Cepetan Alas, Tari Rakyat dari Kebumen yang Tercipta dari Penderitaan Penjajahan

Cepetan Alas, Tari Rakyat dari Kebumen yang Tercipta dari Penderitaan Penjajahan
info gambar utama

Kabupaten Kebumen menyimpan ragam budaya yang cukup banyak. Di antara beberapa kesenian yang ada di Kebumen, satu yang kini cukup berkembang adalah tari cepetan alas.

Dahulu tari ini tidak terlalu dikenal banyak orang, sebab hanya populer di tempat asalnya di Desa Karanggayam. Sekitar dua puluh kilometer ke arah utara dari Kebumen kota. Seiring berjalannya waktu, kesenian ini pun mulai dikenal di seluruh Kabupaten.

Tari Lenggasor, Tari Kreasi Baru asal Purbalingga yang Berbasis dari Tari Lengger

Tercipta dari penderitaan di masa penjajahan

historyandlegacy-kebumen.blogspot.com
info gambar

Awal tercipta tarian ini bermula dari penderitaan masyarakat Karanggayam saat penjajahan Jepang. Tak hanya itu, mereka juga sedang dilanda wabah penyakit. Tepatnya di tahun 1943.

Sektor pertanian pun tak bisa diandalkan lagi. Akhirnya, ada perintah dari sesepuh desa untuk membuka lahan baru. Tepatnya di kawasan hutan Curug Bandung yang konon penuh dengan makhluk halus.

Setelah berpindah, warga mendapatkan gangguan dari berbagai makhluk penghuni hutan, mulai dari hewan sampai makhluk halus.

Karena penderitaan yang yang tak kunjung selesai, warga pun berdoa agar segala cobaan ini bisa segera berhenti. Doa mereka pun terkabul, hasil panen juga semakin subur. Lalu, ada seorang perwakilan dari petani yang mendapatkan firasat untuk membuat sebuah ciptaan bentuk cepet berupa topeng.

Pada penuturan lain, topeng yang berbentuk menyeramkan ini juga bertujuan untuk menakut nakuti para penjajah Jepang agar mereka tidak datang ke pemukiman warga. Seiring berjalannya waktu, dari gerakan dan kostum yang menakutkan tersebut terciptalah tarian cepetan alas.

Sejak 1943, tarian ini sudah ditampilkan ke generasi ke-7. Selepas penjajahan, tarian ini pun menjadi wujud tontonan yang menceritakan kegembiraan sekaligus sebagai sarana penyaluran kesenian warga lokal.

Geowisata Karangsambung Kebumen, Rumah Batuan Tertua di Pulau Jawa

Pementasan tarian

Ciri khas utama dari tarian ini adalah topeng. Properti ini jadi hal wajib ketika pementasan. Bentuk topeng ini punya banyak variasi. Mulai dari petani, satria, binatang buas, hingga topeng yang menggambarkan makhluk halus seperti cepet.

Dalam pementasan, biasanya ada sebelas hingga tujuh belas penari. Dari segi ragam gerak, cepetan alas ini punya gerakan yang sangat dinamis dan tergolong ekstrem. Demikian pula dengan musik iringannya. Gerakan ini menggambarkan perlawanan ketika berhadapan dengan penjajah jepang maupun penghuni hutan.

Untuk iringannya menggunakan gamelan laras slendro dan bedug. Gending atau lagu yang digunakan menciptakan nada yang erat dengan nuansa peperangan. Penggambaran atas perjuangan penduduk kala itu seakan betul-betul terasa ketika pentas berlangsung.

Selain topeng, kelengkapan pementasan lainnya adalah baju berwarna hitam. Warna ini mengacu pada penggambaran karakter makhluk halus cepetan alas. Seiring berjalannya waktu, ada beberapa pengembangan untuk kostumnya. Meskipun begitu, perubahan ini tidak mengurangi nilai yang terkandung pada pementasan.

Pada pementasan, terdapat sesi ketika para penari mengalami kesurupan. Dimana para penari mulai bertindak lain. Seperti memakan bunga, kelapa, hingga pecahan beling. Memang terdengar ekstrim, tapi bagian inilah yang kerap ditunggu oleh penonton.

Menyantap Nasi Penggel, 'Nasi Kepal' Asal Kebumen

Terus dikembangkan

kebumenkab.go.id
info gambar

Meskipun ada beberapa pengembangan, para pelaku tari ini tetap mempertahankan nilai tradisionalnya. Segala patokan bakunya tidak ditinggalkan. Mulai dari gending hingga nuansa kostum, semuanya benar-benar otentik.

Untuk sekarang, cepetan alas sudah semakin dikenal oleh masyarakat Kabupaten Kebumen. Bahkan, tari ini dijadikan muatan lokal di sekolah-sekolah. Cara ini juga menjadi sarana regenerasi pelaku seni cepetan. Atau paling tidak mereka bisa mengenal kesenian lokal ini sejak dini.

Cepetan adalah salah satu seni tradisional asal Kebumen yang masih akan terus bertahan hingga masa mendatang. Hal ini tentu tidak lepas dari tekad dan kreativitas para pelaku seni untuk mempertahankan dan mengembangkannya.

Kopi Pesisir Kebumen yang Tumbuh di Dekat Pantai Selatan

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini