Budaya Patungan Masyarakat Manggarai NTT Demi Biayai Kuliah

Budaya Patungan Masyarakat Manggarai NTT Demi Biayai Kuliah
info gambar utama

Masyarakat di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki kearifan lokal yang terbilang unik. Masyarakat di daerah tersebut memiliki tradisi patungan untuk biaya anak desa yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi.

Dimuat dari Detik, kearifan lokal yang dimiliki masyarakat Flores tersebut dinamakan Wuat Wa’i. Dalam tradisi ini, masyarakat Manggarai secara bergantian akan membawa sumbangan baik dalam bentuk materi uang maupun sumbangan moral seperti doa.

Hal ini yang terjadi kepada Donald Taud yang tidak menduga putrinya, Acek bisa kuliah. Penghasilannya pas pasan. Tetapi karena wuat wa’i telah membuka jalan bagi Acek untuk mengejar cita-cita menjadi ahli madya keperawatan.

Kenikmatan Hasil Bumi Flores dalam Secangkir Minuman Hangat

“Malam itu terkumpul sekitar Rp40 juta untuk bekal bagi Acek berangkat ke Bali. Dia ingin mendaftar di program diploma III keperawatan di sebuah akademi keperawatan di Bali,” kata Rafael Pangkat, tetua adat di Kampung Cancar yang dinukil dari Kompas.

Disebutkan oleh Rafael. wuat wa’i secara harfiah berarti bekal supaya kaki melangkah lebih cepat. Wuat diartikan sebagai bekal sedangkan wa’i artinya adalah kaki. Sehingga masyarakat saling membantu layaknya persaudaraan.

“Bekal untuk menggapai cita-cita. Bantuan biasanya dalam bentuk uang untuk ongkos transportasi, mendaftar, membeli perlengkapan sekolah, dan biaya hidup selama belajar,” ujarnya.

Kapan bermula?

Disebutkan oleh Rafael, tradisi wuat wa’i bermula di daerah Lambaleda, Manggarai Timur sekitar tahun 1960. Ketika itu hanya anak pejabat atau orang kaya yang dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang tinggi.

Padahal katanya tidak sedikit anak keluarga miskin yang memiliki prestasi dan keinginan kuat melanjutkan sekolah. Hal inilah yang mendorong warga untuk patungan atau iuran guna membantu warga yang membutuhkan biaya sekolah.

“Sulit untuk tidak hadir memenuhi undangan karena perasaan tidak enak. Warga melihat ke depan, roda akan terus berputar, siapa tahu kelak keluarga kami yang kesulitan dan butuh bantuan. Perasaan saling membutuhkan ini mengikat persaudaraan,” paparnya.

Mengingat Kehangatan Keluarga Bersama Jagung Titi Kuliner Khas Flores

Biasanya tamu yang datang menyesuaikan besaran sumbangan dengan kondisi ekonominya. Ada yang datang dengan amplop berisi uang Rp50.000, Rp100.000 bahkan ada juga yang lebih.

Di sisi lain, tuan rumah biasanya menjamu tamu dengan aneka hidangan, terutama sate, rokok, dan minuman tradisional bernama sopi. Alo Akbar menjelaskan selain amplop sebagai bantuan, pemberian uang ini juga sebagai ucapan terima kasih atas jamuan.

“Besaran imbal terima kasih ada yang ditentukan ada yang tidak, biasanya dua kali lipat dari nilai makanan dan minuman yang disajikan. Misalnya rokok seharga Rp10.000 yang disajikan, tamu biasanya membayar Rp20.000, minuman seharga Rp25.000 per botol, dikasih balik Rp50.000,” katanya.

Tidak berharap kembali

Dikatakan oleh Akbar, warga tidak mengharap balik atau balas budi atas uang yang mereka sumbangkan. Walau kelak anak yang merantau tidak kembali ke kampung halaman, masyarakat tetap ikhlas.

Dikatakannya sistem sumbangan ini sangat efektif membantu tetangga, teman, atau saudara yang perlu dana pendidikan. Bahkan wuat wa’i diadopsi warga kampung lain dan menyebar di daratan Manggarai.

“Biasanya penyelenggara wuat wa’i adalah keluarga kurang mampu dan memiliki anak yang akan melanjutkan sekolah,” jelasnya.

Meko, Surga Kecil Tersembunyi di Adonara yang Timbul Tenggelam

Seiring dengan berkembangnya lembaga keuangan hingga pelosok desa, tradisi wuat wa’i di sejumlah daerah mulai memudar. Sebagian keluarga malah memilih untuk meminjam uang di koperasi atau bank.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini