Para Pemeluk Agama Yahudi yang Hidup Berdampingan dengan Masyarakat Manado

Para Pemeluk Agama Yahudi yang Hidup Berdampingan dengan Masyarakat Manado
info gambar utama

Sebagai masyarakat Indonesia, tentu kita sudah mengenal berbagai agama yang diakui di negara ini. Mulai dari Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, hingga Konghucu. Selain itu, ada pula berbagai keyakinan tradisional lokal yang kerap disebut sebagai penghayat kepercayaan.

Di luar berbagai kepercayaan tersebut, sebenarnya ada banyak orang yang menjadi penganut agama-agama lain yang hidup di tengah masyarakat.

Soal ini, tahukah bila terdapat kelompok akat yang menjadi penganut agama Yahudi di Indonesia? Ya, mereka bisa kita temui di daerah Manado dan sekitarnya.

Memang tak sedikit orang yang memiliki stigma buruk mengenai salah satu agama Abrahamik ini, tetapi kesampingkan dulu pemikiran yang demikian. Mereka yang menjadi penganut Yahudi ini hidup secara berdampingan dengan masyarakat Manado.

Lantas, bagaimana awal mula dari munculnya orang-orang Yahudi di Manado ini? Serta bagaimana kehidupan keagamaan mereka di sana?

Sejarah Berkembangnya Agama Kristen di Tanah Batak dan Lahirnya HKBP

Awal kedatangan umat Yahudi ke Sulawesi Utara

@shaarhashamayimsynagogue (Instagram)
info gambar

Jejak para pemeluk Yahudi ini bisa kita telusuri dari riwayat kedatangan orang-orang Belanda ke tanah air. Diaspora mereka bisa ditemukan di berbagai wilayah Indonesia timur.

Sejak dulu, mereka sudah melakukan kegiatan ibadah tanpa menutup-nutupinya sejak era sebelum kemerdekaan.Bersumber dari penelitian berjudul Eksistensi Pemeluk Agama Yahudi di Manado karangan Zaenal Abidin, kedatangan orang-orang keturunan Yahudi ini dimulai sejak era 1800-an.

Selain orang-orang Belanda, ada pula mereka yang berasal dari Portugis, Spanyol, Polandia, Belgia, Jerman, hingga Irak. Latar belakang mereka pun bermacam-macam. Misalnya yang berasal dari Belgia adalah seorang tentara atau pegawai, sementara yang dari Irak adalah pedagang.

Kemudian untuk mereka yang dari Portugis dan Spanyol adalah awak kapal dari Vasco da Gama yang datang ke Indonesia timur. Sementara untuk yang dari Belanda adalah orang-orang VOC, yang mana 80% anggotanya adalah keturunan Yahudi.

Para penganut Yudaisme ini memiliki persaudaraan yang kuat. Ketika bertemu di suatu tempat, maka mereka akan saling berinteraksi. Terlebih lagi bila mereka datang secara massal.

Setelahnya, mereka ada yang menetap ada yang kembali ke daerah asalnya. Mereka yang tinggal disinilah kemudian membaur dengan masyarakat, hingga ada yang menikah dengan warga lokal. Oleh karena itu, penganut Yudaisme di Manado bisa dikatakan ada yang memiliki darah Yahudi.

Oei Tjeng Hien, Sosok Muslim Tionghoa Pembela Agama dan Negara

Tempat kegiatan keagamaan yang diakui pemerintah

Secara umum, komunitas Yahudi yang ada di sini bisa dikelompokkan menjadi Yahudi Ortodoks, yaitu mereka yang memegang teguh prinsip bahwa penganut Yahudi haruslah merupakan darah keturunan dan memiliki aturan pelaksanaan keagamaan ketat, serta Yahudi Reform yang tidak menerapkan prinsip tersebut.

Mengenai praktik ibadahnya, mereka melakukannya di bangunan sinagoga. Di Sulawesi Utara, terdapat satu-satunya sinagoga bernama Sha’ar Hashamayim di daerah Tondano, Kabupaten Minahasa yang berdiri pada tahun 2004.

Sebelum adanya sinagoga ini, orang-orang Yahudi di Sulawesi Utara sempat kesulitan untuk melakukan kegiatan ibadah karena harus berpindah-pindah dengan menyewa gedung.

Hingga akhirnya, warga Belanda bernama J.P Van Der Stoop membeli rumah dari keluarga Yaakov Baruch, seorang rabi atau pemuka agama Yahudi yang tinggal di Sulawesi Utara. Bangunan tersebut pun akhirnya difungsikan menjadi sinagoga yang juga menjadi pusat bagi komunitas Yahudi di seluruh Indonesia.

Yaakov Baruch (Wikimedia Commons)
info gambar

Keberadaan sinagoga Sha’ar Hashamayim juga mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah. Seperti ketika sinagoga ini sempat rusak pada tahun 2009, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dan Pemerintah Kabupaten Minahasa memberikan bantuan untuk renovasinya.

Hingga akhirnya, pada 2019 bangunan ini pun diresmikan sebagai tempat ibadah yang sah untuk orang-orang beragama Yahudi. Sinagoga ini pula yang menjadi satu-satunya yang diakui pemerintah di Indonesia.

Sapta Darma, Kelompok Penghayat Kepercayaan dari Jawa Timur

Hidup berdampingan dengan masyarakat

Mengenai bagaimana kehidupan keberagamaan masyarakat Yahudi di sini, bisa dikatakan bahwa mereka hidup rukun dengan penganut agama lain. Bahkan, dua kota di Sulawesi Utara, Manado dan Tomohon, menyandang titel sebagai kota paling toleran di Indonesia.

Masyarakat di daerah ini sangat toleran dengan segala perbedaan yang ada antara sesama penduduk, termasuk dari segi kehidupan beragama. Mereka sudah terbiasa dengan segala perbedaan latar belakang tersebut.

Permasalahan yang ada juga pun tidak sampai menimbulkan konflik. Sempat ada hal yang cukup mengganggu mereka, yaitu ketika ada gereja yang menyematkan atribut-atribut Yahudi untuk mendapatkan pengikut baru.

Selain itu, karena memang bukan sebuah agama yang diakui di Indonesia, dalam aspek pelayanan hak-hak sipil mereka agak kesulitan untuk mengurusnya.

Selebihnya, sebagian besar masyarakat maupun pemerintah tetap menghargai keberadaan mereka. Terlebih lagi para penganut Yahudi ini juga kerap terlibat dalam berbagai kegiatan di masyarakat.

Misalnya ketika perayaan hari besar Idul Fitri atau Natal, mereka juga turut membantu. Selain itu, komunitas Yahudi ini juga pernah memberikan bantuan ketika peristiwa tsunami Aceh.

Memang, sentimen buruk mengenai agama Yahudi masih sangat kental di Indonesia, apalagi banyak yang menganggap Israel dan Yahudi adalah sama. Ketika berada di kota asalnya, mereka bisa dengan nyaman untuk menunjukkan status keagamannya.

Lain halnya bila mereka pergi ke luar daerah, mereka banyak yang memilih untuk merahasiakannya.

Setidaknya, bagaimana kehidupan masyarakat yang bisa berdampingan dengan masyarakat Yahudi di Sulawesi Utara ini bisa menjadi cerminan akan keberagaman dan toleransi.

Kisah dari Batam, Miniatur Keberagaman Budaya dan Agama Indonesia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini