Menyusuri Kejayaan dan Kelestarian Alam dalam Festival Getek Bengawan Solo

Menyusuri Kejayaan dan Kelestarian Alam dalam Festival Getek Bengawan Solo
info gambar utama

Festival Getek Bengawan Solo merupakan sebuah ajang festival yang diselenggarakan setahun sekali di sepanjang Sungai Bengawan Solo. Iring-iringan getek (rakit bambu) dalam acara acara tersebut memunculkan kembali Kota Solo atau Surakarta.

Di mana Kota Solo atau Surakarta pada abad 13-19 adalah kota air, Sungai Bengawan Solo menjadi “jalan raya” utama, getek dan perahu lalu lalang membawa berbagai barang seperti hasil bumi, garam, dan kain batik.

Pada masa itu, para saudagar, pedagang, bangsawan melintas dari satu bandar ke bandar lain yang bertebaran dari Wonogiri hingga jauh ke Gresik, Jawa Timur. Suasana masa lalu semacam itulah yang ingin dihidupkan kembali lewat “Festival Getek Bengawan Solo”.

Melacak Jejak Bengawan Solo: Peran dalam Kehidupan Masyarakat Jawa

Festival ini berawal dari kisah kepahlawanan Joko Tingkir. Dalam salah satu episode perjalanan hidupnya, Joko Tingkir menyusuri Sungai Bengawan Solo dari daerah Majasta di Kabupaten Sukoharjo menuju Desa Gerompol di lereng Bukit Prawata.

Ketika menyusuri Bengawan Solo, Joko Tingkir konon bertarung dengan raja buaya beserta bala tentara-nya di tempat yang berjarak tidak jauh dari Kota Solo sekarang. Joko Tingkir akhirnya bisa mengalahkan semua binatang itu.

Bahkan buaya-buaya tersebut, dalam legenda Joko Tingkir yang disebutkan ada 40 ekor mengabdi kepada Joko Tingkir dan membantunya dengan mendorong getek yang ditumpangi pria bernama kecil Mas Karebet itu.

Diabadikan dalam festival

Dimuat dari Kompas, terinspirasi dari riwayat Joko Tingkir, dibuatlah acara Larung Getek Joko Tingkir dengan rute dari Pesanggrahan Langenharjo di Sukoharjo. Pada acara larung yang pertama tahun 1996, Joko Tingkir diperankan oleh Dono Warkop.

Nama acara Larung Getek Joko Tingkir pernah diubah pada tahun 2002 menjadi Larung Agung Joko Tingkir. Ketika itu pemeran Joko Tingkir adalah Paundrakarna Sukma Putra, putra Mangkunegoro IX, pemimpin Puro Mangkunegaran.

Pada tahun 2004 Larung Agung Joko Tingkir dilakukan tepat tanggal 1 Januari dan tidak pada saat syawalan sebagaimana biasanya. Alasannya selain itu memeriahkan perayaan Tahun Baru, juga memanfaatkan elevasi muka air yang cukup tinggi.

Misteri Onggo-Inggi, Siluman Air Penghuni Bengawan Solo yang Sering Minta Tumbal

Puluhan ribu warga di sepanjang tepi Bengawan Solo berduyun-duyun menonton iring-iringan itu. Kegembiraan terpancar di wajah penonton yang terdiri dari berbagai usia. Mereka bertepuk tangan dan melambaikan tangan.

Iring-iringan perahu berhenti dua kali, yakni di Taman Jurug dan di Desa Waru, Kecamatan Kebak Kramat, Kabupaten Karanganyar. Keberhasilan kegiatan larung agung dalam jangka panjang memang ditentukan oleh kesanggupan penyelenggara.

“Kegiatan wisata yang berlangsung secara kontinu dan diselenggarakan pada tanggal yang sama setiap tahun adalah syarat keberhasilan pemasaran wisata. Tanpa promosi besar-besaran, pengunjung akan datang dengan sendirinya karena mereka tahu kapan acara tersebut diselenggarakan,” ujar Kepala Subdinas Pemasaran Wisata Dinas Pariwisata, Seni, dan Budaya Solo ketika itu Febria Roekmi Evy.

Bentuk rasa syukur

Di setiap ajang Festival Getek, belasan getek akan memenuhi tepian Sungai Bengawan Solo. Sepanjang perjalanan, para peserta Festival Getek menampilkan pertunjukan kesenian, seperti tari gambyong, tari punakawan, tetabuh gamelan dan musik keroncong.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 2 kilometer dari Ngepung, perahu-perahu bambu ini merapat ke Kampung Beton, Jebres. Di tempat ini, mereka akan disambut dengan ritual apem sewu.

Tradisi ini ini dilakukan sebagai rasa syukur kepada Tuhan karena kampung mereka terhindar dari bencana terutama banjir. Dalam tradisi ini, biasanya ribuan apem yang disusun berbentuk gunungan dikirab keliling kampung.

Sejarah Hari Ini (1 Oktober 1917) - Gesang, Maestro Keroncong Indonesia

Seusai mampir di Kampung Beton, arak-arakan festival getek dilanjutkan menuju Taman Ronggowarsito di sekitar jembatan jurug, para peserta festival getek biasanya akan disambut dengan kesenian lain seperti reog dan tari-tarian.

“Festival Getek ini digelar agar masyarakat mengingat kembali kejayaan Bengawan Solo masa lalu sebagai sarana transportasi. Selain itu festival ini sekaligus sebagai kampanye sungai bersih dan sehat,” jelas FX Rudyatmo, Wali Kota Solo kala itu yang dinukil dari Tumpi.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini