Mengenal Kehidupan Suku Nayak di Lembah Baliem yang Konon Menolak Anak Kembar

Mengenal Kehidupan Suku Nayak di Lembah Baliem yang Konon Menolak Anak Kembar
info gambar utama

Kawasan Pegunungan Tengah terletak di antara Provinsi Papua Pegunungan dan sebagian Papua Tengah. Sejumlah puncak tertinggi di Indonesia menjulang di daerah ini, seperti Kartens Pramid dan Trikora. Dari daerah pegunungan ini sungai-sungai besar mengalir, menembus hutan, lalu bermuara ke Samudra Pasifik dan Laut Arafuru.

Alam yang sangat indah ini menjadi tempat tinggal banyak suku asli dengan kehidupan dan adat istiadatnya yang menarik. Pegunungan Tengah dihuni oleh empat suku, yakni Lani, Nayak, Nduga, dan Yali.

Kali ini, Good News From Indonesia mengajak Anda untuk mengenal lebih dekat tentang suku Nayak.

Suku Nayak tinggal di wilayah Lembah Baliem, antara kota Wamena ke arah Gunung Trikora. Mayoritas masyarakatnya bekerja sebagai petani ubi dan keladi. Untuk memasak makanan seperti sayur, babi, atau ubi, mereka menggunakan cara yang unik, yaitu ditimbun dengan batu panas.

Orang Nayak hidup secara berkelompok dengan sesama yang masih memiliki hubungan kekerabatan di dalam sebuah hunian bernama sili atau usilimo. Setiap sili terdiri atas beberapa honai, yakni pilamo (untuk laki-laki) ebe (untuk perempuan), hunila (dapur), dan kandang babi (wam dabula).

Sili yang dibangun berdekatan, menandakan adanya hubungan kekerabata. Kelompok yang memiliki hubungan darah atau terbentuk karena persatuan dan politik, kemudian mendirikan kampung.

Pemimpin kampung disebut Kepala Suku dan didampingi oleh Panglima Perang. Pendampingan dari Panglima Perang sangat penting mengingat daerah yang mereka tinggali adalah hutan. Berbagai gangguan bisa saja datang sewaktu-waktu, mulai dari binatang buas, serangan kelompok lain, atau bencana alam.

Untuk itulah, mereka kerap berperang (wim abiyokoi) sebagai perlawanan terhadap pelanggaran norma adat suatu suku oleh kelompok lain. Masyarakat Nayak sangat menghormati panglima perang yang telah tiada. Jasad mereka yang dianggap berjasa besar diawetkan menjadi mumi.

Upacara peperangan atau permusuhan kerap terjadi di wilayah perbatasan. Bentuk kasusnya beragam, misalnya mengganggu wanita atau pencurian babi. Para prajurit yang mengikuti Panglima Perang menandai diri mereka dengan bulu-bulu, babi lemak, kus-kus, sagu rekat, kerang, bunga, atau getah pohon mangga. Mereka juga mempersenjatai diri dengan anak panah, busur, dan tombak.

Karapauw Kame, Rumah Pendewasaan Bagi Remaja Suku Kamoro di Mimika Papua

Fungsi honai dan kedudukan babi yang melambangkan kemakmuran

Cara hidup suku Nayak tercermin dalam rumah adat mereka, Honai. Satu honai bisa dihuni hingga 10 orang, terdiri dari satu pria kepala rumah tangga dan beberapa istri. Banyaknya istri tergantung jumlah babi yang dimiliki pria karena selain sebagai mas kawin, babi juga melambangkan kemakmuran atau kekayaan.

Untuk menegaskan kedudukan laki-laki sebagai kepala keluarga, benda-benda berharga seperti harta pusaka turun temurun, jimat, kalung, dan lainnya, disimpan di dalam palimo—honai khusus laki-laki dewasa, perempuan tidak boleh masuk.

Kadang kala babi pun dimasukkan ke pilamo karena hewan ini termasuk harta berharga yang melambangkan status sosial dan dipakai dalam upacara adat.

Ebe atau ebai dihuni oleh ibu dan anak beserta kerabat wanita. Di sinilah proses kelahiran atau penumbuhkembangan generasi penerus dilakukan. Untuk itu, para ayah diwajibkan memberi 20 ekor babi. Seringkali, para lelaki Nayak merasa berhak melakukan apa saja pada istrinya karena telah memberi 20 ekor babi.

5 Wilayah Adat yang Jadi Dasar Pemekaran Provinsi Papua

Hukum adat dan kebiasaan unik suku Nayak

Dalam mendisiplinkan masyarakatnya, suku Nayak memiliki berbagai aturan. Misalnya, kalau mencuri seekor babi didenda 10 babi, sedangkan membunuh satu orang dikenakan denda 20 ekor babi. Semua hukuman itu diputuskan oleh ketua adat.

Jika seseorang dari suku Nayak melanggar tabu (larangan), ia akan dihina oleh warga lain dalam pertemuan adat dan menjadi manusia buangan. Ia pun harus membayar sejumlah denda.

Di samping itu, orang Nayak memiliki tradisi tak biasa dalam berduka ketika ada anggota keluarga yang meninggal. Anak yang paling besar akan dipotong jarinya menggunakan parang. Lalu, diobati dengan rumput pawi dan hulika. Sementara mayat itu dikremasi, lalu abunya disimpan di depan rumah.

Dalam menjalani aktivitas sehari-hari, orang Nayak sejak dulu mempunyai sistem pembagian kerja. Kaum laki-laki ditugaskan berburu, mencari kayu bakar, membuka lahan untuk menjadi permukiman atau ladang pertanian, menjaga keamanan, dan membuat pagar. Sementara perempuan bertugas memelihara tanaman dan kehidupan di rumah.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk berburu, orang Nayak menggunakan berbagai alat dan senjata, seperti pisau (pisok), parang (karok), kampak (posie), panah, busur (sike lisuok), sekop (sabuk), serta tombak (sege).

Sambil bekerja di ladang atau berburu, orang Nayak suka bernyanyi dengan ekspresi heroik atau kisak-kisah menyedihkan. Mereka juga suka berkesenian dengan mengenal gitar yang disebut nit etai waswo dan lagu (etai).

Seperti yang telah disebutkan, babi sangat penting dalam menjaga harga diri laki-laki. Tapi, jika dalam pernikahan seorang laki-laki tidak mampu melamar calon pengantinnya dengan 20 ekor babi, dia harus menunggu pihak perempuan yang melamar.

Di hari pernikahan, pihak laki-laki harus mencari kayu bakar, sedangkan perempuan mencari ubi untuk dibakar. Setelah menikah, mempelai wanita tetap tinggal di rumah, sedangkan mempelai pria tinggal di honai.

Jika ada perrnikahan, persemian honai baru, atau kelahiran seorang bayi, masyarakat Nayak akan menyambutnya dengan upacara bakar batu. Kelahiran anak akan dibantu oleh perembuan yang sudah beerpengalaman atau iruklasin (dukun beranak).

Setelah itu, dilakukan syukuran dengan potong babi dan makan bersama. Hal yang tidak biasa dari sambutan kelahiran ini adalah jika yang lahir anak kembar, salah satunya harus dibuang karena bagi orang suku Nayak, salah satu dari anak kembar itu dianggap anak setan.

Suling Tambur dan Sirih Pinang, Tradisi Masyarakat Papua yang Tak Lekang Waktu

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Afdal Hasan lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Afdal Hasan.

AH
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini