Surau sebagai Basis Pergerakan Melawan Kolonial

Surau sebagai Basis Pergerakan Melawan Kolonial
info gambar utama

Di Minangkabau, surau adalah tempat bagi para laki-laki yang telah balig dan orang-orang dewasa yang belum menikah yang tidak bisa tidur di rumah orang tuanya pada malam hari. Di tempat inilah, pemuda yang masih bujang berkumpul pada malam hari untuk tidur bersama. Kemudian, setelah Islam masuk ke Minangkabau, balai pertemuan ini dijadikan sebagai pusat pendidikan.

Diterimanya paham pemurnian Islam di Minangkabau terlihat dengan berubahnya paham yang berkembang di masyarakat. Sebelum datangnya pemurnian Islam dalam masyarakat Minangkabau, berlaku sebuah prinsip "Adat basandi syarak, syarak basandi adat".

Prinsip tersebut kemudian berubah menjadi "Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah". Hal ini menegaskan bahwa tidak ditoleransi lagi adat yang berlawanan dengan Islam. Adat dipertahankan jika tidak bertentangan dengan agama, dan adat yang bertentangan dengan agama harus disesuaikan.

Pada pergantian abad ke-20, dimulai gerakan berbeda pada bidang keagamaan. Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, seorang ulama Minangkabau meninggalkan kampung halamannya di Kota Gedang dekat Bukitinggi untuk merantau ke Mekkah.

Perjalanan itu dilakukannya sebagai protes menolak ajaran agama, serta hukum adat yang masih diberlakukan secara matrilineal pada masyarakatnya. Syekh Ahmad kemudian berhasil menjadi seorang imam dari Mahzab Syafi'i di Masjidil Haram.

Syekh Ahmad juga menjadi seorang guru yang berhasil mendidik pemimpin pergerakan Islam modern, seperti Ahmad Dahlan dari Jawa, Syekh Muhammad Taher Jallaludin, dan Abdul Karim Amrullah.

Perhubungan laut yang membaik sejak dibukanya Terusan Zues membuat banyak kaum Muslim Hindia-Belanda diantarkan ke kota suci (Mekkah-Madinah). Mereka yang bermukim di Mekkah sekali lagi mengambil contoh kehidupan Islam khas Timur Tengah. Ketika mereka sampai di Tanah Air, para haji pembawa pembaruan ini kembali bertindak sebagai penyebar Islam ortodoks.

Sekolah Islam Modern Pertama di Indonesia

Sumatera Thawalib merupakan sekolah paling berpengaruh yang didirikan oleh reformis Muslim di Minangkabau. Sekolah ini juga berhasil mencetak pemimpin-pemimpin agama dan pendukung-pendukung gerakan pembaruan.

Organisasi yang lahir di Padang Panjang tersebut berhasil menjadi organisasi pembaruan Islam terbesar di Pulau Sumatera. Dalam perkembangannya, Sumatera Thawalib tersebar pula hingga ke Aceh dan Bengkulu. Organisasi ini menyusun pergerakannya berangkat dari pengajaran madrasah tradisional bernama "Surau Jembatan Besi".

Pendidikan Islam yang diberikan di Surau awalnya bersifat semiformal. Pengajaran oleh guru atau ulama diberikan dengan menggunakan huruf Arab-Melayu. Materi utama yang diajarkan adalah hadis, fiqih, dan ilmu syari'ah. Sistem pengajaran model ini berupa halaqah, yaitu duduk melingkar mengelilingi guru tanpa adanya pembagian kelas. Tujuan pokok dari pengajaran adalah pelajar dapat memahami agama Islam dengan benar dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Burhanuddin Daya, dalam buku Gerakan Pembaharuan Pemikiran Islam : Kasus Sumatera Thawalib, surau jembatan besi adalah surau yang menjadi tonggak awal berdirinya Sumatera Thawalib.

Tuangku (gelar pemimpin agama) pertama Surau Jembatan Besi adalah Syekh Abdullah. Ia memafaatkan surau ini untuk mengabdikan ilmu dan pikirannya, sebagai seorang tuangku. Selain Surau Jembatan Besi, terdapat beberapa surau penting dalam pegerakan Sumatera Thawalib, yaitu Surau Batu Sangkar, Surau Sungai Batang Mininjau, Surau Parebek Bukitinggi. Semua surau ini dibina dan dikembangkan oleh sejumlah haji yang merupakan murid dari Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi.

Kegiatan pengembangan diri bagi pelajar, seperti diskusi, kebebasan berpikir, membaca, dan berkumpul atau berorganisasi didukung pelaksanaanya di Surau Jembatan Besi. Kehadiran Bagindo Jamaluddin Rasyad pada 1915 turut mendorong progesifnya pelaksanaan kegiatan pelajar di Sumatera Thawalib.

Bagindo Jamaluddin mendorong pelajar untuk mengembangkan diri dengan membagikan pengalamannya di Eropa kepada para pelajar. Dalam ceramahnya, Rasyid menjelaskan pentingnya berorganisasi kepada para muridnya. Menurutnya, Eropa telah mempunyai kesadaran yang tinggi dalam berorganisasi.

Krisis yang dialami Minangkabau sebagai akibat perang Minangkabau pada abad ke-19 belum lagi hilang. Bahkan, krisis itu berlanjut ke dalam abad ke-20. Pada awal abad ke-20, "Alam Minangkabau" mengalami serangan dari segala arah terhadap sendi-sendi kehidupanya.

Sementara itu, paham gerakan pembaruan Islam mulai berkembang dalam masyarakat Minangkabau dan paham kebangsaan juga ikut menjalar ke masyarakat. Bersamaan dengan itu, sistem ekonomi Belanda dengan cepat mempengaruhi kehidupan rakyat sampai ke pelosok-pelosok nagari dan menghancurkan sistem perekonomian tradisional rakyat Minangkabau. Keadaan pun semakin diperparah oleh depresi ekonomi yang mulai terasa pada tahun 1920.

Akibatnya, timbulah suatu golongan orang-orang yang merasa tidak puas, sehingga menyuarakan perasaan anti-pemerintah. Kini, akibat peristiwa tersebut, menumbuhkan cikal-bakal kesadaran dan semangat nasionalisme yang bedasarkan nilai-nilai sosial yang baru.*

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini