. Para penduduk juga meninggalkan kota ini karena tidak ada yang bisa diandalkan sebagai mata pencaharian, Sawahlunto akhirnya bak kota mati.

Cerita kelam manusia rante

Memang banyak cerita seram di Sawahlunto. Maklum, kota ini dihidupkan oleh orang rantai -- para narapidana yang dirantai kaki dan tangannya -- dari berbagai pelosok Nusantara.

"Selain itu ada kisah tentang pekerja tambang yang sakit lalu dibuang saja di sudut kota. Tidak mengherankan jika di pusat kota yang dikelilingi bukit itu banyak didengar cerita tentang hantu bergentayangan," tulis buku Tempo.

Dinukil dari Antara, sebagai upaya untuk mendukung aktivitas pertambangan di Sawahlunto, pemerintah Hindia Belanda mengambil tenaga kerja dari para narapidana yang ada di Nusantara.

Para orang rantai ini lalu dibawa menggunakan kapal laut dari Pelabuhan Tanjung Perak kemudian diturunkan di Pelabuhan Emmahaven--sekarang bernama Pelabuhan Teluk Bayur-- yang dibangun kolonial Belanda antara tahun 1888 dan 1893.

Padang Mangateh, Padang Savana ala Ranah Minang

Mereka kemudian diangkut dengan kereta api ke pusat aktivitas pertambangan di Sawahlunto. Di sini para narapidana tidak lagi menggunakan nama asli mereka, tetapi sudah diganti dengan tanda cap berupa angka.

"Jadi, mandor tidak memanggil nama asli, tetapi menyebut nomor atau angka yang tertera di tangan para napi sehingga di antara mereka sendiri tidak saling mengenal," kata Nurna, pemandu Museum Sawahlunto.

Menurut Nurna, umumnya para narapidana yang diperkerjakan di pertambangan Sawahlunto adalah orang-orang yang dicap pembangkang oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Sebagian dari mereka adalah tawanan politik Belanda, ada juga penjahat kelas kakap.

"Kalau tawanan Belanda itu adalah orang-orang yang melawan Belanda. Mereka ingin mempertahankan tanah nenek moyang mereka yang dirampas Belanda. Mereka adalah orang-orang yang tidak mau menjadi kacung Belanda," katanya.

Nurna mengaku tidak mengetahui persis berapa jumlah tahanan yang diperkerjakan, hanya saja menurutnya bisa melebihi 2.000 orang. Di Sawahlunto ini para narapidana akan dikerahkan habis-habisan tenaganya untuk membuat terowongan tambang.

Tragisnya saat bekerja, para pekerja paksa ini dalam berkegiatan, kaki mereka tetap dirantai. Setelah mereka bekerja, tangan mereka akan kembali di rantai, inilah yang membuat mereka dijuluki manusia rantai.

Ketika mereka bekerja, siksaan cambukan sering mereka terima dari para mandor, makanan yang mereka dapatkan pun sangat terbatas. Karena itu, banyak para pekerja yang meninggal selama berlangsungnya kerja paksa itu.

"Waktu itu, banyak pekerja yang meninggal di dalam lubang tambang. Ketika kami membuka bekas tambang ini pada 2007, kami menemukan banyak sekali tulang belulang manusia," ungkapnya.

Diubah menjadi kota wisata

Pada 2011 lalu, Wali Kota Sawahlunto, Sumbar, Amran Nur mendapat anugerah Tokoh Perubahan dari Republika. Dia dianggap sukses membawa Sawahlunto yang waktu itu terancam menjadi kota mati pascatutupnya operasional tambang batu bara Bukit Asam, menjadi kota wisata.

Amran merupakan insinyur dari Institute Teknologi Bandung (ITB) yang pernah malang melintang di berbagai bisnis di Jakarta. Dirinya memilih untuk pulang kampung dan terpilih menjadi wali kota pada tahun 2003.

Pada awal masa jabatan, dia tidak mengerti apa yang harus dilakukan untuk mengembalikan kejayaan tanah kelahirannya. Tetapi setelah berdiskusi dengan beragam pihak, dia mulai membangun kota bekas tambang ini menjadi sebuah museum.

Beragam tempat bersejarah dirinya mulai buka sebagai tempat wisata, seperti Lubang Mbah Suro, Museum Gudang Ransoem, bangunan-bangunan tua di pusat kota, silo, belakangan dia juga kembali menghidupkan kereta Mak Itam sebagai kereta wisata, plus membuat museum kereta api di stasiun.

"Kota ini sempat membiayai Negeri Belanda, tidak salah kami menyebut kota ini sebagai Belanda Kecil,", tutur pria yang meninggal pada 22 Juni 2016 silam ini.

Dinas Pendidikan Dharmasraya Ajak Ribuan Siswa Terbitkan Buku

Sejak itu perekonomian Sawahlunto mulai meningkat akibat perkembangan wisata yang dibangun Amran. Dirinya juga membangun water boom di Muaro Klaban, taman safari, pacuan kuda dan arena motocross.

Agar menghijaukan kota, Amran juga membagi-bagikan gratis pohon kakao. Ternyata, bukan saja menghijaukan kota, kakao juga sangat bermamfaat bagi ekonomi warga.

Kreativitas tidak hanya berhenti di situ, sementara di Den Haag, Belanda ada North Sea Jazz, Amran tidak mau ketinggalan sehingga memperkasai Sawahlunto International Music Festival. Festival musik ini telah digelar sejak 2010 hingga kini.

"Sesuai dengan visi kota, Sawahlunto kota wisata tambang yang berbudaya," kata Amran yang dimuat dalam buku Tempo.

Kini, Kota Sawahlunto yang dahulunya hanya kampung kecil berpenduduk 500 orang yang dikelilingi hutan belantara, bukit-bukit yang saling menyambung dengan dataran rendah yang sempit menjadi sebuah destinasi wisata baru sejak 2008.

Sudah tidak ada lagi cerita mengenai hantu ataupun maling yang ada hanya keramaian dan keramahan. Sekaligus melihat keindahan dari kota yang disebut sebagai Belanda Kecil dari tanah Minang.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini