Berburu Kuliner Tionghoa Legendaris di Glodok Pancoran, Pecinan Terbesar se-DKI Jakarta

Berburu Kuliner Tionghoa Legendaris di Glodok Pancoran, Pecinan Terbesar se-DKI Jakarta
info gambar utama

Bagi Anda yang berada di Jakarta dan ingin mencoba masakan khas Tionghoa dengan berbagai pilihan, Glodok Pancoran akan memuaskan selera Anda. Terletak di Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat, kawasan ini sejak zaman kolonial telah terkenal sebagai pusat pecinan terbesar di Batavia. Mayoritas penduduknya berasal dari etnis Tionghoa.

Oleh sebab itu, Glodok secara organik terbentuk menjadi kawasan wisata seni dan budaya Tionghoa berpadu dengan suku Betawi. Tak hanya itu, kawasan ini juga tersohor seantero Jakarta sebagai sentra perdagangan barang-barang khusus Tionghoa, mulai dari kuliner, obat tradisional, busana, peralatan ibadah, sampai pernak-pernik, semuanya ada. Di sini juga sering diadakan atraksi budaya Tionghoa seperti barongsai dan kesenian lainnya. Apalagi kalau momen imlek, tempat ini akan sangat merah dan meriah.

Bicara soal kuliner, kawasan Glodok Pancoran memiliki sejumlah warung makan khas Tionghoa nan legendaris. Beberapa di antaranya bahkan berumur di atas seratus tahun. Berikut beberapa destinasi kuliner di Glodok Pancoran yang bisa Anda nikmati.

Akulturasi Budaya Tionghoa dalam Sepiring Gado-gado Betawi

Kopi Es Tak Kie

Berwisata ke Pecinan Glodok Pancoran tak lengkap kalau tidak mencicipi minuman di Kopi Es Tak Kie. Warung yang terletak di Gang Gloria ini terkenal sebagai warung kopi Tionghoa legendaris karena sudah berdiri sejak 1927. Para penikmat kopi satu Indonesia sepertinya mengenal tempat ini. Anda harus coba kopi O. Menu andalan ini diracik sendiri oleh pemilik dari generasi keempat.

Kopi Es Tak Kie didirikan oleh Liong Kwie Tjong, perantau dari daratan Tiongkok. Ia menamai warung itu dengan maksud ingin mengajarkan para penerusnya untuk tampil sederhana dan bekerja keras. Sesuai nama Tak Kie yang berasal dari kata “Tak”, berarti orang bijaksana, sederhana, dan tidak macam-macam, sedangkan “Kie” berarti mudah diingat orang.

Kedai Kopi Es Tak Kie kini dikelola oleh generasi keempat. Tembok berwarna putih gading dengan model kursi sederhana, telah melekat menjadi ciri khas warung kopi ini. Sejak zaman penjajahan sampai kini, Kopi Es Tak Kie tak pernah kehilangan pelanggan. Mulai dari bangsawan Belanda hingga presiden pernah duduk di bangku sederhana itu dan menikmati secangkir Kopi Es Tak Kie.

Menu yang disuguhkan di kopitiam ini telah berubah dari masa ke masa. Namun, rasa khas Tionghoa tetap kental. Dahulu, Kopi Es Tak Kie menjajakan beraneka kue, seperti lemper, bacang, kue cambon, bakpao, dan bubur kacang hijau. Tapi, sekarang menu itu telah diganti dengan makanan berat, misalnya nasi ayam, bakmi, dan pie oh.

Perkumpulan Rasa Dharma dan Pluralisme dari Etnis Tionghoa Semarang

Pie Oh Gang Gloria

Nama Gang Gloria sebenarnya berasal dari sebuah bioskop terkenal di dekat Es Kopi Tak Kie, namun bangunan hits itu terbakar pada tahun 90-an. Dua kios setelah Es Kopi Tak Kie terdapat penjual pie oh yang juga legendaris. Pie oh adalah makanan tradisional Tionghoa dari labi-labi atau kura-kura moncong babi.

Pie oh biasanya disajikan dengan kuah herbal atau tausi dan paling enak disantap pakai nasi atau cakwe. Selain cita rasanya yang khas, makanan ini juga terkenal karena cukup tidak lazim dikonsumsi masyarakat. Pie Oh Gang Gloria berdiri pada 1966, kini telah memasuki generasi ketiga dan akan terus dilanjutkan oleh generasi berikutnya.

Pantjoran Tea House

Mungkin Anda akan tercengang setelah mengetahui berapa usia destinasi yang satu ini. Pantjoran Tea House terletak di kawasan Pancoran, Jakarta Barat, sudah ada sejak 1635. Warung ini menghidangkan beragam teh Indonesia, Tiongkok, dan Jepang. Penyajian teh di sini terbilang unik karena menggunakan teknik Gong Fu Cha khas Tiongkok, gerakan perlahan dengan memusatkan hati dan pikiran. Teknik ini biasa dilakukan untuk menyambut para pejabat atau bangsawan era Dinasti Qing.

Kemudian, Pantjoran Tea House juga menyajikan teh gratis khusus untuk orang-orang yang berjalan-jalan di depan gedungnya. Penyajian teh ala Tiongkok itu menjadi atraksi tersendiri yang menarik minat wisatawan.

Melihat umurnya, Pantjoran Tea House telah melewati perjalanan sejarah yang panjang. Sebelum menjadi warung teh, tempat ini dulu adalah toko obat tradisional Tiongkok, didirikan pada 1928 dengan nama Apotheek Chung Hwa. Kawasan tersebut dulu pernah menjadi pintu masuk ke Batavia.

kampung Kapitan, Permukiman Tionghoa Kuno di Palembang

Wong Fu Kie

Kawasan kuliner legendaris di Glodok Pancoran selanjutnya adalah Wong Fu Kie. Restoran yang telah berdiri sejak 1925 ini menyajikan makanan tradisional khas Hakka, suku terbesar dari etnis Tionghoa di Tiongkok. Beberapa menu andalannya antara lain: Mun Kiaw Mien (mi kering khas Hakka), ayam pek cam kee (ayam rebus), dan gurame saus tausi.

Selain itu, Wong Fu Kie juga menyajikan makanan yang sedikit ekstrim, misalnya lindung cah fumak, belut goreng yang ditumis dengan sayur fumak diberi saus merah kental. Lalu, ada juga makanan yang terbuat dari darah babi.

Untuk menikmati sensasi makan di resto Wong Fu Kie, Anda mesti menyusuri gang sempit di Jalan Perniagaan Timur 3. Tak perlu khawatir tersesat, di sepanjang gang terpasang penunjuk jalan sehingga Anda bisa sampai di restoran. Setiba di dalamnya, Anda bisa melihat berbagai furnitur sederhana, tapi mempertegas keaslian restoran ini yang dijaga turun-temurun.

Petak Sembilan dan Rumah Makan Asang

Tempat legendaris berikutnya adalah Pasar Petak Sembilan yang terletak di Jalan Kemenangan Raya. Pasar bisa dibilang surganya kuliner Tionghoa. Bermacam makanan, minuman, dan obat tradisional khas Tionghoa ada di sini. Pasar ini sangat luas dan bertingkat-tingkat.

Sesuai namanya, setiap blok di pasar ini ditandai dengan petak satu sampai sembilan. Di dalam petak sembilan juga terdapat sebuah gang kecil yang diisi oleh pedagang kodok dan labi-labi. Harga yang ditawarkan juga cukup terjangkau.

Nah, yang terakhir ini lumayan ekstrem. Jika Anda tertarik dengan makanan seperti itu, kunjungilah Rumah Makan Asang di Jalan Krendang Raya No.103. Berdiri sejak 1998, ada dua menu saja yang dijual di sini, yaitu ular sanca dan biawak. Teknik memasak yang digunakan juga ada dua, yakni goreng kering atau dibanjiri kuah merah menggunakan angkak, beras merah Tiongkok. Meski makanan yang dijual tidak lazim, tapi Rumah Makan Asang masih berdiri sampai sekarang dan termasuk restoran Tionghoa yang legendaris.

Peran Dokter Marinir Tionghoa dalam Evakuasi Jenazah 7 Pahlawan Revolusi

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Afdal Hasan lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Afdal Hasan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini