Museum Aceh: Wisata Sejarah Etnografi Budaya dan Sejarah Aceh Era Hindia-Belanda

Museum Aceh: Wisata Sejarah Etnografi Budaya dan Sejarah Aceh Era Hindia-Belanda
info gambar utama

Museum Aceh merupakan museum yang terletak di Jalan Sultan Mahmudsyah No 10, Peuniti, Kec. Baiturrahman, Kota Banda Aceh. Salah satu wisata Aceh yang wajib Kawan kunjungi saat berkunjung ke kota Serambi Mekah ini.

Saat berwisata sejarah di sini, Kawan akan mengetahui sejarah etnografi dari bangsa asli Aceh di era Hindia-Belanda. Di museum ini, terdapat berbagai koleksi pernak pernik peninggalan masyarakat Aceh dahulu yang terbagi dari tiga klasifikasi besar, yaitu koleksi anorganik, organik dan campuran.

Sejarah Museum Negeri Aceh

museum negeri aceh
info gambar

Tahukah Kawan, bahwa Museum Aceh merupakan salah satu museum tertua yang ada di Indonesia. Ini terlihat dari usianya yang sudah mencapai lebih dari 100 tahun. Dahulunya, museum ini hanyalah sebuah paviliun yang berbentuk Rumoh Aceh dan pernah mengikuti pameran De Koloniale Tentoosteling di Semarang diselenggarakan oleh Belanda pada 13 Agustus - 15 November 1914.

Pada pameran ini Paviliun Aceh dinobatkan sebagai yang terbaik dan meraih empat medali emas, 11 perak dan tiga perunggu. Tergugah dengan prestasi tersebut Stammeshaus mengusulkan untuk membawa paviliun kembali ke Aceh dan dijadikan sebagai Museum. Awalnya, museum ini berada di sisi timur Lapangan Blang Padang, Kutaraja yang kini Banda Aceh.

Bahkan bagian dari sejarah Aceh saat tsunami melanda, museum ini tidak mengalami kerusakan hanya saja ada beberapa karyawan museum yang menjadi korban.

Baca juga: Snouck Hurgronje dan Siasat untuk Meredam Perlawanan di Perang Aceh

Berdirinya Museum Aceh

museum negeri aceh
info gambar

Kemudian, zaman pemerintahan Hindia Belanda paviliun ini diresmikan menjadi museum yaitu pada 31 Juli 1915 oleh Gubernur Sipil dan Militer Belanda di Aceh yaitu Jenderal H.N.A Swart. Museum ini memamerkan koleksi barang dari sebagian besar milik FW Stammeshaus yang merupakan kurator pertama Museum Aceh. Selebihnya, merupakan benda-benda pusaka dari pembesar Aceh.

Setelah Indonesia merdeka, wisata Aceh satu secara bergantian dikelola oleh Pemerintah Daerah Tk.II Banda Aceh (1945-1969). Pada tahun 1969, Museum Aceh kembali dipindahkan ke sisi Jalan SA Mahmudsyah atas prakarsa Panglima Kodam I, Brigjen Teuku Hamzah Bendahara dan pengelolanya diserahkan ke Badan Pembina Rumpun Iskandar Muda (Baperis).

Museum Aceh ini kemudian direhabilitasi setelah lima tahun kemudian, selain itu bangunan yang berdiri di atas lahan 10.800 meter persegi ini juga dibangun berbagai gedung seperti gedung pameran tetap, gedung pertemuan, gedung pameran temporer, perpustakaan, laboratorium, gedung gallery dan rumah dinas.

Kemudian pada tahun 1975, museum ini dikelola oleh Departemen Kebudayaan dan Pendidikan. Pada 28 Mei 1979, statusnya berubah menjadi Museum Negeri Aceh yang diresmikan oleh Daod Yoesoef, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu. Setelah 20 tahun berlalu, barulah kewenangan penyelenggaraan wisata Aceh ini diserahkan ke Pemerintah Daerah Aceh. Hingga saat ini, pengelolaan Museum Aceh berasa pada Pemerintah Daerah Aceh.

Baca juga: Masjid Baiturrahman Aceh: Arsitektur Saksi Sejarah Pembakaran Belanda hingga Tsunami

Isi dan Koleksi Museum Aceh

museum negeri aceh
info gambar

Tercatat dari tahun 2019, Museum Aceh memiliki 5.328 koleksi benda budaya dari berbagai jenis dan 12.445 buku pengetahuan umum dari berbagai judul.

Selain itu terdapat berbagai macam koleksi peninggalan warga Aceh pada zaman dahulu, seperti jenis perkakas, peralatan pertanian, peralatan rumah tangga, senjata tradisional hingga pakaian tradisional bisa ditemui di sini.

Di museum ini, Kawan juga bisa menemukan berbagai koleksi manuskrip kuno, dokumentasi foto sejarah dan maket dari perkembangan Masjid Raya Baiturrahman Aceh. Silakan berkunjung ke museum ini setiap hari kecuali hari Jumat mulai pukul 09.00 - 16.00 WIB.

Baca juga: Museum Tsunami Aceh: Objek Wisata Pengingat Gempa dan Tsunami 2004

Referensi: acehprov.go.id | www.museumaceh.com

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Deka Noverma lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Deka Noverma.

DN
RP
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini