5 Aneka Plastik Ramah Lingkungan, Ada yang dari Sisik Ikan

5 Aneka Plastik Ramah Lingkungan, Ada yang dari Sisik Ikan
info gambar utama

Plastik merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang masih belum terselesaikan. Penggunaannya yang efisien dan tergolong murah membuat bahan ini banyak dimanfaatkan, entah itu sebagai kemasan makanan ataupun alat-alat rumah tangga.

Akan tetapi, plastik sulit sekali terurai. Akibatnya, mereka menumpuk dan bertransformasi menjadi polutan yang membahayakan lingkungan dan makhluk hidup. Mirisnya, National Geographic melaporkan bahwa produksi plastik diperkirakan akan meningkat dua kali lipat pada tahun 2050 mendatang.

Berbagai cara dikerahkan untuk mengurangi penggunaan plastik, salah satunya adalah dengan memakai plastik ramah lingkungan alias plastik biodegradable. Berbeda dengan plastik konvensional, plastik biodegradable lebih mudah terurai karena terbuat dari bahan-bahan alami. Contohnya adalah seperti kelima plastik ramah lingkungan berikut ini!

1. Sway dan Plastik Rumput Lautnya

Banyak plastik ramah lingkungan yang terbuat dari rumput laut. Tanaman air tersebut dijadikan material utama lantaran pertumbuhannya yang cepat serta tidak membutuhkan perawatan khusus, seperti diberi pestisida ataupun pupuk.

Sway, sebuah startup asal California yang didirikan pada 2020, merupakan salah satu yang memproduksi plastik biodegradable dari rumput laut. Didirikan oleh Julia Marsh, perusahaan ini berfokus pada produksi plastik sekali pakai—secara spesifik, plastik film.

Adapun langkah ilmuwan Sway dalam membuat plastiknya adalah dengan membersihkan dan mengeringkan rumput laut hingga menjadi bubuk putih. Bubuk putih tersebut kemudian dipanaskan dalam air, lalu dicampurkan dengan gula, zat pati tumbuhan, dan pewarna alami.

Setelah campurannya selesai, pencetakan pun dimulai yang setelah itu dilakukan uji coba kekuatan plastik. Julia berharap, produk yang mereka hasilkan dapat mendorong perusahaan untuk beralih ke bahan-bahan yang lebih ramah lingkungan.

Baca Juga: Chitosan, Kulit Udang Ramah Lingkungan Pengganti Plastik

2. B-CAN, Plastik Eceng Hondok Buatan Mahasiswa UNS

Keberadaan eceng gondok di badan-badan air nyatanya termasuk ke dalam pencemaran air. Terjadi akibat menumpuknya limbah pertanian (pupuk) di air, tanaman mengambang ini sangat merugikan sampai-sampai mampu menyebabkan kematian massal ikan dan mempercepat pendangkalan sungai.

Ada banyak hal yang telah dikerahkan untuk mengatasi masalah eceng gondok, seperti menyulapnya menjadi pupuk dan pakan ternak. Namun, tim mahasiswa dari Universitas Sebelas Maret (UNS) punya cara yang lebih kreatif dalam mengolah tanaman ini, yaitu dengan membuatnya menjadi bioplastik.

Adalah B-CAN (Bioplastics Based on Cellulose Acetate Nanofiber), plastik ramah lingkungan buatan tim mahasiswa UNS yang terbuat dari campuran selulosa eceng gondok, gliserol, pati, dan kitosan. Mereka terdorong untuk membuat bioplastik tersebut guna mengurangi permasalahan sampah dan eceng gondok, dilansir GNFI.

Walaupun terbuat dari bahan alami, B-CAN terlihat bening dan lentur. Bukan hanya itu, produk buatan tim mahasiswa UNS tersebut pastinya mudah terurai di lingkungan.

3. Plastik dari Biji Alpukat dan Biji Durian

Bagian dari sayur dan buah-buahan yang tak dikonsumsi, seperti kulit dan biji, berakhir menjadi sampah organik. Biasanya, sampah organik diolah menjadi pupuk kompos. Namun, tidak untuk sebuah perusahaan di Meksiko dan mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM).

Adalah Biofase, perusahaan asal Meksiko yang bergerak dalam pembuatan barang-barang biodegradable. Biofase menerima pasokan biji alpukat dari industri lain yang memproduksi guacamole dan salsa. Biji alpukat yang diterima lantas diubah menjadi resin bioplastik untuk kemudian dibuat menjadi berbagai bentuk, misalnya peralatan makan.

Di belahan dunia lain, sekumpulan mahasiswa UGM hadir dengan sebuah inovasi brilian, yakni mengembangkan bioplastik yang berasal dari limbah biji durian. Keprihatinan terhadap peningkatan limbah kantung plastik dan kurangnya sistem pengolahan sampah di Indonesia mendorong mereka untuk hadir dengan ide tersebut.

Biji durian dipilih karena mengandung zat pati tinggi yang mampu meningkatkan daya tarik plastik. Ke depannya, bioplastik buatan mahasiswa UGM ini diharapkan mampu menjadi sebuah solusi untuk meminimalisir dampak limbah biji durian.

Baca Juga: Serba-serbi Kantong Plastik Berbahan Alami yang Ramah Lingkungan

4. Plastik Berbahan Singkong Keluaran Avani Eco

Masyarakat Indonesia tentunya sudah tak asing dengan singkong alias ubi kayu. Umbi-umbian tersebut dapat diolah dengan berbagai cara, mulai dari direbus, digoreng, hingga dibuat menjadi getuk dan tiwul. Namun, di tangan Kevin Kumala, pendiri Avani Eco, singkong dapat bertransformasi menjadi plastik ramah lingkungan.

Sama seperti bioplastik yang lain, kantung plastik keluaran perusahaannya ini tentu mudah terurai. Hanya dalam kurun waktu beberapa bulan, produk ini sudah hancur. Selain itu, Kawan juga dapat membakar dan melarutkannya dalam air. Bahkan, larutan dari plastik singkong ini juga aman diminum, lo!

Kevin menjelaskan, bioplastik dari Avani Eco sudah lulus uji toksisitas oral. Ini berarti, apabila hewan tak sengaja menelan plastik singkong tersebut, maka tidak ada dampak buruk yang ditimbulkannya.

Hanya saja, di balik keramahannya terhadap lingkungan, plastik singkong ini terbilang lebih mahal dari plastik konvensional. Harganya yang kurang terjangkau membuat masyarakat Indonesia masih harus mikir-mikir terlebih dahulu sebelum membelinya.

5. MarinaTex, Plastik dari Sisik Ikan Buatan Lucy Hughes

Bukan hanya dari tanaman saja, plastik yang biodegradable juga dapat tercipta dari sisik ikan, lo! Mari berkenalan dengan Lucy Hughes, seorang perempuan asal Inggris yang mengembangkan bioplastik berbahan limbah perikanan.

Plastik sisik ikan yang ia buat dinamakan MarinaTex. Produk tersebut terbilang cukup kuat dan aman digunakan sebagai kemasan makanan. Selain dapat hancur dalam kurun waktu 6 minggu, MarinaTex juga dapat dimakan sehingga tidak bermasalah jika dikonsumsi hewan-hewan laut.

Bukan hal yang mudah bagi Lucy untuk menciptakan produk buatannya itu. Dirinya bahkan harus melalui lebih dari 100 kali eksperimen untuk mendapatkan komposisi plastik yang tepat. Namun, kerja kerasnya terbayarkan karena MarinaTex berhasil memenangkan penghargaan James Dyson pada 2019 lalu.

Baca Juga: 5 Cara Mengurangi Sampah Plastik. Yuk, Mulai dari Sekarang!

Meninggalkan plastik konvensional sepenuhnya mungkin belum bisa dilakukan untuk saat ini. Kendati demikian, kemunculan lima plastik ramah lingkungan tadi memberi harapan bahwa suatu saat manusia dapat menerapkan pola hidup yang lebih bersih dan ramah lingkungan.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

FS
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini