Sinterklas Hitam, Pelarangan Pesta Akibat Konflik Irian Barat

Sinterklas Hitam, Pelarangan Pesta Akibat Konflik Irian Barat
info gambar utama

Tanggal 5 Desember diperingati sangat meriah oleh umat Nasrani di Belanda. Mereka rutin mengadakan pesta setiap tahun untuk merayakan hari kelahiran Sinterklas. Sosok itulah yang diduga mengilhami Santa Clause di Amerika Serikat dan Father Christmas di Inggris. Menurut cerita yang beredar, Sinterklas akan tinggal di Spanyol bersama Zwerte Piet, pembantunya.

Sinterklas kemudian datang ke Belanda dengan kereta api. Lalu, dia masuk ke dalam rumah-rumah melalui cerobong asap untuk memberi hadiah kepada anak-anak yang berperilaku baik dan memasukkan anak yang berkelakuan buruk ke dalam karung untuk dibawa ke Spanyol.

Begitulah penggalan kisah tentang Sinterklas. Pesta Sinterklas juga pernah diadakan di Indonesia, bahkan setiap tahun. Namun, pada tahun 1957, presiden dengan tegas melarang perayaan tersebut. Pemicunya, konflik perebutan Irian Barat antara Indonesia dengan Belanda.

Cagar Budaya Tionghoa dalam Gereja Santa Maria de Fatima

Pesta sinterklas di Indonesia dan peristiwa sinterklas hitam

Tak ada catatan waktu kapan pertama kali budaya Sinterklas masuk ke Indonesia. Namun, sebuah cerita mengatakan, Sinterklas pernah datang ke Pelabuhan Sunda Kelapa, dijemput oleh walikota Batavia saat itu. Dia diarak berkeliling kota sampai ke Gedung Societeit Harmoni.

Di gedung itu, Sinterklas berpesta dengan anak-anak Belanda. Beberapa daerah pun turut merayakannya. Seorang antropolog bernama Frieda Arman pernah mencatat, anak-anak Nasrani di Hindia Belanda (sekarang Indonesia) kerap menaruh sepatu berisi rumput dan cawan minuman kuda Sinterklas di bawah jendela kamar atau tempat tidur. Hal ini lantaran rumah-rumah di Hindia Belanda tidak memiliki cerobong asap.

Melansir buku Sejarah Nusantara yang Disembunyikan karya F. Purwoko, Pasca Konferensi Meja Bundar (KMB), orang-orang Belanda dan Indo-Belanda yang tinggal di Indonesia masih merayakan Hari Sinterklas pada 5 Desember 1949. Soekarno pun masih mempertahankan budaya tersebut hingga 1950-an. Namun, memasuki 1957, ketika hubungan Indonesia dengan Belanda mulai memanas karena isu Irian Barat, Soekarno pun melarang perayaan ulang tahun Sinterklas di Indonesia.

Peristiwa ini kemudian dikenal dengan Sinterklas Hitam, simbol perundungan terhadap Sinterklas akibat situasi politik antara Indonesia dan Belanda.

Tepat 5 Desember 1957, Kementerian hukum Indonesia mengeluarkan pernyataan pengusiran 46.000 orang Belanda, atas perintah Soekarno. Warna negara Indonesia yang tinggal di Belanda, diwajibkan segera pulang ke Indonesia. Sejak hari itu, siapapun yang merayakan hari ulang tahun Sinterklas, mereka dianggap menginjak martabat Indonesia dan tidak menghormati kedaulatan. Budaya Sinterklas asal Belanda ini juga disebut tak pantas mendapat penghargaan dari rakyat Indonesia.

Pelarangan pesta Sinterklas dikenal juga sebagai ZwarteSinterklass. Peristiwa ini terjadi satu tahun setelah kunjungan Soekarno ke Vatikan pada 13 Juni 1956.

Konflik Irian Barat

Peristiwa Sinterklas Hitam dipicu oleh konflik Irian Barat. Ringkas cerita, setelah perebutan kekuasaan berlangsung sekian lama, pendirian Irian Barat (sekarang Papua) akhirnya dapat terlaksana pada 27 Desember 1949, diawali dengan KMB. Belanda menyatakan bersedia menyerahkan kedaulatan provinsi ini kepada Indonesia.

Namun, kekacauan masih terjadi. Belanda tetap kekeh menginginkan Papua bagian barat untuk dibentuk menjadi negara sendiri di bawah kendali mereka. Belanda bahkan menjajah Papua dan melancarkan aksi untuk merebutnya dari NKRI. Pada akhirnya, konflik ini dibawa ke forum PBB.

Diskusi itu menghasilkan perjanjian New York. Belanda bersedia menyerahkan Irian Barat kepada United Nations Temporary Executive Authority (UNITEA). Tapi, Belanda memberi syarat. Indonesia diwajibkan melakukan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera), sebuah pemilihan umum yang diadakan pada 14 Juli hingga 2 Agustus 1949. Hasilnya, rakyat Irian Barat memilih tetap menjadi bagian Indonesia.

Semana Santa, Tradisi Paskah di Larantuka yang Jadi Kunjungan Dunia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Afdal Hasan lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Afdal Hasan.

AH
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini