Harmoni Manusia dan Gajah yang Hidup Berdampingan Sejak Zaman Megalitikum

Harmoni Manusia dan Gajah yang Hidup Berdampingan Sejak Zaman Megalitikum
info gambar utama

Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatrensis) salah satu spesies atau subspesies gajah yang masih bertahan di Pulau Sumatra. Sejak masa purba (megalitikum) hingga hari ini, gajah memiliki hubungan yang istimewa dengan manusia di Pulau Sumatra.

Masyarakat yang hidup berdekatan atau sekitar habitatnya, menghormati megafauna ini dengan menyebutnya datuk. Di Nusantara, gajah-gajah selalu bersama manusia menjelajahi hutan tropis, pelabuhan, kampung, kota baik dalam misi damai atau peperangan.

Dimuat dari bbksdajatim, hubungan manusia dengan gajah bisa terlihat dari peradaban megalitikum Pasemah, yang tumbuh dan berkembang sekitar 2.000-3.000 tahun silam, di wilayah Bukit Barisan Sumatra.

Menyambut Kelahiran Bayi Gajah Sumatra di Taman Nasional Tesso Nilo

Ada juga Batu Gajah yang ditemukan Van Der Hoop seorang arkeolog Belanda pada 1930-an di Pagaralam, Sumatra Selatan. Pada batu berbentuk telur ini, dipahat wujud dua manusia menyerupai prajurit dan digambarkan mengapit satu individu gajah.

Arca atau patung lain mengenai gajah dalam peradaban megalitikum Pasemah yang ditemukan di Gunung Megang (Jarai, Lahat) memperlihatkan seekor gajah telentang. Selain itu ada arca gajah yang ditemukan di Pulau Panggung, Lahat.

“Keberadaan patung atau arca gajah peninggalan peradaban megalitikum Pasemah ini, dapat dikatakan lebih dominan dibandingkan arca hewan lain seperti babi atau harimau,” jelas laman tersebut.

Harmoni gajah dan manusia

Rr.Triwurjani, peneliti dari Pusat Riset Penelitian Arkeologi Prasejarah dan Sejarah Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) menemukan banyak hubungan manusia dan gajah. Bahkan gajah mempunyai peran tersendiri bagi manusia dibandingkan hewan lain.

Hal ini jelasnya terbukti dari penelitiannya pada 64 arca di 24 situs pada empat lokasi yang tersebar di Pagaralam, dan Lahat. Ternyata dirinya menemukan adanya 14 arca yang bergambar gajah.

Penulis Buku Arca-arca Megalitik Pasemah Sumatra Selatan ini menyebut dari sejumlah arca gajah, posisinya ada yang ditemukan di tempat suci di kubur batu. Baginya ini menggambarkan gajah sebagai kendaraan saat kebaktian kepada leluhur.

Kehidupan Gajah Sumatera di Barumun Nagari

Arca gajah di tempat ini, jelas Triwurjani, memiliki makna konotasi bahwa hewan ini adalah sesuatu diluar kemampuan manusia yang mempunyai kekuatan, tetapi bisa menjalin hubungan baik dengan manusia.

Arca megalitik ini pun berbentuk menhir yang diberi pahatan wajah manusia di bagian atasnya. Diketahui menhir adalah batu tegak yang sengaja dibuat sebagai simbol kekuasaan dari pemimpin yang dihormati.

Ketika pemimpin tersebut meninggal maka menhir itu sebagai batu peringatan hubungan antara manusia dengan orang yang sudah mati. Dengan demikian, jelasnya, arca ini menggambarkan bentuk kebaktian kepada leluhur.

“Hewan bergading itu bermakna sebuah kekuatan besar di luar manusia yang jika menjalin hubungan akan menjadi dekat dan harmonis,” jelasnya.

Bentuk rasa sayang

Triwurjani menyebut selain bentuk penghormatan, hubungan manusia dan gajah juga terlihat adanya ekspresi kasih sayang. Hal ini bisa terlihat dari arca figur manusia menunggang gajah, manusia mengepit gajah, bahkan memangku gajah.

“Menunggang gajah tentu adalah tanda sebagai alat kendaraan. Namun figur manusia mengapit dan memangku tentu adalah ekspresi kasih sayang dan kedekatan yang begitu erat,” ucapnya.

Dirinya pun melihat figur manusia yang bersama gajah selalu memiliki bentuk lebih detail. Arca manusia menunggang gajah umumnya mengenakan cawat, berpakaian lengkap, serta beberapa figur membawa senjata dan nekara pada arca Kota Raya Lembak.

Ternyata, Manusia Bisa “Mengerti” Keinginan Gajah

Misalnya pada arca di situs Gunung Megang dan situs Tegur Wangi juga memiliki cawat dan perhiasan anting-anting, sembari membawa pedang. Sementara figur manusia memangku gajah, umumnya menggunakan korset dan ada pula jenis tunik.

Pada gajah yang ditunggangi dan dipangku figur manusia, gambarannya selalu berukuran lebih kecil. Tetapi ada pula yang berukuran sama besar, seperti pada salah satu arca dari situs Tinggi Hari III dan Tanjung Telang.

“Kedekatan dan keharmonisan hubungan gajah dengan manusia juga terlihat dari arca dengan figur manusia menggendong anak saat menunggang gajah,” katanya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini