Patung Megalitikum Lore Lindu Bukti Peradaban Besar di Sulteng

Patung Megalitikum Lore Lindu Bukti Peradaban Besar di Sulteng
info gambar utama

Patung atau arca dengan beragam bentuk seperti menanti kehadiran manusia datang ke Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng). Ada arca berukir wajah tersenyum, bongkahan batu besar, terdapat juga yang berbentuk kolam.

Lembah Bada, Besoa, dan Napu di Kabupaten Poso memang terkenal memiliki banyak situs megalitik yang masuk dalam Taman Nasional Lore Lindu. Ratusan megalitik ini seperti menunjukkan tanda kebesaran tradisi zaman batu pada masa silam.

Menukil dari Mongabay, cagar budaya ini termasuk situs megalitik tertua di Indonesia. Hal ini bedasarkan penelitian tulang-tulang rangka manusia yang terdapat dalam kubur tempayan batu di situs Wineki di Lembah Behoa, yaitu 2351-1416 SM yang kemungkinan punah pada sekitar 1452-1527 Masehi.

Arkeolog Sulteng, Iksam Djorimi menyebut penelitian tentang situs budaya ini telah dilakukan sejak abad ke-19. Penelitian ini dilakukan oleh Nicolaus Adriani dan Albertus Christian Kruy dan termuat dalam tulisannya Van Poso naar Parigi een Lindoe pada tahun 1898.

Pada artikelnya selanjutnya yang berjudul De Berglschappen Napoe en Besoa in Midden Celebes. Melaporkan ada 20 temuan kalamba dengan pola hias enam wajah manusia mengitari wilayah tersebut.

Penelitian selanjutnya dilakukan pada 1910 oleh Schuyt dan Ten Kate yang mengunjungi Lembah Napu dan Behoa. Mereka kemudian menerbitkan tulisannya Van dag tot dag op Een Reis Naar de Lanschappen Napoe en Behoa.

Makna dan Kisah di Balik 5 Patung Ikonik Indonesia

Pada tahun 1917-1921, penelitian terhadap cagar budaya ini dilanjutkan oleh Walter Kaudern, seorang peneliti berkebangsaan Swedia. Dirinya kemudian pada tahun 1938 menerbitkan tulisan berjudul Ethnographical Studies in Celebes.

Pada 1976, penelitian arkeologi pertama dilakukan oleh peneliti Indonesia. Tim ini dipimpin oleh Haris Sukendar yang berasal dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Arkenas). Mereka sempat melakukan ekskavasi awal pada situs Suso di Padang Tumpuara Lembah Bada Kabupaten Poso.

Saat itu dirinya mengungkapkan bahwa di dalam Kalamba terdapat sisa-sisa bekas tulang serta bekal kubur dan menjadi bukti adanya penguburan sekunder. Apalagi menurutnya penguburan ini bukanlah untuk seorang saja, tapi juga komunal.

"Dari bukti tersebut menunjukkan kesesuaian istilah kalamba di wilayah Lore yang berarti perahu, yaitu sebagai wadah kubur dan perahu para arwah orang meninggal untuk menuju alam kehidupan yang lain," beber Iksam dalam artikelnya yang berjudul Potensi Peninggalan Arkeologi Sulawesi Tengah untuk Pengembangan Informasi di Museum

Berselimut misteri

Tujuan dibuatnya patung megalit hingga kini masih menjadi misteri. Banyak yang menduga ini merupakan proyek besar bahkan melibatkan organisasi sosial yang kompleks.

Dikabarkan oleh CNN Indonesia, situs ini oleh masyarakat sekitar diberi nama masing-masing seperti Palindo, Torompana, Tarae Roe, dan Loga. Palindo sendiri memiliki arti sang penghibur yang dipercaya sebagai titisan dari leluhur Desa Sepe, yaitu Suku Tosaloge.

Walau hingga kini belum ada penelitian yang menjelaskan fungsi dari patung-patung ini. Masyarakat sekitar percaya bahwa patung batu ini digunakan sebagai pemujaan terhadap arwah leluhur.

Bahkan penduduk juga punya cerita unik tentang asal mula patung megalit tersebut terbentuk. Menurut cerita terdapat megalit bernama Tokala'ea, dulunya dia merupakan pemerkosa, sehingga dikutuk menjadi batu.

Sementara batu yang lain, seperti Tadulako dahulunya disebut sebagai seorang penjaga desa. Namun pada suatu ketika, dirinya tertangkap sedang mencuri beras, lalu dikutuk menjadi batu.

Ada juga yang percaya bahwa situs megalitik merupakan tempat pengorbanan manusia. Selain itu batu ini dianggap bisa mengusir roh jahat, sementara yang lain percaya bahwa batu ini memiliki kekuatan supranatural.

Situs Tapurarang, Abadikan Lukisan Cap Tangan Darah Merah Zaman Megalitikum

Namun hal yang bisa dipastikan situs ini menjadi simbol masuknya manusia pertama ke Sulteng, sekaligus awal peradaban di wilayah ini.

Menurut arkeolog Sulteng, Tanwir La Maming situs yang terdapat di wilayah ini memiliki keunikan sendiri dan tidak terdapat di tempat lain. Menurutnya setiap situs merupakan satu kesatuan yang melambangkan kepercayaan.

Seperti ada yang melambangkan rumah etnis, juga tempat tinggal serta pola hidup masyarakat setempat pada masa itu. Misalnya saja dalam satu situs, terdapat tempat pemujaan, tempat mandi, arca manusia, alat bermain dan lain-lain.

"Arah hadap mata angin arca-arca dalam setiap situs yang berbeda antara satu situs dengan situs lainnya melambangkan adanya kepercayaan yang berbeda-beda pada setiap rumpun,” papar Tanwir yang dikabarkan oleh Kompas.

Menurutnya penemuan situs di tiga tempat ini selain membuktikan awal keberadaan manusia di Sulteng. Juga menjadi penanda bahwa dahulunya wilayah ini adalah pusat peradaban besar.

"Datangnya manusia dalam jumlah besar pada masa itu membuat kawasan hutan dan gunung ini kemudian dijadikan tempat tinggal, areal sawah dan kebun. Karena itulah semua situs berada dan tersebar di tiga lembah besar," bebernya.

Diusulkan menjadi Warisan Dunia

Patung megalitikum (shutterstock)

Pada 1977, kawasan Lore Lindu terutama hutannya telah diresmikan menjadi salah satu cagar biosfer yang dikembangkan melalui program Man and the Biosphere (MAB) oleh United Nation Education, Scientific and Culture Organization (UNESCO).

Iksam menyebut hingga kini usulan agar kawasan Megalitik Lore Lindu masuk sebagai warisan di UNESCO 2021 masih terkendala tim ahli cagar budaya di tingkat kabupaten.

Sementara itu bila suatu kawasan ingin menjadi warisan dunia harus memiliki tiga asas sebagai Nilai Universal Luar Biasa atau Outstanding Universal Value (OUV). Pertama yaitu memenuhi satu atau lebih kriteria OUV. Kedua, keaslian dan keutuhan. Ketiga, pelindungan dan pengelolaan.

“Khususnya wilayah itu karena ini mencakup dua kabupaten, Poso dan Sigi. Syarat utamanya sekarang itu harus membentuk tim ahli cagar budaya,” sebut pria yang identik dengan topinya ini dikutip dari kabar selebes.

Pria yang kini menjabat wakil kepala museum Sulteng ini menyatakan untuk data yang tersedia sudah memenuhi syarat sebagai daftar warisan sementara di UNESCO. Namun hal ini perlu ditunda karena masih terkendala karena belum adanya tim ahli cagar budaya.

Dirinya pun menyatakan bila Pemerintah Kabupaten (Pemkab) tidak mampu membentuk tim cagar budaya, hal ini akan langsung naik ke tingkat provinsi. Walaupun, hal ini juga harus lewat persetujuan kepala daerah kabupaten dalam hal ini Bupati Poso maupun Sigi.

Penemuan Arca Terbesar di Dataran Tinggi Dieng

Memang untuk menjadikan sebuah wilayah sebagai warisan budaya perlu proses yang panjang. Karena itu banyak daerah yang diusulkan menjadi warisan cagar budaya tidak melanjutkan, hingga sampai 10 tahun masih terdapat dalam daftar sementara.

“Jadi masih ada dua langkah ke depan urusan dengan UNESCO, kita harus dulu menjadi daftar sementara dan itu ditunggu sampai 2026-2029 dan kita tidak perlu menunggu itu. Kalau memang kita siap tahun ini atau tahun depan ya sudah bisa,” sebutnya

Seperti diketahui usaha agar Lore Lindu menjadi warisan cagar budaya dunia telah berlangsung sejak 2018. Landscape Budaya Lore Lindu merupakan nama yang disematkan kepada tempat situs itu berada.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini