Pernah Disangka Gila, Sadiman Berhasil Ubah Lahan Gersang Menjadi Hijau

Pernah Disangka Gila, Sadiman Berhasil Ubah Lahan Gersang Menjadi Hijau
info gambar utama

Lebih dari 100 pemimpin dunia, meneken perjanjian pada pertemuan puncak Konferensi Tingkat Tinggi atau KTT COP26 yang membahas tentang perubahan iklim di Glasgow, Skotlandia (2/11/2021). Negara-negara yang terlibat seperti Kanada, Brazil, Rusia, China, Indonesia, Kongo, Amerika Serikat, dan Inggris, merupakan negara yang memiliki 85 persen hutan dunia.

Dikabarkan Suara, komitmen dari negara-negara ini akan disokong dengan dana sebesar 19,2 miliar dolar, berasal dari perusahaan swasta dan dari anggaran negara-negara yang terlibat. Nantinya sejumlah inisiatif tambahan akan dilakukan oleh pemerintah dan swasta guna membantu pencapaian tujuan 2030 bebas deforestasi.

Pimpinan RI Berkeliling Temui Sejumlah Pemimpin Negara, Hasilkan Kesepakatan Apa Saja?

Kegiatan KTT COP26 ini juga diramaikan oleh aksi demonstrasi dari aktivis pemuda untuk memprotes kurangnya tindakan dari pemimpin dunia atas perubahan iklim. Demonstrasi ini berlangsung selama dua hari, termasuk pawai ribuan orang pada Jumat 5 November, waktu setempat.

VOA Indonesia menulis, aksi ini dipimpin oleh Greta Thunbreg yang menyoroti keterputusan antara laju penurunan emisi glasial dan keadaan darurat iklim yang sedang berlangsung di dunia. Greta pada aksinya juga menyindir para pemimpin dunia yang terlibat dalam KTT COP26 hanya berpura-pura untuk mengubah masa depan.

"COP26 sejauh ini sama seperti KTT COP lainnya dan tidak membawa kita ke mana-mana," kata gadis berumur 18 tahun ini.

"Di dalam COP26 hanya ada politisi dan orang-orang yang berkuasa yang berpura-pura menganggap serius masa depan kita. Perubahan tidak akan datang dari dalam sana," sindirnya di hadapan ribuan pengunjuk rasa.

Aksi nyata pahlawan penghijauan dari Wonogiri

Saat pemimpin dunia perlu meneken perjanjian untuk melestarikan lingkungan. Nan jauh dari Glasgow, seorang pria paruh baya masih menyingsingkan lengannya untuk terlibat langsung dalam perbaikan lingkungan.

Dialah Sadiman, sosoknya bahkan kini dikenal sebagai pahlawan penghijauan. Dirinya gigih menanam pohon di kawasan perbukitan tandus di wilayah Bukit Gendol dan Bukit Ampyangan, yang merupakan lereng Gunung Lawu, Jawa Tengah (Jateng).

Padahal, pria berumur 67 tahun ini hanyalah seorang warga biasa yang tinggal di rumah berukuran 9x6 meter dengan beralaskan tanah. Wajahnya pun sudah terlihat sepuh, gigi-giginya sudah banyak yang rontok, tetapi semangatnya masih berkobar yang terlihat dari matanya.

Yang istimewa dari Sadiman adalah pengabdiannya kepada lingkungan. Sejak 1996 dirinya berusaha memulihkan ekosistem hutan. Pria bertubuh kecil ini berperan merawat puluhan ribu pohon yang merupakan pengikat air bagi kehidupan warga desa.

Mengutip Detikcom, insiatif awal Sadiman untuk bergerak memperbaiki lingkungan karena resah melihat kerusakan di Gunung Lawu. Dirinya gelisah melihat banyaknya penebangan hutan dan penjarahan yang terjadi di sekitar gunung itu.

Sejak anak-anak, dirinya masih bisa menikmati sumber air melimpah yang berasal dari dua bukit itu. Namun, sumber air itu kemudian mulai menghilang akibat penjarahan kayu-kayu hutan untuk dijadikan bahan bangunan serta dijual.

Pria berpenampilan sederhana ini juga menceritakan bahwa puncak kerusakan hutan terjadi pada 1964, di mana terjadi kebakaran besar akibat aksi penebangan hutan. Seluruh tanaman hutan hangus terbakar, sementara itu kondisi hutan pun dibiarkan gundul.

Penanaman Ribuan Pohon di Puncak Bogor

Dengan penebangan hutan ini desa tempat tinggalnya pun sering mengalami kekeringan, dan banjir. Pihak pemerintah melalui Perhutani sendiri telah mengeluarkan kebijakan untuk menghijaukan kembali wilayah tersebut.

Perhutani saat itu menanam pohon-pohon pinus dan membuat wilayah itu menjadi hutan produktif. Selama itu pulalah, lelaki tua ini terlibat menjadi penyadap getah pinus.

Namun dirinya melihat, program penanaman pohon pinus ini ternyata tidak mengubah apa-apa. Pasalnya kemampuan pohon pinus untuk mengikat air sangat minim.

"...Jika penghujan sering banjir, jika kemarau tetap saja kami kekurangan air. Setelah itu sejak tahun 1996 saya putuskan untuk menanam pohon beringin di lokasi-lokasi yang tidak ada tanamannya. Saya minta izin penjaga hutan, ternyata diperbolehkan," beber lelaki yang tinggal di Dusun Dali, Desa Geneng, Bulukerto, Wonogiri, Jateng, ini.

Setelah mendapatkan izin, dirinya kemudian melakukan aksinya tanpa bayaran dan tidak mengharapkan imbalan. Bahkan ia harus menjual kambingnya untuk menanam bibit pohon.

Pernah disangka gila oleh masyarakat

Istri Sadiman ternyata pernah memprotes keras karena uang yang seharusnya untuk keperluan keluarga justru digunakan menanam bibit pohon beragam jenis. Tetapi dirinya tetap ngotot menanam, salah satunya menaman pohon beringin.

Beringin memang memiliki kelebihan sebagai tanaman yang mampu mencegah erosi. Selain itu, pohon ini juga mampu menyerap panas, memperkuat struktur tanah, mengurangi petir, dan juga bisa menjadi tempat penampungan air.

Bibit beringin pun tergolong murah walaupun perawatannya cukup merepotkan. Oleh karenanya pemilihan bibit beringin oleh Sadiman, awalnya tidak didukung oleh warga.

Pria kelahiran 4 Februari 1954 ini mengungkapkan saat itu warga bahkan menyebutnya sudah gila. Tetapi dirinya tetap fokus untuk menaman pohon beringin dari satu bibit ke bibit yang lain.

"Orang-orang mengejek saya karena membawa bibit pohon beringin ke desa, mereka resah karena percaya ada makhluk halus di pohon-pohon itu," ujar pria yang disapa 'Mbah' oleh warga setempat dikabarkan Sariagri.

Bukan hanya dihina, ada beberapa orang merusak pohon yang ditanam Sadiman. Pasalnya pohon ini dianggap telah mengganggu akses jalan serta menghalangi tanaman rumput warga.

Penghijauan Kampung dan Kebiasaan Berkebun di Jakarta

Namun pada setiap halangan, Sadiman selalu hadapi dengan tabah. Setiap hari dirinya terus menanam pohon jenis beringin dan ficus. Berkat perjuangannya itu, kini sudah ada 11.000 batang pohon yang berhasil dia tanam di lahan seluas 250 hektare.

Tanaman beringin akarnya menjulur panjang sedangkan ficus yang melebar luas berhasil membantu menahan air tanah dan mencegah erosi. Selain itu tanah yang dahulunya tandus dan gersang, sekarang telah mampu menyimpan air.

Tentunya dengan kondisi ini, membuat mata air bisa disalurkan ke rumah warga dan dimanfaatkan sebagai lahan pertanian. Bahkan ketika musim kemarau, desa tempat tinggal Sadiman kini bebas dari krisis air.

"Dahulu, saya dianggap gila. Ketika (masyarakat) yang lain menanam tanaman pangan, saya malah menanam pohon beringin. Tetapi sekarang, apa yang saya tanam itu bisa menghasilkan air untuk warga dan udara menjadi sejuk,” tuturnya, menukil Republika.

Dirinya sendiri cukup senang karena pekerjaannya selama ini bisa bermamfaat untuk warga desanya, terutama petani. Pasalnya di wilayahnya kini, petani dapat memanen hasil sawah dua hingga tiga kali karena sumber air cukup melimpah.

“Saya berharap masyarakat di sini bisa hidup sejahtera dan hidup bahagia. Jangan membakar hutan terus menerus," pesan pria yang hanya bersekolah hingga jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) ini.

Mendapat banyak penghargaan

Sadiman kini dianggap sebagai simbol pahlawan akibat jerih payahnya itu. Bahkan, sedikitnya 3.000 jiwa bisa menikmati air bersih yang mengalir dari Hutan Gendol. Sementara itu, deretan pipa-pipa paralon juga dimanfaatkan untuk mengalirkan mata air ke perkampungan warga.

Penduduk bisa memamfaatkan air bersih ini secara gratis, mereka hanya cukup menyediakan dana swadaya untuk membuat instalasi pipa. Semua hal ini membuat Sadiman banyak mendapatkan penghargaan.

Seperti apresiasi dari negara setelah Presiden Jokowi memberikan penghargaan kalpataru kepada Sadiman pada 2016 lalu. Selain itu dari Kick Andy Heroes Award 2016, Penjaga Bumi yang Penuh Kebijakan dari BNPB tahun 2019, dan Tokoh Penyelamat Lingkungan dari Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Bank BRI juga memberikan hadiah berupa uang sebesar Rp100 juta sebagai bentuk apresiasi atas kepedulian Sadiman terhadap lingkungan. BRI mendukung penuh gerakan menaman dan merawat pohon yang dilakukan Sadiman.

Kampung Kumuh dan Langganan Banjir Itu Kini Hijau dan Kaya Sumber Air

Sampai Jauh menulis, pemerintah daerah juga memberikan apresiasi besar atas usaha Sadiman. Bahkan sebagai bentuk penghargaan, mereka memberi nama salah satu kawasan agrowisata dengan nama Hutan Sadiman, yang berada di Desa Geneng, Kecamatan Bulukerto, Wonogiri.

Diceritakan oleh Merdeka, Sadiman juga punya mimpi supaya Gunung Gendol bisa menjadi objek wisata di Wonogiri. Kepada pemerintah daerah, dirinya juga berharap bisa menyediakan biaya untuk membeli pipa paralon.

Dia berkeinginan untuk membuat sebuah kolam pemandian untuk wisatawan. Pipa paralon juga diharapkan mampu mengalirkan air dari mata air dan meneruskan ke bak-bak penampungan di setiap rumah.

Kini pria dengan dua anak ini berharap upayanya menjaga lingkungan terus dilakukan oleh generasi penerus. Karena itulah selama kegiatan menanam pohon, dirinya sering mengajak anak-anak muda.

Bahkan ada pula yang masih berstatus pelajar Sekolah Dasar (SD) yang ikut dalam kegiatan lingkungan. Dirinya pun berharap ada yang meneruskan pekerjaanya mengingat usianya yang sudah semakin tua.

"Adik-adik, ayo kita menanam beringin teruskan perjuanganku. Jangan menyepelekan pohon beringin karena banyak manfaatnya, terutama untuk menyelamatkan dunia dan anak cucu kita,” ajak Sadiman kepada anak-anak SD, dikutip dari kanal YouTube Bumiku Satu.

Catatan:

Artikel di atas merupakan persembahan GNFI untuk memperingati Hari Pahlawan, 10 November 2021.

Mereka adalah segelintir dari banyak pahlawan lingkungan yang mampu membangkitkan asa, mendobrak pesimistis, dan bermanfaat bagi sekitarnya.

Selamat Hari Pahlawan, angkat topi untuk ''Para Penabur Lingkungan''.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini