Sekelumit Kisah Candi untuk Peribadatan Nenek Moyang di Halimun Salak

Sekelumit Kisah Candi untuk Peribadatan Nenek Moyang di Halimun Salak
info gambar utama

Situs Lebak Cibedug merupakan tempat peribadatan nenek moyang zaman dahulu. Situs ini sendiri terletak di Kampung Cibedug yang secara administratif berada di Desa Citorek Barat Kecamatan Cibeber Kabupaten Lebak, Banten.

Lokasi tepatnya berada di dalam Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Tempat ini merupakan perkampungan yang berdampingan dengan hutan, suasana asri, sejuk dan segar menjadi suguhan utama di Kampung Cibedug.

Dimuat dari Banten Hejo, bila ingin berkunjung ke lokasi ini membutuhkan tenaga ekstra, hal ini karena harus melewati jalanan terjal khas daerah pegunungan yang bisa menjadi tantangan tersendiri.

Situs Watesumpak: Mengunjungi Kemegahan Pemukiman Elite Zaman Majapahit

Selain suasana yang sejuk, di dalam kampung ini terdapat sebuah aset sejarah masa lalu yang sangat berharga yaitu komplek candi berbentuk punden berundak lengkap dengan menhir dan sumur.

“Candi ini merupakan tempat peribadatan nenek moyang zaman dulu,” tulis Sukmadi Jaya Rukmana dalam Situs Lebak Cibedug, Saksi Sejarah Kejayaan Masa Lalu.

Ditulisnya Candi Cibedug merupakan sisa peninggalan zaman megalitikum yang sampai saat ini bentuknya masih tetap terjaga. Walaupun ada beberapa bagian yang hilang karena dimakan usia mengingat rentang waktu yang sangat panjang.

Apa itu Situs Cibedug

Disebutkan oleh Sukmadi, candi ini merupakan situs prasejarah peninggalan zaman megalitikum berbentuk punden berundak dan memiliki enam teras dengan sejumlah altar dan menhir pada tiap terasnya.

“Situs Cibedug mempunyai orientasi arah menghadap ke arah timur-barat. Dengan tiga halaman yang semakin meninggi dari sisi timur ke arah barat,” paparnya.

Menurutnya kompleks ini yang menunjukan adanya perpaduan bentuk batur-batur punden dengan menhir, batu datar, dan batu kursi di dalamnya. Punden berundak itu sendiri menjadi bagian yang paling sakral pada Candi Cibedug ini.

“Bila ingin menuju situs ini, kita perlu melalui tangga batu yang terbuat dari susunan batu andesit dari batu lempung. Jumlah tangganya terdiri dari 33 anak tangga,” ucap Sukmadi.

Misteri Situs Biting: Jejak Benteng Kuno yang Dibangun Pada Era Majapahit

Pada bagian depan pintu masuk situs yang berada di sebelah barat, langsung berbatasan dengan aliran kali Ciledug. Pada bagian tengah pintu masuk terdapat menhir yang berukuran besar.

Bila diperhatikan dari struktur bangunan suci, jelas Sukmadi menandakan bahwa pada zaman dahulu di tempat tersebut pernah hidup sekelompok masyarakat yang sudah maju pada peradaban saat itu.

“Mereka sudah mengenal cara beribadah, memiliki kemampuan arsitektur dan mampu membuat kode atau sandi berupa tulisan dibuktikan dengan adanya batu gores pada komplek candi tersebut,” beber Sukmadi.

Motif pendirian candi

Situs Cibedug hingga kini belum ditemukan kapan waktu didirikannya. Tetapi, jelas Sukmadi, para peneliti masih bisa mempelajari soal candi tersebut melalui struktur bangunannya yang masih ada hingga saat ini.

Sementara itu masyarakat Kampung Cibedug sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani. Aktivitas keseharian mereka bekerja di sawah, sumber air yang melimpah menjadi pendukung utama masyarakat dalam bertani terutama dalam mengolah lahan sawah.

Selain itu sebagai sampingan masyarakat Kampung Cibedug juga menyadap aren untuk dijadikan gula aren, dan hasilnya dijual baik di sekitar Citorek atau di jual ke kota. Di sekitar hutan yang berada di kampung Cibedug memang banyak tumbuh pohon aren secara alami.

Harmonisasi Masyarakat Merawat Kejayaan Masa Lalu di Muaro Jambi

Pada masa tersebut, manusia telah mengenal sistem religi yang mereka wujudkan dengan ritual menghormati roh-roh nenek moyang. Roh-roh nenek moyang dipercayai telah bersinergi dengan alam sekitar tempat tinggal mereka.

“Sehingga memiliki kekuatan yang mampu memberikan anugerah maupun bencana terhadap masyarakat melalui fenomena alam yang berlangsung,” dimuat dalam laman Mendikbud.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini