Keindahan Kain Tenun yang Jadi Simbol Pemersatu Masyarakat Buton

Keindahan Kain Tenun yang Jadi Simbol Pemersatu Masyarakat Buton
info gambar utama

Secara administrasi pemerintahan, masyarakat Buton kini boleh tercerai berai menyusul terbentuknya kabupaten-kabupaten baru. Tetapi secara kultural mereka masih akrab dengan nilai-nilai yang telah menjadi ciri khas dan perekat hubungan sosial sejak lama.

Salah satu perekat sosial itu adalah kain tenun. Bagi masyarakat Buton, ada kebanggan sendiri bila bisa menggunakan kain tenun bercorak daerahnya, di mana pun mereka sedang berada saat ini.

Dinukil dari Kompas, masyarakat Buton di perantauan, terutama yang tergolong mampu secara ekonomi, bila mengadakan pesta pernikahan tanpa menghadirkan nuansa Buton, terutama tenun pasti terasa hambar.

Dalam tradisi, hampir semua wanita Buton dikenal mahir menenun. Bukan hanya kalangan rakyat biasa, istri-istri para sultan pun harus pandai menenun. Tak heran jika dalam berbusana pun mencerminkan strata sosial atau status dalam masyarakat.

Kain Tenun Kamohu Buton, Warisan Budaya Asal Sulawesi Tenggara

“Seorang wanita muda yang sudah berumah tangga bisa dilihat dari caranya berpakaian,” ucap Yasmin Indas dalam Tenun Buton sebagai Tanda Pengenal.

Hadijah, pembina penenun kain Buton di Bau-Bau menyebut busana untuk gadis (kalambe) berbeda lagi. Gadis orang kebanyakan menggunakan kain biasa dengan motif yang umum seperti kasopa.

Sedangkan gadis dari golongan bangsawan dengan gelar wa ode harus memakai kian yang didominasi warna perak yang disebut motif kumbaea. Hal ini menjadi sebuah penanda status di masyarakat.

“Pokoknya, asal memakai kain bermotif kumbaea dia pasti seorang wa ode,” ujarnya.

Tenun pengikat sosial

Tokoh adat Buton, Hasinu Daa menyebut kain tenunan Buton merupakan tanda pengenal status sosial dalam masyarakat di masa lalu. Sebagai identitas, kain tenunan Buton masih berlaku dan cenderung makin menguat belakangan ini.

Bahkan bukan hanya sebagai simbol status, tetapi telah menjadi pemersatu secara kultural bagi masyarakat Buton, terutama bagi mereka yang hidup di perantauan. Kenyataannya masyarakat Buton masih mencintai produk tenunnya.

Karena itulah Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Bau-Bau Yusni Amirul melakukan inovasi agar makin meningkatkan mutu produk dan perluasan pasar bagi tenun Buton.

Negeri Katon, Desa Perajin Kemewahan Kain Tapis Khas Lampung

Dirinya menuturkan sebagian perajin tenun di daerahnya telah dibekali keterampilan dan teknik meningkatkan mutu dan desain melalui pelatihan. Karena itulah harga tenun Buton semakin meningkat.

Pada 2015 lalu, harga tenun buton bisa dijual dari 150-450 ribu. Hal ini tergantung dengan bahannya, bila terbuat dari benang sutra tentunya harganya bisa semakin mahal bahkan mencapai jutaan rupiah.

Multifungsi

Biasanya, kain tenun Buton bercorak garis-garis searah untuk bahan pakaian wanita dan garis-garis berpotongan untuk pria. Garis-garis itu sering dipertegas dengan benang emas atau perak.

Terkini, kain tenun Buton tidak hanya sebagai bahan aneka busana, namun juga sebagai kain gorden, taplak meja, dan alat dekorasi. Karena itulah Wisni tidak hanya fokus pada usaha pertenunan, na,un semua kerajinan.

Disebutkannya daya tarik tenunan Buton justru pada motifnya yang sangat kaya. Karena itu dirinya berharap agar potensi itu dikembangkan para penerusnya bagi meluasnya pangsa pasar hasil kerajinan.

Tenun Troso, Tenun Ikat Tradisional Kebanggaan Jepara

Dirinya bahkan pernah mengadakan kerja sama dengan desainer dan peragawati terkenal untuk membuat model pakaian khas Buton. Sehingga memancing minat masyarakat luas di luar komunitas Buton.

“Saya sudah pernah jajaki dengan Sumi Hakim dan Ramli, tetapi peragaan busana belum terlaksana karena masa jabatan suami saya berakhir,” ujarnya pada 2005 silam.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini