Situs Tapurarang, Abadikan Lukisan Cap Tangan Darah Merah Zaman Megalitikum

Situs Tapurarang, Abadikan Lukisan Cap Tangan Darah Merah Zaman Megalitikum
info gambar utama

Papua tidak hanya menampilkan pesonanya dalam wisata hiburan, namun juga keunikan situs sejarah yang dimiliki. Salah satu tempat bersejarah yang banyak mengundang misteri adalah Situs Tapurarang.

Situs Tapurarang terdapat di Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat. Keunikan dari situs ini adalah adanya lukisan cap tangan manusia berwarna merah darah, peninggalan zaman prasejarah.

Cap tangan itu tersebar di dinding-dinding tebing di tepi laut selat yang menghubungkan Distrik Kokas dan Pulau Arguni. Ada beberapa objek yang tergambar, berupa telapak tangan, mata, telapak kaki, lumba lumba, cicak, tumbuhan, daun, wajah manusia, hingga bumerang.

Lukisannya terlihat biasa saja, namun cukup menggambarkan manusia dan kesehariannya. Teknik lukisannya pun unik. Objek-objek tersebut dibuat seperti disembur.

Hal yang menarik adalah warna merah tersebut juga tetap awet tahan lama hingga saat ini. Padahal lukisan di tebing ini sering terkena air hujan dan terik matahari namun warnanya tetap saja tidak pudar.

Karena itulah banyak orang menyebut lukisan yang ada di Situs Purbakala Tapurarang ini sebagai lukisan cap tangan darah. Padahal warna merah tersebut sebenarnya berasal dari pewarna alami dari sari tumbuhan.

"Kalau masyarakat di sini menyebutnya Selat Perahu karena banyak perahu nelayan yang melintas. Jadi lukisan cap tangan itu bukan hanya di satu titik tapi menyebar di beberapa titik. Adanya di dinding tebing yang curam, "kata Sahroni nelayan setempat yang tinggal di Pulau Arguni dikutip dari Kompas.

Melihat Gunung Emas Blok Wabu, Harta Karun Indonesia Bernilai Rp221 Triliun

Peninggalan Situs Tapurarang bisa dijumpai di beberapa tempat di distrik Kokas, antara lain di Andamata, Fior, Forir, Darembang, dan Goras. Menurut berbagi sumber, lukisan cap tangan yang ditemukan di Kokas mirip dengan lukisan dinding yang terdapat di Sangkulirang (Kutai Timur, Kalimantan Timur) atau di Gua Leangleang (Maros, Sulawesi Selatan).

Sementara itu menurut K.W Gallis dan Josef Roder, Arkeolog Belanda yang pernah melakukan penelitian di Papua menyebutkan keunikan lukisan goa di Kokas. Warna dan corak lukisannya berbeda dari yang ada di Kepulauan Kei, Maluku, Pulau Batanta dan Raja Ampat.

Objek lukisan yang terdapat di Situs Purbakala Tapurarang, Kokas dibuat dengan teknik stilasi atau penyederhanaan bentuk. Warnanya terdiri dari merah, hitam, dan kuning.

Ditengarai, seni cadas atau rock art Tapurarang tersebut merupakan hasil karya lukisan manusia pada jaman Megalitikum. Usianya ditaksir ribuan tahun yang lalu.

Lukisan-lukisan tersebut dibuat sebagai pengingat peristiwa atau simbol-simbol kepercayaan. Lukisan binatang atau Matuto dianggap sebagai pahlawan bagi nenek moyang.

Kisah misteri dibalik situs

Warga adat meyakini bahwa tebing atau gua yang menjadi lokasi ditemukannya Situs Tapurarang adalah tempat yang disakralkan. Mereka percaya bahwa, lukisan tersebut sebagai wujud orang-orang yang telah dikutuk oleh arwah seorang nenek yang berubah menjadi setan kaborbor.

Konon nenek ini meninggal saat terjadi musibah, pasalnya perahu yang ia tumpangi tenggelam. Dari seluruh penumpang perahu tersebut, hanya nenek itu yang meninggal. Dan tidak ada penumpang diatas perahu yang berusaha menolong nenek.

Merasa sakit hati, arwah nenek yang telah berubah menjadi setan kaborbor, mengutuk semua penumpang perahu yang menyelamatkan diri di atas tebing batu. Karena kutukan tersebut, seluruh penumpang dan hasil-hasil laut yang dibawa, seketika berubah menjadi lukisan tebing.

Data Danau Diperbarui, Kini Ada 5.807 Danau yang Tersebar di Indonesia WL

Hanya saja, kisah tersebut tidak banyak mereka ceritakan kepada pengunjung. Sebab bagi mereka, menceritakan rahasia misteri jaman kuno sama saja membunuh diri mereka.

"Namun untuk kebenarannya kita tidak tahu. Itu hanya cerita masyarakat sini, Kami benar benar mensakralkan wilayah tersebut. Tidak pernah kita otak atik apalagi merusak. Tidak, tidak boleh itu," kata Sahroni.

Selain itu terdapat cukup banyak tulang serta tengkorak yang bersebaran di sekelilingnya. Temuan ini menjadi salah satu gambaran akan budaya kala itu. Saat ada orang meninggal jasadnya tidaklah dikuburkan sebagaimana mestinya.

Masyarakat pada zaman purbakala saat itu hanya meletakannya di tebing batu atau lokasi lain seperti pohon yang mereka anggap sakral. Masyarakat Kokas percaya jika temuan tulang dan tengkorak di sekitar tebing adalah leluhur mereka.

Memang pada zaman dulu, masyarakat Kokas memiliki kebiasaan meletakkan jasad leluhur yang meninggal di tebing batu, gua, tanjung ataupun di bawah pohon besar yang dianggap sakral.

Saat Belanda datang, mereka sempat menyarankan agar tengkorak dan tulang belulang yang ada di tebing dikuburkan dengan layak. Namun, masyarakat sekitar menolak karena menuruti pesan dari pendahulu mereka yaitu melarang menyentuh dan mengubah struktur tulang-tulang tersebut

"Ini kita punya aset dan cerita. Agar anak cucu kita tahu kejadian tersebut. Agar bisa mengambil hikmah dari masa lalu," kata Haji Husein Saiyof, tetua di Pulau Arguni.

Tempat wisata yang indah

Bila ingin mendatangi Kabupaten Fakfak dari Bandara Soekarno Hatta, destinasi pertama adalah menuju Bandar Torea. Setibanya dari Torea dapat menggunakan jasa taksi sebagai angkutan umum untuk menuju ke Kokas, yaitu sekitar 50 km dari kota.

Tidak perlu khawatir karena Fakfak adalah salah satu kabupaten termaju di Papua. Fasilitas jalan dari Kota Fakfak ke Distrik Kokas sudah beraspal, meskipun di beberapa bagian jalan ada yang berlubang dan terkena bekas longsor.

Namun, setelah ke luar wilayah Kota Fakfak jalan yang dilalui melewati hutan belantara. Benar-benar cuma hutan, dan tidak ada rumah satu pun juga.

Tiba di Kokas, perjalanan masih harus dilanjutkan menggunakan longboat dengan waktu tempuh sekitar 1 jam. Dari Kokas menuju Situs Tapurarang hanya bisa diakses menggunakan perahu milik nelayan setempat.

Jika air sedang pasang, kamu bisa naik ke tebing dan menyaksikan lukisan ini dari dekat. Kalau air tengah surut, keindahan lukisan tebing ini hanya bisa dinikmati dari perahu yang kamu tumpangi.

Dengan perjalanan ini, wisatawan dapat menikmati panorama di sepanjang jalan menuju Tapurarang. Di sekitar area Situs Tapurarang Fakfak terdapat hutan bakau dengan airnya yang jernih. Udara sejuk akan menyapa Anda karena banyak pohon besar yang rindang.

Upaya Amos Yeninar, Membina dan Menjamin Kesehatan Anak Jalanan Papua saat Pandemi

Selain itu Anda juga bisa melihat beragam spesies burung cantik. Misalnya cendrawasih, kakatua, nuri yang terbang secara bebas.

Apalagi wilayah selat ini dianggap mirip dengan Raja Ampat Sorong. Pasalnya banyak gugusan pulau karang di selat tersebut. Di gugusan-gugusan pulau tersebut itulah tersebar lukisan cap tangan merah.

Setelah tiba disini Anda harus merogoh kocek untuk membayar guidenya, sementara untuk biaya masuk ke tempat wisata ini tidak dipungut biaya sama sekali.

Karena di sekitar lokasi wisata ini tidak terdapat fasilitas dan akomodasi yang cukup memadai, Anda yang ingin menginap harus kembali ke Kota Fakfak. Di kota ini, Anda bisa menemukan hotel dan rumah makan yang siap memenuhi kebutuhan Anda.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini