Saptoyo dan Lia Putrinda, Pengawal Kelestarian Alam Pesisir Pantai Sendangbiru

Saptoyo dan Lia Putrinda, Pengawal Kelestarian Alam Pesisir Pantai Sendangbiru
info gambar utama

Bicara soal perubahan iklim, setiap orang baik dari kalangan masyarakat awam sekalipun pasti sudah terlewat paham akan ancaman apa saja yang akan ditimbulkan dari situasi krisis tersebut.

Di antara sekian banyak dampak yang terjadi dan seakan sudah membayang-bayangi di depan mata, satu yang paling mendapat perhatian besar yaitu fenomena pemanasan suhu bumi yang memunculkan dampak berkelanjutan berupa naiknya permukaan air laut yang dikhawatirkan akan menutup serta menenggelamkan sejumlah wilayah daratan di berbagai belahan dunia.

Bukan lagi sebatas teori yang didasarkan perhitungan atau prediksi ilmiah semata, situasi konkret nyatanya sudah dipertontonkan ke mata dunia lewat gelaran Konferensi Perubahan Iklim PBB yang berlangsung selama kurang lebih 12 hari kemarin, yaitu COP26.

Ketika hampir seluruh pemimpin negara partisipan menyampaikan pidato mengenai permasalahan, upaya, hingga keberhasilan penanganan krisis iklim versi negaranya masing-masing dalam sebuah ruangan megah di Kota Glasgow, Skotlandia, rupanya hal berbeda dilakukan oleh Simon Kofe, selaku Perdana Menteri Menteri Kehakiman, Komunikasi, dan Luar Negeri Tuvalu.

Seakan memberikan tamparan nyata, Simon menyuguhkan bukti dari fenomena krisis iklim yang menimpa negaranya dengan menyampaikan pidato di tengah hamparan air laut yang diketahui tengah menenggelamkan sedikit wilayah pesisir Tuvalu.

“Di Tuvalu kami hidup dalam realita perubahan iklim berupa kenaikan permukaan air laut seperti halnya anda menyaksikan saya hari ini di COP26, kami tidak bisa sebatas menunggu berbagai pidato saat permukaan air laut di sekeliling kami naik di sepanjang waktu, kami harus mengambil tindakan alternatif yang nyata mulai hari ini untuk mengamankan hari esok,” ujar Simon.

Yang terjadi di Tuvalu hanya satu contoh yang terekspos secara nyata dan kebetulan dapat disaksikan ribuan pasang mata partisipan COP26 bahkan dunia setelah video pidato Simon terpublikasi di berbagai media internasional.

Nyatanya, masih banyak kondisi ancaman serupa yang terjadi di berbagai belahan dunia lainnya bahkan negara Indonesia sendiri.

Bukan hanya berupa kenaikan permukaan air laut semata, melainkan menghilangnya populasi sumber daya alam bahari yang menjadi sumber utama dalam penghidupan masyarakat pesisir, seperti halnya yang terjadi di Pantai Sendangbiru, Malang pada masa lampau, setidaknya sampai muncul dua sosok kunci yang membawa kebangkitan akan kelestarian alam wilayah tersebut.

Tolak Pertambangan Bijih Besi, Maria Taramen: Selamatkan Pulau Bangka!

Fenomena kehilangan hasil tangkapan ikan yang awalnya melimpah

Adalah Saptoyo, pria yang hidup di wilayah pesisir Pantai Sendangbiru, tepatnya di Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Saptoyo yang tumbuh di wilayah tersebut, besar dan menghabiskan masa kecil di pesisir Pantai Sendangbiru dengan kekayaan alam bahari yang melimpah ruah, namun semuanya berubah beberapa tahun semenjak dirinya berkeluarga dan menjalani kehidupan sebagai nelayan.

Sempat merasakan hasil tangkapan ikan yang melimpah selama menjadi nelayan, namun keadaan nyatanya mulai memperihatinkan pada beberapa waktu tertentu.

Mengutip Media Indonesia, diketahui bahwa semuanya dimulai sejak tahun 1998 di mana hutan yang berada di tanah kelahirannya yaitu Tambakrejo mengalami kerusakan yang fatal diakibatkan banyaknya masyarakat yang membuka lahan untuk digarap menjadi lahan pertanian.

Puncaknya di tahun 2004, hutan basah yang berdekatan dengan wilayah laut tersebut mulai memberikan dampak lanjutan berupa pengurangan drastis sumber daya alam berupa perikanan yang keberadaannya sangat penting bagi para nelayan di desa sekitar.

Bukan hanya itu, berbagai masalah lingkungan juga semakin banyak muncul mulai dari kesulitan air, tsunami, kerusakan terumbu karang, hancurnya hutan mangrove, dan masih banyak lagi.

Sederet peristiwa di atas pada akhirnya membuat Saptoyo menyadari bahwa alam di tanah kelahirannya sudah tidak sehat dan menimbulkan sejumlah permasalahan, yang seakan menjadi peringatan dan akibat dari perbuatan yang telah dilakukan oleh masyarakat di wilayah tersebut.

Pernah Disangka Gila, Sadiman Berhasil Ubah Lahan Gersang Menjadi Hijau

Bergandengan dengan sang putri memulihkan tanah kelahiran

Tidak ingin kerusakan terus belanjut, Saptoyo akhirnya melakukan sebuah aksi dan langkah nyata dalam memulihkan lingkungan tempat tinggalnya agar dapat kembali lestari seperti sedia kala.

Semuanya dimulai ketika Saptoyo memutuskan untuk berhenti menjadi nelayan dan mendedikasikan hidupnya untuk menanami sepanjang kawasan pesisir wilayah Tambakrejo dengan bibit mangrove yang ia beli sendiri.

Menginisiasi dan mengajak warga setempat untuk ikut melakukan apa yang sedang ia upayakan nyatanya bukanlah hal yang mudah, butuh waktu kurang lebih dari 10 tahun bagi Saptoyo, tepatnya mulai tahun 2004 hingga hingga kisaran 2014 untuk menyadarkan masyarakat di sekitarnya bahwa apa yang ia lakukan adalah hal yang benar dan memang sangat diperlukan untuk menjaga masa depan dan kelangsungan hidup mereka.

Beruntung, dalam kurun waktu tersebut pula Saptoyo dapat bertahan menjalankan impian akan pelestarian lingkungan dengan mendapat dukungan dari anak perempuannya, yaitu Lia Putrinda.

Sang putri yang diketahui sempat berkuliah hingga semester tiga diketahui memutuskan menghentikan pendidikannya dan lebih memilih mendedikasikan hidup untuk memulihkan kelestarian wilayah Tambakrejo serta berbagai kawasan pantai di wilayah tersebut.

"Saya memutuskan untuk banting setir, saya kembali ke desa dan tidak bisa disambi kalau bahasa Jawa itu. Tidak bisa pulang-pergi dan harus penuh waktu karena memang ini tidak main-main dan akhirnya saya memutuskan pulang ke desa dan melengkapi sudut-sudut yang belum tergarap. Jadi, kerjanya bukan kerja keras, melainkan kerja cerdas," ujar Lia.

Bersamaan dengan berbagai upaya berupa pemulihan kembali kawasan hutan mangrove dan penanaman kembali terumbu karang, mereka akhirnya mengembangkan bentuk organisasi wisata pendidikan mangrove.

Diketahui bahwa pada tahun 2018 lalu sudah ada seluas 73 hektare hutan mangrove yang sudah tersebar luas di wilayah Tambakrejo. untuk hutan mangrove yang sudah dipulihkan ada di lahan seluas 20 hektare dan masih memiliki target sebanyak 117 hektare untuk diperbaiki.

Sementara itu pada pertengahan tahun 2021 lalu, diketahui bahwa Yayasan Bhakti Alam Sendangbiru telah menerima Surat Keputusan Izin Pemanfaatan Hutan Perhutanan Sosial (IPHPS) atas lahan hutan seluas 826 hektare.

Perjuangan Raymundus Remang dan Warga Sui Utik Hidup Mempertahankan Hutan Adat

Ditangkap polisi atas tuduhan menggarap hutan milik negara tanpa izin

Sebagaimana niat mulia yang tidak selalu berjalan dengan mulus, siapa sangka bahwa tujuan pelestarian yang mereka lakukan ternyata harus melalui peristiswa penangkapan oleh pihak kepolisian pada tahun 2015.

Di tahun tersebut, Saptoyo, Lia, dan salah satu warga yang sedang menanam mangrove dituduh menggarap lahan pada hutan milik pemerintah yaitu Perum Perhutani tanpa izin. Akibatnya, mereka bertiga digiring ke kantor polisi dan ditahan selama kurang lebih dua hari.

“Saat itu saldo organisasi Rp75 juta, ada uang tunai Rp5 juta. Semua uang disita polisi,” kenang Saptoyo, kepada Mongabay Indonesia.

Setelah melalui berbagai mediasi dan perkara yang tidak dilanjutkan, Saptoyo beserta putri dan rekannya bebas. Sejak saat itu, Saptoyo lalu mendirikan Yayasan Bhakti Alam Sendangbiru yang kemudian menjalin kerja sama dengan Perum Perhutani dalam mengelola kawasan wisata di kawasan tersebut.

“Cita-cita saya, hidup bersama alam. Bagaimana manusia membangun harmoni dengan alam. Tanpa merusak,” tambah Saptoyo.

Sutari dan BSTC Malang Patroli Tiap Malam Demi Menyelamatkan Penyu di Pantai Bajulmati

Pengembangan kawasan ekowisata yang memukau

Seiring berjalannya waktu, Yayasan yang tadinya hanya diperuntukkan dalam memulihkan kembali lingkungan di seluruh wilayah Tambakrejo pada akhirnya berkembang menjadi pengelolaan kawasan ekowisata yang dinamai Clungup Mangrove Conservation (CMC) Tiga Warna.

Dalam perjalanannya, merasa sang anak sudah cukup matang dalam melakukan berbagai upaya pelestarian dan telah melalui berbagai situasi pasang surut dalam memperjuangkan pemulihan lingkungan tanah kelahirannya, Saptoyo memercayakan koordinasi yayasan dan pengelolaan kawasan wisata secara penuh kepada putrinya itu.

Bicara mengenai ekowisata yang dikembangkan, menariknya Lia bersama tim dalam yayasan--yang ia dan ayahnya bangun--telah menciptakan kawasan wisata yang tetap memperhatikan keseimbangan alam lewat sejumlah ketentuan.

Lebih detail, tidak seperti kawasan ekowisata pada umumnya, pihak pengelola CMC diketahui menerapkan sistem reservasi atau pemesanan kepada setiap wisatawan yang ingin berkunjung. Hal tersebut dilakukan demi membatasi akses manusia secara langsung yang dapat memengaruhi keberlangsungan ekosistem di kawasan ekowisata CMC.

Selain itu, pada beberapa cakupan destinasi tertentu seperti Pantai Gatra, Pantai Tiga Warna, dan kegiatan wisata berupa snorkeling, beberapa harus dilakukan di bawah pengawasan pemandu wisata.

Pihaknya juga menerapkan kebijakan berupa penutupan objek wisata setiap hari Kamis. Setelah ditelusuri, hal tersebut ternyata dilakukan karena setiap kesempatan tersebut pihak pengelola dan warga setempat melakukan kerja bakti rutin dan pemeliharaan kembali lingkungan serta kawasan wisata setelah beberapa kali dikunjungi oleh berbagai wisatawan.

CMC
info gambar

Hal tersebut tentu merupakan sesuatu yang memukau, mengingat jika selama ini tidak banyak destinasi wisata bahkan untuk kategori ekowisata sekalipun yang berani menerapkan kebijakan ketat sedemikian rupa demi tujuan keuntungan semata.

Deretan langkah nyata dan aksi yang Lia lakukan dalam menjaga kelestarian berupa penanaman serta pemeliharaan hutan mangrove, dan pembudidayaan kembali terumbu karang pada akhirnya menuntun dirinya pada berbagai keberhasilan membanggakan dalam upaya pelestarian lingkungan.

Melansir Women’s Earth Alliance, Lia diketahui telah dinobatkan sebagai Pemuda Pelopor untuk kategori Sumber Daya Alam, dan menjadi hakim Pemuda Pelopor pada tahun 2017 di bawah Kementerian Pemuda (Kemenpora).

Tak berhenti sampai disitu, dirinya juga didaulat sebagai salah satu dari 72 Ikon Berprestasi Indonesia untuk kategori wirausaha sosial, berbagai pencapaian tersebut nyatanya dapat diraih berkat prinsip yang ia pegang teguh dalam melestarikan lingkungan tempat tinggalnya.

“Apabila pantai menyuguhkan keindahan, maka manusia harus memberikan kepedulian," pungkas Lia.

Opung Putra Rusmedia, Perempuan Pelindung Hutan Adat dari Kerakusan Korporasi

Catatan:

Artikel di atas merupakan persembahan GNFI untuk memperingati Hari Pahlawan, 10 November 2021.

Mereka adalah segelintir dari banyak pahlawan lingkungan yang mampu membangkitkan asa, mendobrak pesimistis, dan bermanfaat bagi sekitarnya.

Selamat Hari Pahlawan, angkat topi untuk ''Para Penabur Lingkungan''.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini