Melihat Hamparan Situs Megalitikum yang Tertinggal di Poso

Melihat Hamparan Situs Megalitikum yang Tertinggal di Poso
info gambar utama

Sulawesi Tengah memiliki maskot yang dikenal dengan nama patung palindo. Ia kokoh berdiri di tengah sabana, tampak condong beberapa derajat ke kiri. Mencuat setinggi tiga kali orang dewasa, itulah situs megalitikum tertinggi di Lembah Bada, bagian dari kawasan hutan lindung Taman Nasional Lore Lindu, Kabupaten Poso.

Patung ini dulu dijadikan penghibur ketika pasukan perang akan berangkat atau kembali dari medan pertempuran. Masyarakat mengadakan upacara kemenangan di area patung ini. Sesuai julukannya, palindo berarti hiburan.

Tak hanya patung palindo, Lembah Bada juga menyimpan ratusan situs megalitik beserta kalamba (kuburan batu) berukuran besar yang diduga tempat mandi para raja.

Ciri khas situs purbakala di Lembah Bada berbentuk megalit (batu besar peninggalan prasejarah) berupa tempayan batu raksasa yang dinamai kalamba. Bentuk kalamba di sana bervariasi, umumnya berbentuk tong sebagai wadah dan ditutup lempengan batu. Kadang kala tutupnya dihiasi ukiran yang menonjol berupa hewan atau manusia. Ukiran itu tidak selalu dipahatkan seluruhnya, kadang hanya mata saja, hidung, mulut, telinga, tanpa kaki, dengan kemaluan yang menonjol.

Pesona Poso di Telaga Tambing

Tersebar di sejumlah desa, dari sungai hingga kebun

Peninggalan purbakala tersebar di beberapa desa. Misalnya, patung lanke bulawa (gelang kaki emas) ditemukan di desa Bomba. Patung ini berupa sosok wanita menghadap ke arah barat, yaitu Sigi, daerah asal nenek moyang suku Bada. Patung langke bulawa masih terjaga dengan baik, disimpan di dalam rumah adat suku Bada dan diberi pagar.

Berikutnya, patung loga (patung perempuan) di Desa Pada. Menurut cerita warga, patung ini dibuat untuk mengenang kisah seorang perempuan melihat ke bawah, menyaksikan suaminya dihukum pancung. Patung loga terletak di atas bukit belakang gereja GKST jemaat Bethel Pada. Sayangnya, lokasi sekitar patung tidak terawat dan akses ke lokasi juga sulit.

Di Desa Bewa, Lore Selatan, terdapat patung arimpohi (tiang topang) sebagai lambang kepemimpinan. Ibarat rumah adat sembilan tiang, tiang tengah adalah pusatnya. Kemudian, sejumlah kalamba bertebaran di permukiman sekitar sungai Suso. Sebagian lainnya ada di perkebunan masyarakat dengan kondisi yang cukup memprihatinkan, bahkan beberapa kalamba mengalami kerusakan.

Ibu kota Lore Selatan, Desa Gintu, menyimpan patung terairoi, batu pekadoi, watubira (patung terbelah), dan sebuah batu yang dipercayai masyarakat sebagai kotoran kerbau raksasa. Batu itu terletak di bukit Tolelembunga.

Di Monawana, kampung tua masyarakat Bada, terdapat patung yang menyerupai seekor beruang, patung yang menoleh ke arah sungai Rampi (watumotea), dan patung tanpa nama di tengah aliran sungai Lairiang. Patung tanpa nama ini diduga patung Gajah Mada.

Situs megalitik lainnya ditemukan di desa Badangkaia,. Terdapat patung kerbau di tengah sawah dan patung perjanjian segitiga antara suku Toraja, Bada, Baebunta, yang dinamai patung torumpana, terletak di seberang sungai Malei. Kemudian, ada patung perempuan to’tinoe di desa Bakekau, patung teraroi, watu oboka, dan babi di desa Bulili, serta patung monyet di desa Langkeka.

Untuk sampai ke Lembah Bada, wisatawan bisa naik transportasi alternatif. Perjalanan darat bisa diempuh dari Rantepao, Toraja Utara selama 12 jam. Tapi, kalau mau lebih cepat, bisa naik pesawat di bandara Sultan Hasanuddin Makassar selama 45 menit, dilanjutkan tiga jam perjalanan darat menuju Lembah Bada.

Sepanjang perjalanan, wisatawan akan ditemani pegunungan hutan hujan Sulawesi Tengah. Setiba di tujuan, sejumlah penginapan murah bisa disewa untuk melepas penat setelah perjalanan jauh dan melelahkan.

Patung Megalitikum Lore Lindu Bukti Peradaban Besar di Sulteng

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Afdal Hasan lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Afdal Hasan.

AH
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini