Sugiarto, Dedikasikan Hidup Lebih dari 20 Tahun untuk Gaungkan Aksi Menanam Pohon

Sugiarto, Dedikasikan Hidup Lebih dari 20 Tahun untuk Gaungkan Aksi Menanam Pohon
info gambar utama

Pada tanggal 10 Januari kemarin, masyarakat dunia telah memperingati perayaan Hari Gerakan Sejuta Pohon. Meski peringatan lingkungan yang menyoroti aspek pohon, hutan, dan sejenisnya ini bukan sekali dua kali diperingati dalam setahun, namun makna dan tujuan yang ingin diraih tetaplah sama, yakni sebagai ragam upaya menyelamatkan hutan sekaligus melestarikan lingkungan.

Sementara itu jika bicara mengenai upaya terkait, di tanah air sendiri beruntungnya selalu ada pihak-pihak yang memiliki kesadaran tinggi untuk berkontribusi secara nyata, bahkan ada yang secara totalitas mendedikasikan hidupnya melancarkan upaya tersebut selama puluhan tahun.

Salah satunya adalah Sugiarto, pria asal Pasuruan, Jawa Timur. Salah satu dari sekian banyak orang yang rela menghabiskan tahun-tahun hidupnya demi melakukan aksi pelestarian lingkungan dengan menanam pohon.

Kisahnya cukup menginspirasi, karena sosok--oleh orang sekitar--yang juga akrab disapa dengan panggilan Mas Ugik ini awalnya menjalani gerakan yang menurut ia benar seorang diri, kerap mendapat cibiran, bahkan dipandang sebelah mata.

Gerakan Satu Juta Pohon dan Cara Pandang Soeharto Melihat Lingkungan

Menanam pohon sejak tahun 1990-an

Mengutip riwayat yang dituliskan oleh Pemkab Pasuruan, diceritakan bahwa keresahan Sugiarto akan kondisi lingkungan sekitarnya dimulai sejak tahun 1990, kala itu ia merasa suhu udara di desanya yakni Dusun Selowinangun, Desa Cowek, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan semakin panas.

Padahal, desa tersebut berada di lereng gunung, lain itu diketahui bahwa debit air pada sungai-sungai yang berhulu di pegunungan sisi utara kian mengecil dan hanya mengalir saat hujan. Hal tersebut diakibatkan karena banyaknya mata air yang mati akibat kerusakan hutan, dan area pohon penyerap air yang gundul.

Akhirnya mulai awal tahun 1993, Sugiarto nekat memulai aksi yang saat itu oleh kebanyakan tetangganya dianggap sebagai hal yang konyol dan membuang-buang waktu, yaitu berburu bibit pohon penyerap air.

Baru saja menyelesaikan sekolahnya sampai tingkat SMA, dirinya diketahui memang berasal dari keluarga yang berhubungan dengan Perhutani, di mana ayahnya merupakan pensiunan pengawas di kawasan milik Perhutani. Selain itu, Sugiarto juga dikenal aktif dalam kegiatan pramuka yang memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan.

Sugiarto memburu dan mengembangkan berbagai macam bibit pohon seperti mahoni, gembillina, jati, sengon, alpukat, palem putri dan aneka macam tanaman keras lainnya untuk di tanam pada lahan gundul agar bisa berfungsi kembali menyerap dan mempertahankan ketersediaan air tanah.

Ia bahkan rela mengeluarkan kocek hingga Rp6 juta yang kala itu masih menjadi nominal sangat besar, untuk mengembangkan terlebih dahulu bibit-bibit pohon di rumahnya. Jika sudah siap tanam, dirinya lalu membawa bibit pohon yang ada ke berbagai hutan untuk ditanam.

"Sejak lulus SMA, saya keliling ke hutan atau ke lahan di sekitar Pasuruan saja. Ada lahan kosong, saya tanami, saya beri bibit pohon. Selain meminimalisir penggundulan hutan, saya juga ingin lingkungan di sekitar saya ini hijau dan asri," jelasnya, dalam Tribunnews Surabaya.

Dari apa yang dikerjakan, Sugiarto mengaku kerap mendapat ucapan yang menyakiti hati dari orang di sekitarnya, namun hal tersebut dianggap sebagai angin lalu dan justru dijadikan motivasi untuk semakin gencar melakukan apa yang menurutnya benar.

Belum lagi, terungkap bahwa Sugiarto kerap mengalami berbagai hal tidak menyenangkan di mana pohon yang telah ia tanam sering kali dirusak, dan lahan yang sedang dihijaukan kembali digarap menjadi kebun palawija.

"Banyak yang mengatakan, kamu iku ngapain saja. Sudah lulus SMA kerja saja, daripada melakukan hal yang tidak penting dan tidak menghasilkan. Keliling, menanam pohon, tidak ada manfaatnya. Cibirannya saat itu sangat menyayat dan melukai hati saya," tambahnya.

Perjuangan Da'im Melestarikan Hutan di Lereng Gunung Lemongan yang Rawan Bencana

Manfaat yang mulai disadari masyarakat

Sementara itu, pada saat yang bersamaan diketahui bahwa desa tempat Sugiarto tinggal padahal sedang berada di masa krisis air bersih. Perhutani meriwayatkan bahwa pada kisaran tahun di atas, warga Desa Cowek harus berjalan tiga kilometer ke daerah yang berbatasan dengan Kabupaten Malang.

Jika tidak mau berjalan jauh, warga dari enam dusun di Desa Cowek harus siap berebut air. Sangat ironis karena pasalnya dua kilometer dari desa itu terdapat kawasan Kebun Raya Purwodadi. Namun nyatanya hal tersebut terjadi karena kawasan hutan di sekitar Desa Cowek kala itu telah beralih menjadi kebun palawija yang sebelumnya dimaksud.

Berkat upaya penghijauan dan penanaman pohon yang dilakukan Sugiarto, mata air kembali mengaliri Desa Cowek dan mampu menghidupi sekitar 1.209 KK di wilayah tersebut.

Bahkan saat musim kemarau panjang tiba, ketika wilayah lainnya mengalami kekeringan dan mengandalkan air bersih dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, desa tempat tinggal Sugiarto bebas dari krisis air karena setidaknya mata air masih mencukupi untuk kebutuhan minum dan sanitasi.

Setelah kejadian tersebut, banyak masyarakat yang mulai menyadari manfaat dari apa yang telah dilakukan oleh Sugiarto. Banyak warga sekitar yang kemudian mulai memahami pentingnya menanam pohon.

Sebagian masyarakat yang dulu abai dan menganggap usaha Sugiarto sia-sia, mulai ikut peduli terhadap lingkungan. Bahkan beberapa dusun mulai kompak ikut mendukung usaha Sugiarto dalam melakukan penghijauan.

Setelah mendapat respons baik dari masyarakat, Sugiarto semakin membesarkan target dalam melakukan penghijauan. Dirinya mulai membuat peta lokasi secara sistematis, dibantu dengan beberapa masyarakat yang ikut melakukan aksi penanaman setelah dibagikan bibit tanaman keras gratis, kegiatan menanam pohon lalu berkembang ke pinggir jalan dan halaman sekolah.

Lama-kelamaan masyarakat semakin merasakan sendiri dampak kerja mereka, hutan yang memiliki wilayah sekira 950 hektare disebut kembali pulih, kemudian sebanyak empat belas mata air yang tadinya kering kembali hidup. Lebih dari itu, penghijauan yang dilakukan nyatanya memunculkan sejumlah mata air baru hingga total ada sekitar 21 titik mata air.

Alamnya Kaya Mineral, Masyarakat Indonesia Minum dari Mata Air

Perjuangan membuahkan hasil

Berkat usaha keras dan upaya tak kenal lelah yang dilakukan, Sugiarto kerap diganjar sejumlah penghargaan terkait kepeduliannya terhadap lingkungan. Mulai dari peringkat satu penghargaan Wiraprestasi tingkat Jatim tahun 1999, juara dua pelestari fungsi lingkungan tingkat Jatim tahun 2010, dan salah satu sosok terbaik dalam program Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM) tingkat nasional tahun 2014.

Penghargaan terbesar lainnya, Sugiarto menjadi salah satu pegiat lingkungan yang mendapatkan Penghargaan Kalpataru kategori perintis lingkungan pada tahun 2011, yang diberikan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kala itu.

Tak ingin apa yang dilakukannya sia-sia, Sugiarto juga mendirikan yayasan Sanggar Indonesia Hijau (SI HIJAU) yang sudah mengantongi SK resmi dari Kementerian Kehutanan sejak tahun 2015, sebagai lembaga yang memberikan pendidikan tentang pembibitan tanaman, konservasi tanah, air, dan wawasan lingkungan.

Hingga saat ini, yayasan tersebut diketahui masih aktif melakukan sejumlah aksi penanaman pohon terlebih dalam menampung kegiatan serupa, yang ingin dilakukan oleh sejumlah pihak baik dalam bentuk pemerintah maupun swasta.

Dengan segala perjuangan yang dilakukan mulai dari dipandang sebelah mata oleh masyarakat sampai akhirnya dihormati berkat perubahan besar yang telah dilakukan, saat ini Sugiarto diketahui telah mendapat dukungan dan dipercaya untuk menjadi anggota DPRD Kabupaten Pasuruan.

Namun, posisi tersebut tidak lantas membuat Sugiarto lupa diri. Justru dengan kekuatan yang dimiliki, ia kian gencar melakukan berbagai upaya penghijauan dan aksi ke berbagai lapisan masyarakat terutama anak-anak sekolah.

Hal tersebut dilakukan karena Sugiarto sadar, bahwa penghijauan adalah pekerjaan jangka panjang yang hasilnya baru bisa dinikmati dalam hitungan tahun. Menurutnya menghijaukan hutan tidak hanya butuh kesabaran, melainkan juga usaha yang terus berkesinambungan.

“Penghijauan tidak hanya menanam bibit saja, tetapi juga menjaganya agar tumbuh menjadi pohon besar dan mencegah penebangan,” ujar Sugiarto.

“Hutan harus kita lestarikan dan kita jaga keseimbangannya dengan alam, agar dapat dinikmati anak cucu kita,” tambahnya.

Lestarikan Lingkungan dengan Cara Illegal Planting, Hery Heriyanto: Tanam Saja Dulu

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini