Bangunan Jinem: Lumbung Padi Simbol Kesejahteraan Petani Blora

Bangunan Jinem: Lumbung Padi Simbol Kesejahteraan Petani Blora
info gambar utama

Kabupaten Blora merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang warganya masih menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian dan kehutanan. Sebagai penyangga sektor pertanian komoditas utama berupa padi dan jagung.

Bagi seorang petani lumbung menjadi bagian yang sangat penting dalam sistem pertanian mereka. Masyarakat Blora menyebut istilah lumbung dengan jinem. Jinem merupakan bangunan yang terbuat dari kayu jati.

Jinem memiliki ukuran 12x24 m2, ada jinem yang berhiaskan ukir-ukiran berupa bunga-bungaan, sulur-suluran, maupun motif geometris yang melambangkan kesuburan. Ada jinem yang memiliki emperan dan ada pula jinem yang memiliki jendela dan pintu.

TaniHub dan Deretan Startup Pertanian Indonesia yang Berhasil Raih Investasi Miliaran

“Di masa lalu, petani pemilik jinem dianggap petani kaya, karena dia memiliki lahan pertanian yang luas, sehingga jinem berfungsi sebagai tempat menyimpan padi ketika masa panen datang,” tulis Christriyati Ariani dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta dalam Jinem: Lumbung Padi Petani Blora.

Christriyati menyebut sejarah keberadaan jinem bagi masyarakat Blora sangat sulit untuk dilacak. Bahkan saat ini tidak semua petani Blora memiliki jinem, sedangkan yang memiliki jinem pun tidak bisa menginformasikan soal sejarahnya.

Sebagian besar petani, lanjutnya, hanya menggunakan jinem karena pernah ada serta memberi manfaat dalam kehidupan petani Blora. Jinem ini berfungsi sebagai tempat menyimpan hasil bumi, seperti padi dan jagung agar bisa bertahan lama.

Bentuk jinem

Bentuk jinem di Blora berupa bangunan panggung dengan atap kampung dan letaknya terpisah dengan bangunan rumah. Walaupun terpisah dengan rumah induk, namun letaknya biasanya hanya sekitar 25 meter saja.

Bangunan-bangunan jinem terdiri dari bangunan inti berbentuk persegi panjang, serta serambi atau emperan, memiliki pintu, berjendela atau tidak berjendela, serta bertangga sekitar 5-6 buah anak tangga. Struktur bangunan jinem antara lain:

  1. Berkolong dengan ketinggian dari tanah sekitar 1 meter agar terhindar dari basahnya tanah ketika hujan
  2. Bentuknya secara umum berupa kampung
  3. Sangat sederhana namun bisa memuat padi dan hasil bumi yang banyak
  4. Berukuran sekitar 12 x 5 meter
  5. Lantai atau alas berupa papan
  6. Tinggi dari tanah hingga atap sekitar 6 meter
  7. 7 Beratapkan genting atau seng
  8. Dinding beranyamkan bambu (gedeg) atau bisa juga dari kayu atau papan, setiap tiang penyangga bertumpu kepada umpak dengan harapan jinem bisa bertahan lama.
Inovasi Berkelanjutan dalam Upaya Menjaga Ketahanan Pangan di Tengah Pandemi

Kegunaan jendela adalah sebagai ventilasi atau pergantian udara, dan tidak setiap jendela harus dibuka. Selain berfungsi sebagai ventilasi pintu dan jendela, juga berfungsi sebagai penghubung antara jinem dengan rumah induk terutama dapur.

Bagi petani Blora, jinem tidak mempunyai fungsi lain kecuali sebagai tempat penyimpanan padi dan palawija (terutama jagung). Bentuk jinem yang sangat sederhana tersebut memang tidak memungkinan untuk difungsikan untuk hal yang lain.

Namun bila bentuk jinem memiliki emperan, bisa digunakan sebagai tempat beristirahat dan bermusyawarah berkaitan dengan dunia pertanian. Sementara itu tidak semua jinem memiliki ragam hias tertentu.

Hanya ada beberapa jinem yang memiliki ragam hias ukiran dengan motif flora (bunga-bungaan) yang tersusun secara geometris. Ukiran terletak di bagian atas daun pintu. Motif bunga atau flora telah dikenal sejak masa prasejarah.

“Motif flora berupa sulur-suluran melambangkan kesuburan dan kemakmuran, sehingga sangat berhubungan dengan fungsi jinem sebagai tempat penyimpanan padi dan hasil bumi,” sahutnya.

Jinem yang telah langka

Ditulis olehnya, nasib jinem sebagai tempat penyimpanan padi atau hasil bumi lainnya mengalami nasib yang memprihatinkan pada masa kini. Dengan derasnya arus teknologi, keberadaannya mulai terpinggirkan.

Dijelaskannya ada beberapa faktor lain yang menyebabkan jinem mulai hilang dari tradisi petani Blora. Hal yang pertama adalah perubahan pola kehidupan dari keluarga luas menjadi keluarga inti.

“Hadirnya keluarga ini tentu saja tidak akan membutuhkan persediaan makanan dalam jumlah besar. Andaikata dia akan membutuhkan tempat penyimpanan padi atau hasil bumi lainnya, tentu akan membangun jinem-jinem kecil sesuai dengan kebutuhan keluarga kecilnya,” tulis Christriyati.

Kedua, lanjutnya berlakunya adum waris atau warisan tanah yang berlaku di masyarakat petani Blora. Konsep warisan di masyarakat petani Blora menganut pembagian 2:1 yang berarti anak laki-laki menerima dua dan anak perempuan mendapat satu bagian.

Anak Muda Mau Keren? Jadilah Petani

Adanya pembagian lahan yang tidak luas, sehingga produksi padi dan hasil pertanian yang dihasilkan tentu menjadi lebih sedikit. Akhirnya padi dan hasil pertanian lain bisa disimpan dalam karung-karung plastik dan diletakkan di rumah saja.

Selanjutnya yang ketiga adalah struktur kehidupan petani Blora adalah ngijon atau mengambil uang terlebih dahulu. Sehingga petani Blora sudah menjual padi atau hasil bumi lainnya sebelum masa panen.

“Sehingga petani tidak lagi membutuhkan peran dan fungsi jinem sebagai tempat penyimpanan padi,” jelasnya.

Namun kini, tidak berfungsinya jinem sebagai lumbung padi, malah dialihfungsikan sebagai barang antik, Banyak kolektor barang antik yang berburu jinem sehingga jauh-jauh pergi ke Kota Blora.

Jinem yang berubah jadi barang antik sangat beralasan karena terbuat dari kayu jati pilihan. Kadangkala di bagian pintu dan jendela penuh dengan ukiran, sehingga sangat menarik. Apalagi jinem yang dibuat sejak puluhan atau ratusan tahun lalu.

Para kolektor jinem ini biasanya berasal dari Bali. Kini jinem sudah beralih fungsi menjadi gazebo yang menghiasi hotel-hotel berbintang di Bali atau berubah menjadi cottage tempat penginapan yang bernilai artistik lengkap dengan pembagian ruang-ruangnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini