Dari Tanam Padi hingga Telur Puyuh, Cara Eks Napiter Terorisme agar Berdikari

Dari Tanam Padi hingga Telur Puyuh, Cara Eks Napiter Terorisme agar Berdikari
info gambar utama

PT Sang Hyang Seri (Persero), anggota BUMN Klaster Pangan yang bergerak di bidang sub industri pertanian mengajak 10 eks narapidana terorisme (napiter) menanam padi di Sukamandi, Subang, Jawa Barat.

Kegiatan ini merupakan program Pendidikan Wawasan Kebangsaan melalui program pangan mantan napi. Program ini sendiri dilaksanakan di lahan milik Sang Hyang Seri di Sukamandi, Jumat (6/1/2023).

Dinukil dari Antaranews, pada kegiatan kali ini, para eks napiter diajak untuk mempelajari budidaya yang biasa dilakukan petani. Mulai dari proses penyemaian, pengerjaan penanaman padi hingga mengelola sendiri lahan yang ditanami sampai masa panen.

Sugiarto, Dedikasikan Hidup Lebih dari 20 Tahun untuk Gaungkan Aksi Menanam Pohon

“Kami PT Sang Hyang Seri tentu akan terus membantu teman-teman eks napiter agar dapat menerima ilmu mengenai pertanian ini dengan baik, sehingga ketika mereka kembali ke masyarakat, ilmu ini dapat terus digunakan dan akan membantu mereka dalam mencari mata pencaharian,” ujar Direktur Utama Sang Hyang Seri, Maryono.

Sementara itu, Kepala Densus 88 Inspektur Jenderal Polisi Marthinus mengatakan, kerja sama ini melibatkan 10 eks napiter supaya bisa dibimbing oleh PT Sang Hyang Seri. Dirinya mengharapkan agar mantan terpidana teroris ini dapat menemukan jalan hidup baru.

“Kami ingin eks napiter ini menambah ilmu yang dapat mereka gunakan ketika mereka kembali ke masyarakat. Dengan mempelajari pertanian, kami berharap ini akan menjadi sumber ekonomi mereka ke depannya, sehingga kecil kemungkinan untuk eks napiter ini melakukan perbuatan yang dilakukan sebelumnya,” jelas Marthinus.

Bisnis telur puyuh

Sekelompok mantan narapidana kasus terorisme di Bekasi, Jawa Barat ternyata juga mengelola sebuah yayasan untuk memberdayakan diri dan sesamanya agar bisa kembali ke masyarakat.

Salah satunya mereka membuat program dari peternakan burung puyuh petelur hingga deradikalisasi napiter agar mereka bisa berdikari. Yayasan bernama DeBintal ini selama enam bulan terakhir menyalurkan telur puyuh ke warung-warung di sekitar Bekasi.

Hendro Fernando adalah Sekretaris Jenderal Yayasan DeBintal akronim Dekat Bintang dan Langit, sebuah yayasan yang diinisiasi Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror. Mereka dibina setelah selesai menjalani masa hukuman dan sukses di deradikalisasi.

Di dalamnya mereka dibina dan dibimbing agar bisa kembali ke masyarakat dengan berdaya. Pasalnya, para eks napiter kerap limbung ketika bebas. Hendro sendiri bebas dari Lapas Nusakambangan tahun 2021.

Mengenal Milenial Shrimp Farming, Program Budidaya Udang Beromzet Menggiurkan

Ada beberapa unit usaha yang lodijalankan DeBintal sejak berdiri pada tahun 2021, dari rumah potong halal, percetakan kaos, hingga produksi minuman lemon sereh. Di antara semuanya, usaha ternak burung puyuh petelur lah yang paling berkelanjutan.

“Telurnya juga kita nggak jual jauh-jauh. di sekitar warga saja. Bahkan warga itu akhirnya menjadi agen-agen kita, karena harga dari kandang lebih murah,” jelasnya yang dimuatVOA Indonesia.

Sementara itu dari enam ribu ekor burung puyuh yang diternak, yayasan nantinya akan memanen 35-40 kilogram telur puyuh setiap hari, yang dijual dengan harga Rp30 ribu per kilogram. Beberapa warga juga dipekerjakan untuk mengurus ternak.

Jembatan deradikalisasi

Hendro dan kawan-kawannya tidak hanya membantu dalam pemberdayaan ekonomi, tetapi juga membantu mantan napiter dalam mengurus dokumen kependudukan ketika mereka bebas dari penjara.

DeBintal menyediakan fasilitas rumah singgah bagi keluarga napiter dan eks-napiter yang ingin menjenguk maupun menjemput mereka dari lembaga pemasyarakatan di wilayah Jabodetabek.

Sementara itu pada akhir Juni lalu, DeBintal menandatangani perjanjian dengan Dirjen Pemasyarakatan untuk membina mental dan rohani napiter, meningkatkan kemampuan kewirausahaan dan memberikan jaminan program reintegrasi selama lima tahun.

Padi Hibrida, Menanam "Permata" bagi Pertanian Indonesia di Masa Depan

Sementara itu Ketua Badan Penanggulangan Ekstrimisme dan Terorisme Majelis Ulama Indonesia (BPET MUI) Muhammad Syauqillah mengatakan peran warga sangat penting dalam membantu deradikalisasi eks napiter.

“Kalau masyarakat secara umum memang kita nggak bisa atasi ya, tapi kalau ngomong soal pelibatan masyarakat, tentunya yang paling penting, yang urgent itu bagaimana melibatkan satuan terkecil dalam sistem sosial kita, yaitu rukun tetangga, sampai kelurahan, pemda itu juga perlu terlibat,” ujar Syauqi.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini