Perkebunan Teh Goalpara: Perusahaan Pertama yang Go Publik di Hindia Belanda

Perkebunan Teh Goalpara: Perusahaan Pertama yang Go Publik di Hindia Belanda
info gambar utama

Pabrik Kebun Goalpara, di Desa Cisarua, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi pernah mencatatkan diri sebagai perusahaan perkebunan pertama di Hindia Belanda yang menawarkan sahamnya ke publik.

Dimuat Kompas, meski beberapa fakta perlu diverifikasi, di beberapa literatur disebutkan pada tahun 1892 perusahaan perkebunan tersebut menawarkan saham sebanyak 400 lembar dengan harga saham 500 gulden meskipun saat itu belum ada bursa resmi.

Bursa saham baru berdiri pada 14 Desember 1912 oleh Amsterdamse Effectenbeurs yang mendirikan cabang bursa efek di Batavia. Di tingkat Asia, bursa efek tersebut merupakan yang tertua keempat setelah Bombay (1830), Hongkong (1871), dan Tokyo (1878).

Dari Balik Keharuman Minuman Teh: Cerita Panjang Pencicip dari Wonosari

Ditulis oleh Didit Putra Erlangga dan Andreas Maryoto dalam Jejak Peradaban: Teh Goalpara yang ke Lantai Bursa menyebut ada dua hal yang tak berkesesuaian karena Pabrik Goalpara ini disebut mulai beroperasi pada 1908.

Selain itu, jelas Didit bahwa pemilik perkebunan itu juga membingungkan, tercatat mulai dari Cultuur Maatschappij Goalpara, Tiedeman van Kerchem, hingga NV Geo Wehry. Baginya informasi ini perlu diverifikasi.

Didit kemudian menduga bahwa tahun penawaran saham merupakan saat pencarian dana, sedangkan tahun pendirian pabrik adalah saat pabrik beroperasi. Sedangkan soal kepemilikan, jelasnya bisa jadi terjadi akibat pergantian pemilik.

Cikal bakal bursa saham

Namun, baginya hal yang tidak bisa dipungkiri bahwa perusahaan perkebunan Goalpara ini merupakan perusahaan pertama yang menawarkan saham ke publik di Hindia Belanda. Hal ini menjadi cikal bakal bursa saham di Indonesia.

Menurutnya pada waktu itu, pencarian dana segar tengah giat-giatnya dilakukan. Sebab, selain tengah berkembang, perusahaan ini juga membutuhkan dana untuk ekspansi. Uang dari pekerja itu diharapkan bisa dimanfaatkan untuk investasi perkebunan besar-besaran.

“Saat itu, perkebunan teh adalah salah satu perusahaan yang memiliki prospek,” papar Didit.

Emas Hijau Priangan: Romansa Kebun Teh Rakyat Pewaris Jejak Kejayaan

H Kuswandi, peminat sejarah teh di Tanah Priangan menyebut perkebunan teh cukup lama di Indonesia, yaitu pada masa VOC. Kisah sukses perkebunan teh terjadi pada pertengahan abad ke 19, yaitu saat pemerintah Hindia Belanda membuka perkebunan di Jawa Barat.

Percobaan pertama dilakukan di Kebun Raya Bogor (1824), lalu di sekitar Kota Bogor hingga mengarah ke Sukabumi. Kemudian pada tahun 1827, teh coba ditanam masuk ke pedalaman yaitu di Cisurupan, Kabupaten Garut.

“Salah satu pelopor perkebunan teh di Jabar dan sekitarnya adalah GIJ van der Hucht tahun 1844. Dia datang dari Belanda, hingga memulai penanaman teh dengan menyewa tanah dari Hindia Belanda,” jelasnya.

Menjadi gaya hidup

Disebutkan oleh Kuswandi adanya perubahan yang terjadi di kota-kota Jabar, terutama di wilayah Priangan, sangat terkait dengan perkebunan teh. Pembukaan perkebunan teh juga membuka beberapa kota.

Pembukaan kota juga terkait dengan kebutuhan pekerja kebun teh, baik untuk membeli kebutuhan maupun sebagai tempat istirahat. Perubahan ini, jelas Kuswandi juga ditentukan dengan gaya hidup orang-orang perkebunan.

“Keberadaan fasilitas, transportasi, komunikasi, pendidikan, dan pariwisata yang kini ada di Priangan sangat terkait dengan pembukaan perkebunan,” papar Kuswandi.

Semerbak Teh, Mimpi yang Pernah Indah bagi Warga Priangan

Perkebunan teh Goalpara dipastikan juga mewarnai perkembangan kota terdekatnya, yaitu kota Sukabumi. Disebutkan oleh Kuswandi, kota ini juga merupakan tempat istirahat kalangan perkebunan sehingga transportasi, komunikasi dan pariwisata berkembang.

Bahkan, pada suatu saat, perkebunan Goalpara bisa mengangkat nama Tanah Priangan. Produk-produk teh dari perkebunan itu sangat terkenal di mancanegara. Karena itulah, ada harapan perkebunan Goalpara ini tetap harus dipertahankan.

“Kami memang akan mengurangi perkebunan, tetapi perkebunan yang kualitas dan kuantitas produksinya turun,” ucap Sekretaris Perusahaan PTPN VIII Gunara.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini