Perjuangan Da'im Melestarikan Hutan di Lereng Gunung Lemongan yang Rawan Bencana

Perjuangan Da'im Melestarikan Hutan di Lereng Gunung Lemongan yang Rawan Bencana
info gambar utama

Agenda melawan perubahan iklim yang digaungkan melalui Konferensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim atau COP yang ke-26 masih hangat untuk menjadi topik perbincangan. Setelah memaparkan segala strategi, janji hingga regulasi yang kelak akan dijalankan, rasanya agenda melawan perubahan iklim global seharusnya bukan agenda yang harus tamat jika segala komitmen tersebut nantinya tercapai.

Salah satu komitmen yang disoroti oleh para petinggi dunia adalah mengakhiri deforestasi di tahun 2030. Sejumlah negara yang menyatakan akan meneken kesepakatan di COP26, antara lain Kanada, Brasil, Rusia, dan Indonesia. Negara tadi mencakup sekitar 85 persen hutan dunia.

BBC News Indonesia memaparkan bahwa sebagian dari dana yang dihimpun dalam KTT Perubahan Iklim tersebut nantinya akan diberikan ke negara-negara berkembang untuk memulihkan lahan yang rusak, mengatasi kebakaran hutan, dan mendukung eksistensi masyarakat adat.

Saptoyo dan Lia Putrinda, Pengawal Kelestarian Alam Pesisir Pantai Sendangbiru

Konservasi hutan secara mandiri oleh seorang warga

Pohon bambu, salah satu pohon yang Da'im tanam selain pohon Pinang | Foto: ShutterStock/Anhar Fauzi
info gambar

Di saat komitmen dari berbagai negara untuk menghentikan deforestasi masih terasa segar, salah satu warga di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur justru sudah memulai aksi konservasi hutan sejak 25 tahun lalu, jauh sebelum komitmen mencegah naiknya suhu global hingga 1,5 derajat celsius dideklarasikan.

Adalah Da'im, warga Dusun Berca, Desa Sumberpetung, Kecamatan Ranuyoso telah melakukan konservasi hutan di lereng Gunung Lemongan, Kabupaten Lumajang sejak 1996.

Bermula dari rasa prihatin akan kondisi hutan di lereng tersebut, yakni rawan dan kerap terjadi bencana seperti kebakaran hutan di musim kemarau dan longsor serta banjir di musim penghujan, Da'im akhirnya mencoba untuk menanam berbagai jenis tanaman serta pohon.

Mulanya, Da'im memilih untuk menanam tanaman buah seperti sirsak dan alpukat, namun hal tersebut kurang cocok dikarenakan tanaman buah sering dirusak oleh binatang liar seperti monyet, kijang, hingga babi.

Pria yang lahir pada 1961 ini pun mencoba untuk mengganti tanaman buah dengan menanam pohon pinang. Bibit pohon pinang mudah Da'im temui di sekitar rumahnya, di mana bibit pohon pinang yang jatuh secara liar Da'im bibitkan di halaman rumah. Setelah 2 bulan, bibit pohon pinang tersebut dibawa ke lereng gunung dan ditanam secara teratur dan berseri.

“Saya memilih tanaman pinang karena selama ini kalau musim kemarau sering ada kebakaran hutan, kalau musim hujan sering banjir. Tanaman pinang yang tinggi biasanya tak mudah terbakar karena daunnya di atas. Sedangkan akarnya sangat kuat untuk menahan longsor dan banjir,” kata Da'im, dalam Jatimtimes.com (18/6/2021).

Penanaman pohon pinang untuk mengatasi kerusakan hutan di lereng Gunung Lemongan pun kini nampak hasilnya. Setelah 25 tahun, kini manfaat yang berhasil dipetik dari penanaman pohon pinang dapat dirasakan oleh masyarakat sekitar.

Sutari dan BSTC Malang Patroli Tiap Malam Demi Menyelamatkan Penyu di Pantai Bajulmati

Manfaat dan harapan

Gambaran pohon pinang | Foto: ShutterStock/ Wirestock Creators
info gambar

Terdapat lebih dari 10.000 pohon pinang yang berusia lebih dari 20 tahun di hutan lereng Gunung Lemongan. Secara ekologis, tentu saja hal tersebut membawa dampak positif yakni meminimalisir kemungkinan kebakaran hutan karena daun-daun pohon pinang berada di ketinggian sulit terjangkau api jika nantinya terjadi kebakaran.

Selain itu, akar pohon pinang yang menguat di dalam tanah dapat menahan laju erosi ketika musim penghujan bahkan memunculkan sumber mata air baru di beberapa titik.

Tidak sebatas menanam dan merawat hutan di lereng Gunung Lemongan, Da’im juga membuka akses jalan sepanjang 3 kilometer menggunakan batu cadas guna memudahkan masyarakat dalam memanfaatkan hutan secara bijak.

Manfaat yang timbul juga menjalar ke sektor ekonomi, di mana pelepah dan buah pinang menjadi salah satu komoditi yang diperjualbelikan oleh masyarakat sekitar. Da'im pun tidak mempermasalahkan hal tersebut, asal tidak merusak ekosistem yang telah ada dan berusaha dirawat sebaik mungkin.

Da’im berharap, apa yang telah ia mulai dapat diteruskan oleh masyarakat dan generasi selanjutnya sehingga manfaatnya dapat dirasakan bersama pula.

"Saya tidak ingin anak cucu saya merasakan banjir dan kebakaran, harapan terbesar saya, yang betul-betul saya saya harapkan, saya kira ada munculnya sumber mata air disini," ujar Da’im penuh harap, mengutip Ngopibareng.id (16/6).

Konferensi Perubahan Iklim Butuh Aksi Nyata, Bukan Sekadar Klaim Semata

Nominator peraih penghargaan Kalpataru 2021

Simbol Pohon Kalpataru | Foto: Creative Graphic Design Company in India
info gambar

Aksi konservasi hutan secara mandiri yang dilakukan oleh Da'im pun akhirnya terdengar hingga jajaran pemerintah. Dikutip dari Dinas Lingkungan Hidup Lumajang, Da’im kembali terpilih sebagai Calon Penerima Penghargaan Pelestari Fungsi Lingkungan Hidup (PFLH) Tahun 2021 mengingat pada tahun sebelumnya, Da’im tidak lolos tahap penilaian.

Hal ini dilakukan setelah Da’im diusulkan sebagai Calon Penerima Penghargaan Kalpataru Tahun 2021 kategori Perintis Lingkungan. Menurut DLH Lumajang, Da’im sendiri berpeluang besar memperoleh penghargaan PFLH atas kiprahnya dalam menjaga kelestarian hutan selama ini.

Meski demikian, saat pengumuman peraih Penghargaan Kalpataru 2021, Da'im belum bisa berada dalam daftar pemenang tersebut. Dari 8 nominator Perintis Lingkungan, nama Da'im tidak masuk dalam daftar pemenang meski Da'im telah menghutankan kembali areal seluas 14 hektare (ha) selama 25 tahun dengan lebih dari 10.000 pohon pinang jawa dan 2.000 tanaman buah-buahan serta bambu.

Namun, hal tersebut bukan menjadi alasan bagi Da'im untuk berhenti melakukan konservasi hutan secara mandiri, karena pada dasarnya Da'im melakukan konservasi hutan karena keyakinannya sendiri bukan untuk penghargaan atau sebuah piala semata.

Penghargaan Kalpataru merupakan bentuk apresiasi tertinggi yang diberikan kepada para pejuang lingkungan hidup dan kehutanan. Penghargaan Kalpataru memiliki 4 kategori, yaitu:

  • Perintis Lingkungan,
  • Pengabdi Lingkungan,
  • Penyelamat Lingkungan, dan
  • Pembina Lingkungan.

Tahun 2021 terdapat 21 Nominasi Penerima Penghargaan Kalpataru yang dipilih melalui Sidang Dewan Pertimbangan Penghargaan Kalpataru, yang terdiri dari:

  • 8 nominasi Perintis Lingkungan,
  • 3 nominasi Pengabdi Lingkungan,
  • 6 nominasi Penyelamat Lingkungan, dan
  • 4 nominasi Pembina Lingkungan.

Da'im seharusnya menjadi contoh bagi para pembuat kebijakan dalam melayangkan segala komitmennya untuk melawan perubahan iklim global. Tanpa menghadiri konferensi, tanpa menggaungkan Zero Emission, Da'im mulai melangkah lebih dulu untuk memperbaiki lingkungan atas dasar rasa miris melihat keadaan.

Da'im dan para penggiat lingkungan lainnya merupakan sosok pahlawan yang berjuang melawan eksploitasi alam. Mereka bergerak merangkul dan merawat alam selayaknya makhluk hidup yang berdampingan dan saling membutuhkan.

Jadi Pahlawan Lingkungan dan Sosial, Ojol Ini Raih ''Mitra Juara Gojek 2021''

Catatan:

Artikel di atas merupakan persembahan GNFI untuk memperingati Hari Pahlawan, 10 November 2021.

Mereka adalah segelintir dari banyak pahlawan lingkungan yang mampu membangkitkan asa, mendobrak pesimistis, dan bermanfaat bagi sekitarnya.

Selamat Hari Pahlawan, angkat topi untuk ''Para Penabur Lingkungan''.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Widhi Luthfi lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Widhi Luthfi.

WL
IA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini