Padang Mangateh, Padang Savana ala Ranah Minang

Padang Mangateh, Padang Savana ala Ranah Minang
info gambar utama

Kawan GNFI pasti tidak asing mendengar Padang Savana yang terletak di Matamata, North Island-New Zealand. Tapi apakah kalian tahu, di Indonesia juga ada padang rumput yang disebut mirip dengan Savana di New Zealand? Tepatnya, di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Masyarakat Sumatera Barat menyebutnya Padang Mangateh.

Padang Mangateh atau Padang Mengatas ini merupakan balai pembibitan ternak bernama Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT) Padang Mengatas. Peternakan ini dibangun sejak zaman kolonial Belanda tahun 1916 dan dijadikan peternakan kuda. Lalu, di tahun 1936, hewan ternak ditambahkan yaitu sapi jenis Zebu dari Benggala India.

Setelah terbengkalai sekian lama, di tahun 1950, wakil presiden pertama Indonesia, Moh.Hatta, mengembangkan dan membenahi peternakan ini, hingga pemerintah pusat mengambil alih kepengurusannya. Hewan yang diternakkan saat itu ialah kuda, sapi, kambing dan ayam.

Padang Mangateh berlokasi di salah satu sudut kaki pegunungan Sago, Kabupaten Lima Puluh kota dan berada dalam ketinggian 700-900 di atas permukaan laut. Hal ini membuat suhu di padang Mengatas ini sangat sejuk.

Tak hanya itu, kondisi alam yang sejuk membuat rumput tumbuh dengan subur. Menurut informasi, suhu di tempat tersebut berkisar antara 18-28 derajat Celcius.

Di tahun 1955 atau lima tahun setelah dibenahi oleh pemerintah pusat, ranch peternakan ini berhasil menjadi peternakan terbesar di wilayah Asia Tenggara. Selain dijadikan peternakan, tempat ini juga dijadikan penelitian para akademisi bidang peternakan serta menjadi perkembangan penelitian tentang pakan rumput hijau terbaik.

Padang Mengatas,Tempat Wisata di Sumatera Barat | Foto: @oyamagz.com
info gambar

Ada sekitar 1250 ekor sapi jenis Limousin, Simental dan Pesisir atau jenis lokal diternakkan dan di lepas bebas dengan tujuan agar sapi ternakan tidak stress hingga dapat berkembang dengan baik.

Padang Savana ala Ranah Minang ini memang dibuka untuk para wisatawan umum. Namun, setelah sempat viral padang Mangateh sempat ditutup untuk umum. Dikarenakan masih banyak wisatawan yang tidak mengetahui etika saat berwisata.

Banyaknya sampah seperti bungkus makanan ringan, botol minuman berserakan dan mengotori padang tersebut. Bahkan hewan ternak diberi makan sembarangan oleh para pengunjung yang mengakibatkan hewan ternak menjadi sakit.

Dengan begitu, pemerintah membatasi masyarakat yang ingin memasuki padang Mangateh. Kawan GNFI yang berminat mengunjunginya harus mengisi formulir khusus yang disediakan secara online dan mengajukan pendaftaran minimal dua minggu sebelum kunjungan.

Pemandangan puncak gunung Sago bisa dinikmati saat kabut sudah turun. Maka dari itu, bagi Kawan GNFI yang sudah terdaftar menjadi pengunjung Padang Mengatas, alangkah lebih baik datang saat pagi hari dengan membawa bekal sendiri dari tempat tinggal.

Hal ini dikarenakan, di sepanjang tempat Padang Mangateh tidak terdapat pedagang makanan. Mereka hanya menyediakan penginapan saja bagi para pengunjung. Jadi, jangan khawatir bagi Kawan GNFI yang ingin menginap dan menikmati keindahan Padang Savana ala Ranah Minang tersebut, tapi jangan lupa untuk tetap menjaga kebersihan, ya.*

Sumber :kumparan.com

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini