Situs Wura-Wari: Memori Ketika Pulau Jawa Menjelma Lautan Darah

Situs Wura-Wari: Memori Ketika Pulau Jawa Menjelma Lautan Darah
info gambar utama

Desa Ngloram, Kecamatan Cepu terdapat sebuah situs yang oleh penduduk setempat disebut sebagai Punden Nglinggo dan Punden Ngloram. Situs ini berukuran sekitar 100 x 100 m yang berada pada lahan kosong yang terletak di pinggiran pemukiman penduduk.

Dinukil dari website Kabupaten Blora, situs ini terdapat tumpukan batu yang berundak, di gundukan teratas terdapat makam yang tidak diketahui namanya. Penduduk setempat menyebutnya dengan Punden Nglinggo.

Di bawahnya terdapat tumpukan bata yang membatasi punden tersebut dengan bidang kosong. Di sebelah kiri agak ke bawah terdapat gundukan bata yang disebut dengan Punden Ngloram.

Riwayat Blora: Wilayah Bersejarah yang Masyarakatnya Dekat dengan Hutan

Sejak tahun 2000, telah dikumpulkan serpihan batu bata kuno berukuran 20 x 30 cm dengan tebal sekitar 4 cm, serpihan keramik, serta serpihan perunggu yang kini penemuan tersebut sudah disimpan di Museum Mahameru.

Temuan situs ini memperkuat isi Prasasti Pucangan bertarikh Saka 963 (1941/1042 M) yang pernah diuraikan ahli huruf kuno (epigraf) Boechori dari Universitas Indonesia. Dirinya menyebutkan sosok Haji Wura-Wari yang muncul dari Desa Ngolram.

Kisah pertempuran

Arkeolog dari Jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono menjelaskan bahwa sosok Haji Wura-Wari adalah penguasa bawahan (vasal) yang pada tahun 1017 Masehi menyerang Kerajaan Mataram Hindu.

Ketika itu Kerajaan Mataram Hindu berpusat di daerah yang sekarang dikenal dengan Maospati, Magetan, Jawa Tengah. Serangan tersebut dilakukan ketika pesta pernikahan Putri Raja Dharmawamsa Tguh dengan Airlangga.

“Membalas dendam atas kematian istri, mertua, dan kerabatnya, Airlangga yang lolos dari penyerangan dan tinggal di Wanagiri (di daerah perbatasan Jombang-Lamongan), akhirnya balik menghancurkan Haji Wura-Wari,” paparnya yang dimuat Kompas.

Bangunan Jinem: Lumbung Padi Simbol Kesejahteraan Petani Blora

Dwi Cahyono menyebutkan sebelumnya Haji Wura-Wari melakukan serangan terlebih dahulu kepada Airlangga, sehingga dia terpaksa mengungsi dan keluar dari keratonnya di Wattan Mas (sekarang Kecamatan Ngoro, Pasuruan, Jawa Timur).

Serangan balik Airlangga yang ketika itu sudah dinobatkan menggantikan Dharmawamsa Tguh, ditulis dalam Prasasti Pucangan (abad XI) yang terjadi pada tahun 1032 M. Serangan itu pula yang memperkuat dugaan batu bata kuno berserakan di situs tersebut.

Permukiman padat

Dwi menyatakan situs yang ditemukan berada di tengah tegalan, di tepi persawahan, berupa tumpukan batu bata kuno berlumut yang kini dijadikan areal pemakaman. Di sana beberapa pohon berdiameter hampir satu meter berdiri kokoh.

“Semula saya ragu ada temuan penting di Ngloram. Tetapi, temuan arkeologis ini sangat menyakinkan bahwa di sini merupakan keraton Wura-Wari dan permukiman cukup padat saat itu,” kata Dwi.

Sementara itu Ketua Yayasan Mahameru Blora, Gatot Pranoto menjelaskan bahwa dalam penelusuran sejak tahun 2000, telah mengumpulkan serpihan batu bata kuno berukuran 20 x 30 sentimeter dengan tebal sekitar 4 cm.

Samin Surosentiko, Kearifan Ekologi dan Perlawanan Tanpa Kekerasan

“Di Museum Mahameru kini ada lebih dari 600 serpihan artefak yang sebagian kami peroleh dari hibah masyarakat Blora dan sekitarnya,” paparnya.

Tetapi warga Desa Ngloram sendiri tidak paham dengan sejarah bangunan tersebut. Hal yang sama juga terjadi bagi warga Dusun Nglinggo. Mereka mengatakan tidak mengetahui keberadaan situs Wura-Wari di sekitarnya.

Masyarakat hanya mengenal candi tersebut sebagai pemakaman keramat. Karena itu, setiap tiga kali setahun diadakan sedekah bumi di sana. Beberapa warga yang ditemui tak jauh dari lokasi situs pun hanya menemukan serpihan tulang belulang.

“Banyak tulang-tulang sama tengkorak, tapi buat apa dikumpulkan kan ngga ada manfaatnya,” kata Nurhadi, warga Nglinggo.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini