Budaya Mapalus, Bukti Solidaritas Orang Minahasa

Budaya Mapalus, Bukti Solidaritas Orang Minahasa
info gambar utama

Suku Minahasa terdapat di Semenanjung Minahasa Provinsi Sulawesi Utara. Orang-orang suku ini sangat menjunjung tinggi persatuan dan kerukunan. Mereka melestarikan Mapalus, sebuah budaya gotong royong, untuk mengerjakan sesuatu secara bersama-sama demi kepentingan bersama. Budaya ini pun tumbuh menjadi identitas suku Minahasa.

Budaya Mapalus berangkat dari falsafah Sitou Timu Tomou Tou, artinya aktivitas kehidupan masyarakat dengan gotong royong atau bekerja sama. Budaya ini telah melekat sangat kuat pada seluruh lapisan masyarakat Minahasa, termasuk anak muda. Besarnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga Mapalus, membuktikan bahwa orang-orang Minahasa hidup dengan solidaritas yang tinggi. Apapun kegiatannya, senantiasa dikerjakan bersama-sama agar terasa lebih ringan.

Mengenal Ragam Musik Vokal Etnis Minahasa

Mapalus tidak hanya berkembang di Minahasa, tapi seluruh Sulawesi Utara. Ini adalah budaya yang sangat baik. Tujuannya saling membantu atau tolong menolong, meningkatkan persatuan dan kesejahteraan masyarakat. Kedekatan antar warga terjalin sangat baik.

Mapalus memiliki aturan tersendiri. Misalnya dalam pertanian, setiap orang yang telah diberi tanggung jawab, diwajibkan hadir dan mengerjakan pekerjaan sesuai jadwal. Jika ada yang tidak memenuhi kewajiban, dia akan dikenakan sanksi.

Apabila tidak hadir tanpa alasan, orang itu mungkin akan dikucilkan atau tidak diikutsertakan lagi pada kegiatan mapalus lainnya. Tapi, jika sakit, dia harus membayar sejumlah uang sesuai kesepakatan bersama atau mencari penggantinya.

Budaya gotong royong Mapalus dulu bergerak di bidang pertanian saja karena mayoritas penduduk Minahasa bekerja sebagai petani. Dari situ awalnya. Sebelum adanya buruh tani waktu itu, pemilik sendirilah yang mengelola pertaniannya. Dalam mapalus tani itu, pemimpin diharuskan matu’ur (menjadi teladan di depan) dan menunjukkan kemampuan serta tanggung jawab. Berangkat bersama, pulang juga bersama.

Seiring waktu, budaya Mapalus pun berkembang. Masyarakat mulai bergotong royong pada beberapa acara, seperti upacara kematian (kedukaan) dan pernikahan (sukacita). Mapalus kedukaan dikemas dalam bentuk kerukunan, seperti kerukunan duka desa dan kerukunan atas sejumlah keluarga besar. Seluruh masyarakat desa tanpa terkecuali akan berkumpul dan bergotong royong menggelar Mapalus kedukaan ini. Mereka mematuhi kewajiban yang ditetapkan, seperti membayar iuran, membawa satu liter beras, bahan makanan, kopi, gula, dan sebagainya.

Saking eratnya semangat gotong royong dalam mapalus ini, banyak kelompok masyarakat yang sudah memiliki peralatan besar, seperti gedung bangunan permanen, tenda besi, seng, bambu, bangku, alat masak berukuran besar, perlengkapan makan, tempat tidur jenazah, dan masih banyak lagi.

Romantika Cengkeh: Berikan Semerbak Aroma Kesejahteraan di Minahasa

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Afdal Hasan lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Afdal Hasan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini