Ngalungsur Geni, Upacara Mencuci Benda Pusaka untuk Hormati Pejuang Kemerdekaan

Ngalungsur Geni, Upacara Mencuci Benda Pusaka untuk Hormati Pejuang Kemerdekaan
info gambar utama

Kemerdekaan Indonesia tak lepas dari jasa para pahlawan di masa lalu. Para pejuang rela berkorban menghadapi pertumpahan darah demi mengusir penjajah dari negeri ini. Maka dari itu, sepertinya tidak ada sesuatu yang paling layak untuk membalas pengorbanan itu, selain mengingat, mengenang, dan terus menghormati jasa mereka.

Berbagai daerah di Indonesia menunjukkan penghargaan terhadap jasa para pejuang dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang mendirikan museum, mengabadikannya menjadi nama jalan, atau merawat benda peninggalan sang pejuang.

Seperti yang dilakukan oleh masyarakat Desa Dangiang, Kecamatan, Banjarwangi, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Masyarakat Desa Dangian melestarikan upacara Siraman dan Ngalungsur Geni sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan sekaligus penghormatan para leluhur beserta benda pusaka yang mereka tinggalkan. Bagi masyarakat setempat, benda-benda pusaka itu dianggap keramat karena telah berjasa dalam merebut kemerdekaan RI dari penjajah.

Tak Melulu Dodol, Inilah 5 Oleh-oleh Khas Garut yang Pantang Dilewatkan

Dicuci setiap tanggal 14 Maulud

Benda pusaka itu dicuci dan dibersihkan setiap tanggal 14 bulan Maulud. Sebagian masyarakat percaya bahwa air bekas cucian itu dapat mendatangkan berkah, keselamatan, kesehatan, juga keberhasilan. Benda-benda pusaka tadi disimpan di dalam peti khusus berukuran 1x2 meter dan diletakkan di joglo, rumah penyimpanan benda pusaka.

Ada sekitar 15 benda pusaka yang tersimpan di joglo bagian atas. Peti tersebut hanya boleh dibuka oleh kuncen (juru kunci) pada 14 Maulud. Atap joglo terbuat dari ijuk, dindingnya setengah tembok dan setengah lagi bilik. Bentuk dan bahan bangunan joglo tidak boleh diubah.

Selain benda pusaka, upacara ini dijalankan untuk menghormati para leluhur yang mendirikan Desa Dangiang sekaligus yang pertama mengadakan upacara tersebut.

Jika diartikan kata perkata, upacara siraman berarti mencuci, ngalungsur artinya mewariskan, sedangkan geni merupakan nama salah satu benda pusaka meriam, yakni Guntur Geni, senjata peninggalan salah satu pendiri Desa Dangiang bernama Eyang Gusti Batara Turus Bawa.

Tidak ada rekaman sejarah yang menyatakan sejak kapan upacara siraman dan Ngalungsur Geni dilaksanakan. Namun, para warga melestarikannya karena upacara ini telah berlangsung tahun ke tahun. Masyarakat khawatir jika upacara itu tidak dilaksanakan, mereka akan ditimpa malapetaka.

Peran Bundo Kanduang, Penjaga 'Harta Pusaka' dalam Masyarakat Minangkabau

Tahapan Ngalungsur Geni

Pada pelaksanaannya, ada 5 tahapan yang mesti dilakukan dalam upacara Ngalungsur Geni. Diawali dari ngalirap, membuat pagar baru di sekitar joglo sebelum puncak upacara. Para warga akan bergotong royong membuat pagar, membersihkan joglo, masjid, jalan, dan makam.

Kegiatan ini dimulai pukul 08.00 dan selesai pada sore hari. Pagar tersebut akan digunakan untuk menggantikan pagar lama di makam Eyang Gusti Batara Turus Bawa.

Setelah itu, membuka sejarah desa. Tahapan ini digelar menjelang puncak upacara, lebih tepatnya dari pukul 21.00 WIB hingga 02.00 WIB. Kemudian, upacara dilanjutkan dengan ziarah kubur ke makam Eyang Batara Turus Bawa di Kampung Datar pada hari Senin.

Tujuan ziarah kubur ini bukanlah untuk meminta sesuatu kepada leluhur, melainkan mendoakannya. Para peziarah akan berangkat dari joglo pada pukul 08.00 WIB dan tiba di makam sekitar pukul 09.0 WIB. di sana, peziarah melakukan upacara selama satu jam. Lalu, kembali ke joglo setelah ziarah selesai.

Berikutnya acara puncak, yaitu mencuci benda pusaka. Tahapan ini dilakukan di Sungai Cidangiang, 300 meter dari joglo. Warga berangkat pukul 08.30 WIB menuju sungai. Upacara pencucian benda pusaka ini biasanya berlangsung hingga dua jam. Dahulu, para leluhur yang hendak salat Jumat, kerap berwudu di sungai ini.

Benda pusaka yang akan dicuci berasal dari joglo, yakni meriam, keris, pedang, badik, dan tombak. Ditambah benda pusaka yang tersimpan di rumah-rumah, seperti pedang. Bahan untuk mencuci benda pusaka itu tentu saja air sungai dengan jeruk nipis sebagai pengawet untuk mencegah karatan. Lalu, benda pusaka tersebut dikeringkan dengan kawul (serutan bambu) agar cepat kering dan tidak berkarat.

Kemudian, warga merajah atau menyampaikan doa mantra menggunakan kemenyan dengan harapan agar asapnya bisa mengantarkan doa langsung ke Tuhan.

Upacara Siraman dan Ngalungsur Geni ditutup dengan doa dan makan bersama. Warga yang hadir bisa mencapai 300 orang dari 2 desa. Pada pagi hari sekitar pukul 07.00 WIB, para ibu sibuk melakukan hantaran tuang, membawa tumpeng yang ditaruh di baskom (boboko) dengan berjalan kaki. Tak tanggung-tanggung, sebanyak 300 tumpeng tersusun di halaman rumah joglo.

Pusaka Ken Arok, Empu Gandring dan Tumbal 7 Nyawa

Pantangan upacara Ngalungsur Geni

Ada sejumlah pantangan yang harus dipatuhi warga selama upacara Ngalungsur Geni berlangsung. Pertama, 10 meter dari makam, warga tidak dilarang memakai alas kaki, mengambil bebatuan, dan memetik bunga. Jika berani melanggar, orang itu akan sengsara. Kedua, ziarah hanya boleh dilakukan di hari Senin dan Kamis.

Ketiga, pejabat pemerintah seperti lurah tidak diperbolehkan berziarah. Hal ini dikarenakan dulu pejabat disamakan dengan penjajah. Jadi, jika ingin berziarah, mereka biasanya meminta kuncen untuk mewakili. Keempat, perempuan yang tengah menstruasi dilarang memegang benda pusaka karena mereka dianggap dalam keadaan kotor.

Sementara benda pusaka harus dipegang dalam keadaan suci atau bersih. Perempuan juga tidak diperbolehkan memimpin upacara, meskipun ia keturunan leluhur Desa Dangiang.

4 Pusaka Legenda Kerajaan Mataram

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Afdal Hasan lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Afdal Hasan.

AH
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini